
Happy reading♡
Kavin sudah terbangun sejak tiga jam yang lalu. Ia terkejut saat tidak menemukan istrinya dimana pun. Ia bahkan bertelanjang dada saat mencari istrinya. Pintu kamar Rafello sudah di gedor namun disana juga tidak ada istrinya.
Bodohnya dia karena mengantuk jadi mengabaikan keinginan istrinya. Bahkan sekarang ia tidak tahu dimana keberadaan istrinya.
Kavin mengacak acak rambutnya kasar. Ia bingung harus mulai dari mana dulu untuk mencari keberadaan istrinya bahkan Ayu dan Fello juga sama kebingungannya.
Kavin sudah membaca isi pesan yang ditinggalkan istrinya pada ponselnya.
'Aku pergi nyari duda kaya. Jangan ganggu, kalo udah puas aku balik lagi sama kamu.'
Begitu kira kira isi pesan yang dikirimkan istrinya. Kavin sedang ketakutan saat ini. Takut apa yang diketik oleh istrinya ini benar benar kejadian.
Demi tuhan, Kavin akan membunuh pria yang dimaksud istrinya jika itu memang benar adanya.
Kavin sudah menyuruh bodyguard mencari keberadaan istrinya. Sedangkan ia diam di dalam kamar. Entah mengapa ia menjadi cengeng sekali apalagi saat teringat pesan singkat sialan itu.
Kavin menangis sampai sesenggukan. Air mata sialan, kenapa harus keluar terus menerus sih?
"Awas aja ya kamu, aku bikin kamu gak bisa jalan tahu rasa. Pokoknya setelah kamu lahiran kamu harus hamil lagi biar gak ada yang genit sama kamu," gumam Kavin. Ia memeluk bantal yang tadi ia gunakan untuk tidur. Dan berbicara pada bantal itu seolah itu adalah Ashel.
"Aku gak bakalan biarin hidup pria yang deket sama kamu lama. Aku bakalan akhirin hidup dia hari ini juga. Awas aja ya kamu," ucapnya lagi.
Sementara itu, Ashel baru saja sampai di resort. Ia mengucapkan terimakasih pada Apid dan mengambil semua jajanan yang ia beli. Ia juga sudah memberitahu Apid uang ganti bensinnya sudah ia transfer. Apid menawarkan diri untuk membantunya membawa jajanan itu ke dalam namun Ashel menolaknya.
Apid dan Ashel berpisah disana.
Kedua tangan Ashel penuh dengan tentengan keresek berisi jajanan. Bahkan ponsel yang ia bawa ia simpan di antara ketiaknya agar lebih memudahkannya.
Saat masuk ke dalam resort, suasananya sangat sepi. Apa mungkin mereka masih tertidur?
Ashel mendorong pintu kamarnya. Disana ia melihat suaminya sedang duduk diatas karpet yang ada di bawah sebelah ranjang.
Samar samar ia mendengar suara sesenggukan. Apa ada yang menangis? Ashel menyimpan keresek dan jajanan miliknya kemudian berjalan ke arah suaminya.
__ADS_1
"Mas," panggil Ashel.
Merasa namanya dipanggil, Kavin pun menolehkan kepalanya. Di sampingnya, berdiri seorang wanita yang ingin ia banting sekarang juga ke atas kasur empuk ini. Namun kasihan juga nanti dia kesakitan. Apalagi anak anaknya juga akan ikut kesakitan.
"Ayang," ucap Kavin purau.
"Kamu nangis?" Tanya Ashel speechless.
"Ayanggg," ucap Kavin. Ia berdiri dan memeluk istrinya. Bahkan Kavin kembali menangis dan mengeluarkan suara.
"Kamu kenapa nangis?" Tanya Ashel heran. Kavin tidak menjawabnya. Ia justru mengurai pelukannya dan duduk diatas kasur. Ia kemudian menarik tubuh istrinya dan memeluk perut buncitnya.
"Maafin papi ya? Papi gak nurutin mau kalian jadi mami kalian kabur ninggalin papi. Maafin papi," ucap Kavin disertai tangisan. Ia bahkan mencium juga memeluk anak anaknya juga istrinya.
"Hei, kamu kenapa?" Tanya Ashel. Ia menangkup wajah suaminya dengan kedua tangannya. Jari jempol Ashel bergerak untuk menghapus air mata suaminya.
"Kamu ninggalin aku nyari duda. Aku gak suka huaaaa," ucap Kavin. Pria itu kembali menangis.
Ashel benar benar dibuat speechless. Suaminya kini bertingkah seperti seorang bocah. Dan tunggu dulu, duda?
Astaga ternyata suaminya sudah membaca pesan singkatnya.
"Gatau, kamu bikin aku kepikiran sampe aku sakit hati. Pokoknya kamu harus aku hukum nanti kalo baby's udah lahir," ucap Kavin.
"Iya, iya. Nanti kamu hukum aku, sepuas yang kamu mau. Udah ya nangisnya," ucap Ashel. Ia masih berusaha membujuk suaminya agar berhenti menangis.
"Janji dulu," ucap Kavin. Ia menyodorkan jari kelingkingnya.
"Iya papi. Janji," ucap Ashel. Ia menerima sodoran kelingking itu dengan kelingkingnya.
Ashel pun duduk dan menghapus jejak air mata suaminya kemudian memeluknya. "Dasar bayi gede."
Kavin tidak menjawab ucapan istrinya. Ia justru lebih asik memeluk istrinya.
Tiba tiba terdengar bunyi perut yang keroncongan minta diisi. Ashel pun mengurai pelukannya dan melihat ke arah suaminya.
__ADS_1
"Lapar ya? Kenapa belum makan?" Tanya Ashel.
"Ya gimana mau makan, kamu pergi tanpa pamit. Ya aku khawatir lah. Mau nyariin tapi akunya malah nangis, kan malu," adu Kavin.
Ashel tersenyum kecil, ia pun menarik tangan suaminya dan membawa keresek belanjaanya ke ruang makan. Ia membawa mangkuk dan menuangkan bakso mang Mi'un. Ashel juga memanaskannya dulu sebelum di santap suaminya.
"Bakso?" Tanya Kavin. Ashel menganggukan kepalanya.
"Aku tadi pergi dianter keponakan. Dia anak adiknya bunda. Aku diajak keliling Ciwidey sekalian jajan bakso mang Mi'un. Soalnya pengen banget makan ini," ucap Ashel.
"Kenapa gak paksa bangun aku? Kenapa malah sama cowok lain?" Tanya Kavin.
"Gak usah cemburu. Kamu tajir sama ganteng, gak mungkin aku skip. Masalah kenapa gak paksa kamu? Mas, aku paksa kamu bahkan beberapa kali aku suruh kamu bangun tapi kamu gak bangun bangun. Dari pada aku kelamaan nungguin kamu bangun ya aku pergi aja," jelas Ashel.
"Ya udah iya maaf. Kan ngantuk, semalam hisap*n kamu brutal banget. Punya aku sampe ngilu, mana keluar terus lagi semalem. Ya paginya pasti cape," ucap Kavin.
"Salah sendiri nantangin. Giliran di jabanin malah keok," ucap Ashel. Ia mengambil cimol mozarella yang tadi ia beli. Kavin sendiri memakan bakso yang dibelikan istrinya.
"Aku kira kan kamu belum pro. Tahunya baru di pegang kamu aja punya aku udah tegang banget. Aku salah, kamu udah legend urusan ginian. Sayangnya aku gak bisa bales kamu, kasihan baby's," ucap Kavin.
"Dipikir nanti setelah lahiran kamu bakalan biarin aku gitu aja? Gak mungkin mas, aku tahu kamu kayak apa," sindir Ashel.
"Biarin kan udah aku bilang bakalan hukum kamu. Siap siap aja," ucap Kavin.
"Aku siap selalu mas. Mau main dimana lagi? Perasaan di semua tempat udah di coba sebelum aku hamil," ucap Ashel menantang.
Kavin tersenyum miring, "Di depan umum kan belum."
Plakk.
Dengan mulus tangan Ashel mendarat di bahu tangan suaminya. Ashel banyak banyak istrigfar dan mengelus dada mempunyai suami seperti ini.
...Si bayi yg anu*ya gede😭👍...
__ADS_1
Tbc.
RAMEIN HEH