
Happy reading♡
Tak terasa kini bayi bayi Ashel sudah berada di dunia kurang lebih satu bulan dua minggu. Kai dan Ling lebih kalem. Mereka menangis hanya saat lapar saja. Mereka tidak akan menangis meskipun popok mereka basah karena pipis.
Berbeda dengan Briell, gadis kecil itu selalu saja menangis. Briell selalu ingin dipangku oleh Kavin. Hanya mendengar suaranya saja Briell selalu menangis. Dan anehnya tangisannya akan mereda saat Kavin memangku anak itu.
Benar benar anak papi Kavin.
Saat ini Ashel sedang makan. Bukan makan berat tapi makan anggur kesukaannya. Beberapa hari yang lalu pesanannya dari Jepang datang. Japanesse shine muscat kesukaannya. Tak tanggung tanggung, satu keranjang penuh datang anggur itu ke rumahnya.
Semua ini karena ulah suaminya. Dia memiliki kenalan dan bisa dengan mudah membeli anggur sultan ini. Bahkan Kavin tidak pernah melihat label harganya. Ia tidak peduli soal harga.
"Mami," panggil Kavin. Pria itu duduk di sebelah istrinya. Dengan manja, pria itu menarik tangan istrinya dan memeluknya.
"Kenapa mas?" Tanya Ashel.
Kavin tersenyum misterius. "Udah empat puluh hari kan?" Tanya Kavin.
Uhukk.. uhuk..
Ashel tersedak anggur yang sedang ia makan karena ucapan suaminya ini. Urusan seperti ini saja suaminya langsung gecep.
"Ayoloh, udah janji," ucap Kavin.
"Iya mas. Tapi gimana baby's?" Tanya Ashel.
"Tenang, aku udah minta mama sama bunda tinggal disini beberapa hari. Mereka mengerti kok," ucap Kavin. Memang kemarin dia berkunjung ke rumah mamanya dan memberitahu maksudnya. Untungnya mamanya mengerti. Sedangkan bunda Anna, beliau diberitahu mama Sarah. Syukurlah kedua ibunya itu mengerti.
Wajar saja, sudah satu bulan lebih Kavin tidak memanjakan juniornya pada milik sang istri. Rasanya ia sangat tidak sabar sekali. Malam ini, akan menjadi malam bersejarah lagi untuknya.
"Kamar mereka belum disiapin mas. Nanti aja ya," ucap Ashel.
"Kata siapa? Aku udah bersihin semua kamar tamu di lantai satu. Bahkan aku juga udah siapin kasur buat baby's nanti sama mama sama bunda. Semuanya udah siap," ucap Kavin.
"Kapan kamu siapin itu semua? Niat banget ya," ucap Ashel.
__ADS_1
"Jelas aku niat lah sayang. Kan udah lama aku gak bikin kamu mendes*h sampe suara kamu serak paginya," ucap Kavin tersenyum menggoda.
Ashel melirik jam dinding. Baru pukul sepuluh pagi. Ia masih memiliki waktu beberapa jam lagi sebelum benar benar dihantam habis oleh milik suaminya. Ashel sebenarnya takut, tapi mau bagaimana lagi. Kasihan juga suaminya yang sudah berpuasa sebulan lebih.
"Kamu gak ke kantor?" Tanya Ashel.
"Enggak. Mau sama kamu seharian ini, lagi pula di kantor juga senggang gak ada pekerjaan. Mendingan aku disini aja sama kamu sama baby's," ucap Kavin.
"Gitu," ucap Ashel. Briella kembali menangis. Ashel pun memangku anak gadisnya itu dan menyusuinya. Briella sepertinya lapar.
"Sshhh, pelan pelan sayang," ucap Ashel. Put*ng miliknya dihisap dengan kuat.
"Sisain buat papi Briell, papi juga kan mau. Sebelum kamu kan papi duluan yang punya itu," ucap Kavin.
Ashel menyenggol bahu suaminya. Benar benar suami yang minta di jitak. Bisa bisanya Kavin berbicara seperti itu.
"Itu pangku Kai mas, siniin. Dia nangis tuh," ucap Ashel. Kavin pun menurut. Sedangkan Ashel mengeluarkan squishy kirinya. Kai dibantu papinya untuk minum asi maminya.
"Udah biarin aja mas, Kai sama Briell suka diem kok kalo lagi ngedot. Kamu coba lihat Ling, biasanya anak itu bangun tapi gak nangis," ucap Ashel.
"Dia kalem sayang. Beda sama abang sama adiknya," ucap Kavin. Pria itu memangku anak keduanya yang paling kalem.
"Mas, Ling nangis gak?" Tanya Ashel.
"Enggak, anak ini kalem kayak papinya," ucap Kavin.
Ashel mendelik mendengar ucapan suaminya ini. Iya kalem di depan orang lain, berbeda ketika di depannya. Sifat reognya akan keluar.
"Iya deh si paling kalem," ucap Ashel. Wanita itu perlahan menidurkan tubuh Kai diatas bantal tidurnya. Bayi itu sudah tertidur kembali.
"Siniin Ling, ambil nih anak kamu," ucap Ashel. Tiba tiba Briella menangis kencang membuat Ashel terkejut. Wanita itu kembali menenangkan Briella namun gadis kecil itu terus menangis.
"Stt, iya cantik iya. Kamu anaknya mami kok, anaknya papi juga," ucap Ashel. Briella perlahan menghentikan tangisnya dan perlahan memejamkan matanya.
Kavin tertawa pelan, "Makanya hati hati kalo bicara. Anak gadis kamu itu sensitif banget."
__ADS_1
"Iya, mami salah. Maafin deh ya. Tapi untungnya Kai enggak kebangun," ucap Ashel. Wanita itu memindahkan posisi Briella ke bagian kiri. Kavin juga memindahkan tubuh Ling ke bagian kanan Ashel dan mengambil Briella.
Ling pun meny*su pada maminya. Pria kecil itu dengan kalem menyed*t asi maminya. Satu tangannya menempel pada squishy Ashel. Pria kecil itu menatap ke arah maminya sembari meny*su.
"Kenapa Ling? Mami cantik ya?" Tanya Ashel. Ajaib, bayi bernama Ling itu menyunggingkan senyumnya.
"Lah, nyengir kamu Ling," ucap Kavin.
"Ling sayang, dengerin mami ya. Ling harus tumbuh jadi pria yang bertanggung jawab. Jagain adek kamu, Briella. Kamu sama Kai harus akur. Kalian berdua harus jaga adik perempuan kalian. Mami dan papi akan selalu bersama kalian," ucap Ashel.
"Yang, Briell bangun," ucap Kavin.
"Letakin ke samping Kai, mas. Nanti aku letakin Ling juga," ucap Ashel. Kavin menurut tanpa bertanya lagi. Ling juga sudah melepaskan asi maminya. Ketiga bayi itu diletakan bersama diatas bantal kasur milik mereka.
"Dengerin mami, kayaknya kalian bertiga emang terhubung satu sama lain ya? Mami bicara sama Ling tiba tiba kalian bangun semua. Untung gak nangis," ucap Ashel.
"Kalian bertiga adalah anugerah terindah yang diberikan tuhan untuk mami. Mami sangat menyayangi kalian melebihi nyawa mami. Kalian harus akur, Kai dan Ling, kalian harus menjaga adik kalian Briella. Kalian bertiga yang nantinya akan meneruskan perusahaan milik papi dan menghandel cafe milik mami. Ingat, kalian harus selalu rukun. Oke?" Ucap Ashel.
"Mereka pasti dengerin kamu yang. Orang dari dalam perut aja mereka lebih dengerin kamu dari pada aku," ucap Kavin.
"Kan anak aku," ucap Ashel.
"Anak kita, mami sayang," ucap Kavin. Pria itu pun bangun dari duduknya dan berjalan ke dapur.
"Kamu mau kemana?" Tanya Ashel.
"Ngecek bahan ke dapur," ucap Kavin.
"Bahan apa?"
"Telor ayam kampung, susu beruang, sama yang lainnya. Nanti malam kan mau tempur," ucap Kavin.
Tamatlah sudah riwayat Ashel.
__ADS_1
Tbc.
Mau scene Kavin sama Ashel brutal gak😭✊️