My Little Wife

My Little Wife
35. Antara hancur dan dendam


__ADS_3

"Ka-Kamu ke-ke-keguguran." Jawab Kenzo ketika Vanes menanyakan kondisinya. "Bayi kita telah tiada."


"Enggak! Kamu pasti bohong, Kak! Katakan yang sebenarnya!" Vanes menangis. Kenzo segera memeluknya takut Vanes akan berbuat nekat.


Dylan dan Tasya memandang Vanes prihatin. Kenzo tidak memperbolehkan Hana untuk masuk. Jadi, Hana menatapnya dari luar. Tidak bisa masuk ke dalam.


"Anakku.." Rintih Vanes pilu.


Kenzo ikut menangis melihat istrinya menangis. Vanes tak kuat mendengar kabar itu. Rasanya dia sudah gagal menjadi seorang ibu.


Tasya yang dapat merasakan apa yang di rasakan oleh Vanes segera menghampiri Vanes yang berada di pelukan Kenzo.


"Sayang, kamu yang sabar ya? Ini ujian dari yang di atas."


Vanes melepaskan pelukannya dari Kenzo. Kini, dia menatap nyalang Tasya yang berdiri di sebelah kirinya.


"Sabar? Mama bilang sabar? Good. Aku kehilangan bayi yang selama ini ku impikan dengan Kak Kenzo, Ma! Aku keguguran juga karena anak yang Mama angkat! Orang asing itu!" Bentak Vanes.


Tasya menangis. Perasaanya mengatakan jika Vanes sekarang membencinya. Tak ada kelembutan di sikap Vanes.


Dylan hendak ikut bicara, tapi Vanes sudah mengangkat tangannya. Mengisyaratkan agar Dylan tidak mengucapkan sepatah kata pun.


"Aku belum selesai bicara, Pa." Vanes mengingatkan. "Aku selama ini diam ketika Papa dan Mama mementingkan Hana, aku diam. Tapi, Hana sudah kelewatan, Ma. Terserah kalian berdua mau apa, aku akan membalas Hana. Maaf, Ma, Pa, kalian berdua tolong keluar dari sini."


"Vanessa.." Kenzo mengingatkan.


"Keluar!" Suruh Vanes.


Hati Vanes sakit saat Tasya masih saja membela Hana. Padahal, yang terjadi pada Vanes adalah ulah Hana. Hancur. Itulah yang di rasakannya. Dan Vanes akan membalas dendam.


***


Merenung di kolam renang adalah hal yang paling nyaman di lakukan oleh Vanes. Rasanya, beban yang selama ini di alaminya ikut hanyut dalam air kolam yang tenang ini.


"Nyonya, ada Nona Nesya di luar." Kata Sari sambil menghampiri Vanes.


"Suruh masuk."


"Baik, Nyonya."


Setelah itu, tak selang beberapa menit, Nesya masuk ke dalam. Duduk di bangku yang di sediakan dekat kolam renang.


"Oi Vanes!" Panggil Nesya.


Vanes membuka matanya. "Oi Nesya!"


"Ada apa nyuruh kesini?" Tanya Nesya. Kali ini dia duduk di pinggiran kolam agar bisa dekat dengan Vanes.


"Mau minta tolong. Ini sebuah rencana balas dendam. Tapi, kali ini balas dendam kita lebih besar dari dulu saat kita balas dendam ke Jihan." Kata Vanes. Tatapannya tenang seperti air.

__ADS_1


Nesya menatap Vanes. "Balas dendam? Ke siapa?"


"Hana."


"Hana?" Nesy terlonjak. "Kenapa Hana? Dia buat masalah apa sama kamu sampai kamu berniat balas dendam? Pasti masalah besar."


Vanes berdehem mengiyakan.


"Masalah apa?"


Vanes menghela nafas. "Hana penyebab aku keguguran."


Mata Nesya melebar. "Keguguran? Jadi, kamu hamil, Van?"


Vanes mengangguk. "Dulu. Lima hari yang lalu aku keguguran. Lupakan."


"Maaf. Aku turut berduka, Van."


"Iya."


"Jadi kita pikirkan sebuah rencana untuk dendam kali ini. Sebuah dendam besar. Bukan dendam abal-abal kali ini. Oh. Aku tahu!" Pekik Nesya.


Vanes menyudahi aksi berendamnya. Dia naik ke pinggiran kolam sambil melilitkan handuk di tubuhnya.


"Apa?" Tanya Vanes.


Nesya membisikkan sesuatu ke telinga Vanes. Setelah mendengarnya, tiba-tiba Vanes tertawa. Tawanya terdengar jahat.


"Aku tahu siapa yang kamu butuhkan, Nes."


***


"Vanessa? Kamu mau kemana, sayang?" Tanya Kenzo ketika Vanes menuruni tangga dengan buru-buru.


"Aku izin keluar, kak. Aku harus ketemu sama seseorang." Kata Vanes sambil melangkah keluar dari rumah.


"Tunggu!" Tegas Kenzo. "Dengan pakaian ketat seperti itu, kamu mau kemana? Katakan?"


Vanes mulai jengah. "Sudah ku bilang, aku mau ketemu seseorang, kak. Aku ada urusan. Mungkin pulang larut."


"Ini sudah jam sembilan malam, Vanessa!" Tegas Kenzo.


"Aku buru-buru."


Vanes kemudian keluar dari rumah. Mengeluarkan mobil andalannya dari garasi kemudian melesat. Kenzo yang hendak mengejarnya sadar, jika sejauh apapun mengejarnya, dia tak akan bisa. Mobil yang di kendarai oleh Vanes adalah mobil tercepat yang di Indonesia hanya beberapa orang saja yang punya. Atau mungkin hanya dia?


***


Suasana club begitu ramai. Sebenarnya, Vanes enggan untuk masuk ke dalam tempat terkutuk ini. Dengan terpaksa dia masuk ke dalam tempat hina ini.

__ADS_1


"Dimana kedua bos kalian?" Tanya Vanes kepada bartender. "Cepat panggilkan dia!"


Bartender itu mengangguk kemudian pergi untuk memanggilkan kedua bosnya. Vanes melihat sekeliling, banyak orang mabuk disini. Tak hanya itu, mereka juga berbuat adegan yang tak patut di lihat secara umum disini.


"Nona? Anda di suruh masuk ke dalam ruangan pribadi mereka. Mari, saya antarkan."


Vanes mengangguk. Dia berjalan bersebelahan dengan bartender yang tak dia ketahui namanya.


"Saya permisi. Silahkan masuk ke dalam." Kata Bartender tersebut saat sudah sampai di ruangan yang mereka tuju.


Vanes membuka pintu itu secara perlahan. Terdengar suara tawa di dalam sana. Ketika Vanes membuka pintu, mereka terdiam.


"Apa kabar kalian berdua? Dani? Tirta? Club yang bagus." Vanes tersenyum arogan.


Baik Tirta ataupun Dani langsung berlari ke arah Vanes dan memeluknya secara bergantian. Nesya yang memakai dres ketat nan minim ikut menghampiri mereka sambil berjalan menyilangkan tangannya di dada.


"Sudah lama tak bertemu." Ucap Dani sambil membawa Vanes untuk duduk di sofa yang sudah tersedia.


"Iya. Aku tak menyangka jika kalian berdua benar-benar buat club." Kata Vanes.


"Kami berdua juga tak menyangka jika kamu sudah menikah sejak kelas sembilan SMP." Kata Dani.


Vanes melirik Nesya yang tersenyum ke arahnya. "Sudahlah. Aku ingin meminta tolong ke kalian tentang sebuah dendam."


"Tentu saja kita berdua selalu bersedia. Kamu tidak ingat dengan Jihan?" Dani tersenyum evil.


"Ini bukan dendam ke Jihan kan?" Tanya Tirta.


Nesya meneguk anggur yang di suguhkan oleh bartender club ini. "Bukan. Kita bertiga sudah kembali bersahabat dengan dia."


"Dan untuk dendam kali ini kita berdua tidak membawa Jihan. Kalian tahu kan kenapa?" Timpal Vanes.


"Yeah. I know. Jihan beda." Balas Dani.


"Apa kabar dia? Rindunya aku dengan dia." Ucap Tirta.


"Kamu tidak pantas untuk Jihan yang alim itu."


Tirta hanya terkekeh pelan. "Aku ingin sekali menikahi Jihan. Sudah-sudah. Apa yang kamu inginkan dari kita berdua, Van?"


Vanes tersenyum tenang seperti yang di lakukan oleh Kenzo. Dia mengeluarkan sebuah foto dari tas mininya kemudian dia menyerahkan ke arah Tirta.


Tirta menerimanya. Smriknya keluar ketika melihat foto tersebut. Kemudian dia menunjukkannya ke Dani. Dani mengangguk sambil tersenyum jahat.


"Lumayan." Cetus Dani.


Nesya dan Vanes saling pandang sambil tersenyum bahagia.


"Bisa nih buat main. Udah lama nggak main, ya kan, Dan?" Seru Tirta.

__ADS_1


"Iya. Lumayan. Cuma-cuma."


"Ternyata kalian masih sama."


__ADS_2