
Happy reading♡
Ashel mengalihkan atensinya ke arah sumber suara. Disana ada Lupita sedang berdiri.
"Loh? Kok?" Ucap Ashel kebingungan.
"Ayang, mereka gak mungkin pisah. Bajing*n kayak Ardian gak mungkin lepasin tawanan dia," ucap Kavin.
"Ish, awas aja ya bang. Jangan harap aku mau bicara lagi sama abang," ucap Ashel. Ia pun kembali memakan cake-nya. Sementara Lupita yang kebingungan pun duduk di disamping Ardian. Ia melirik ke arah Ashel kemudian ke arah Ardian. Seolah bertanya ini ada apa. Namun Ardian hanya diam saja, tidak menjawab ucapan Lupita.
"Shel, ada apa?" Tanya Lupita.
"Kesel sama cowok kakak. Aku pokoknya gak bakalan nanya sama dia sebelum dia minta maaf dan aku maafin," ucap Ashel.
"Hah? Ini ada apa sih? Ar?" Tanya Lupi.
"Dia ngambek sama aku gara gara aku bilang kalo kamu gak datang kesini karena kamu datang ke acara perjodohan kamu. Riana minta aku pergi ke Boston sekarang," jelas Ardian.
"Riana? Siapa lagi?" Tanya Lupi.
"Ashel. Nama dia kan Brianna Sashel," ucap Ardian.
"Brianna Sashel Natapraja. Ucap lengkap Ar. Dia punya identitas," ucap Kavin.
"Iya."
"Shel, kamu jangan dengerin Ardian. Dia emang jadi pelawak terus akhir akhir ini. Tapi lawakannya garing. Aku emang di jodohin tapi aku gak mau datang, Ardian gak bolehin aku pergi kesana. Jadi dia bawa aku kesini," ucap Lupita.
"Gak tahu deh, aku bete," ucap Ashel.
"Ar, minta maaf sama adik kamu," pinta Lupi.
"Yaudah maafin abang dek. Janji gak gitu lagi, lagian kenapa kamu sampe semarah ini sih? Sesayang itu kamu sama Lupi?" Tanya Ardian.
"Ya iyalah," ucap Ashel. Ia menarik tangan Ardian sehingga mendekat ke arahnya. Ia pun membisikan sesuatu.
__ADS_1
"Abang udah coblos dia berkali kali. Kalo gak abang nikahin aku marah. Pokoknya aku bakalan laporin hal ini sama ayah bunda biar abang di hukum sama mereka-,"
"Sayang. Aku gak suka ya kamu sedekat itu sama cowok lain meskipun dia kakak kamu," ucap Kavin memotong ucapan Ashel. Ia melirik ke arah suaminyaa yang sedang menatap garang ke arahnya.
"Hehe, enggak kok yang," ucap Ashel. Ja mendorong tubuh Ardian cukup keras agar menjauh darinya. Beruntung Ardian selalu jaga jaga jadi ia tidak jatuh terhuyung.
"Jangan marah," ucap Ashel, namun Kavin hanya berbicara pada Briella. Mendadak ia dicueki.
"Ya udah deh kalo kamu ngambek mah, terserah," ucap Ashel. Ia pun berdiri dari duduknya dan pergi dari sana.
"Mami ngambek tuh Briell, seharusnya kan papi yang ngambek sama dia," ucap Kavin.
"Bek? Ami," ucap Briella.
"Heem, mami ngambek alamat papi gak dapet jatah," ucap Kavin. Sementara itu Ashel pergi mengambil Ling dan Kai. Mereka berdua sudah cukup lama tidak terlihat.
Ling terlihat menangis, entah kenapa bayi itu menangis. Ashel buru buru berjalan ke arah bayi dan mengambilnya.
"Amiii," panggil Ling sembari menangis.
"Iya sayang, ami disini," ucap Ashel. Ia memeluk tubuh kecil Ling.
"Baik nyonya," ucap suster Lizz dan Magi beserta suster Liz.
Ashel membawa mereka menuju ke meja Briella namun entah mengapa tangis Ling semakin kencang. Alhasil Ashel langsung membawanya menjauh dari acara resepsi. Ia membawa Ling ke salah satu kamar yang ada di lantai satu.
"Sus, kenapa Ling kenapa bisa nangis gini?" Tanya Ashel.
"Entahlah, tadi tuan muda sedang di pangku oleh ayah dari mempelai wanita. Tiba tiba saja dia menangis kencang dan tidak mau dipangku siapa siapa. Tuan muda hanya berdiri dan terus memanggil manggil anda, saat saya akan memanggil anda, tiba tiba anda datang," jelas suster Lee.
"Ling kenapa hm? Ada yang sakit?" Tanya Ashel. Bayi itu memeluk Ashel cukup erat. Wajahnya ia sembunyikan pada tubuh ibunya. Ia sama sekali tidak mau melepas pelukan itu.
Tiba tiba Kavin dan Briella datang. Kavin memberikan Briella pada suster Liz.
"Ling kenapa?" Tanya Kavin.
__ADS_1
"Gak tahu mas, aku pas samperin dia tiba tiba udah kayak gini. Nangis kenceng gak mau lepas," ucap Ashel.
"Ling sayang, sama papi mau?" Tanya Kavin.
Ling menggelengkan kepalanya dan terus memeluk maminya. Entah kenapa bayi ini tiba tiba saja menangis.
"Nyonya, apa mungkin tuan Ling sakit badan? Tadi, maaf sebelumnya. Orang yang gendong dia cukup tidak baik dan terus mencubit cubitnya," ucap suster Lee.
"Papa Ayu?" Tanya Ashel.
"Bukan, setelah di gendong oleh papa nona Ayu tuan muda di gendong seorang pria yang disebut adik sama papa nona Ayu," ucap suster Lee.
"Astaga, adiknya si Ayu rupanya. Kenapa dikasih sih?! Udah tahu tiap bayi yang sama dia berakhir kayak gini," ucap Ashel kesal. Ia pun mencoba melepaskan pelukan Ling dan membuka jas serta kemejanya.
"Yang, kenapa dibuka?" Tanya Kavin ia menahan tubuh Ling takutnya terjatuh.
"Aku cuma curiga aja," ucap Ashel. Ia pun melihat pergelangan tangan anaknya, disana ada sebuah lingkaran merah membiru di punggungnya juga cukup banyak. Ini seperti cubitan.
"Mas," ucap Ashel, wajahnya sudah khawatir dan akan menangis. Sedangkan Kavin mengepalkan tangannya. Ia hendak pergi namun Ashel menahannya.
"Jangan sekarang, ini acara penting buat Ayu sama Fello. Mending kamu suruh om Josh buat cek cctv semua ruangan yang tersorot di lantai satu. Kalo gak ada buktinya sama aja kita nuduh dia," ucap Ashel.
"Kamu bener. Kita pamit dari acara ini aja ya? Aku bakalan minta bunda buat bawa pulang Kai sama Briella. Kita ke rumah sakit buat cek keadaan Ling," ucap Kavin.
Ashel menganggukan kepalanya setuju. Meskipun hanya lebam saja, tapi ia takut jika anaknya ini lebih dari itu. Keselamatan anaknya jauh lebih penting sekarang.
"Suster, suster, kalian pulang ikut mobil ayah ya? Saya titip Briella sama Kai," ucap Ashel.
"Iya nyonya, kami akan menjaga tuan dan nona muda," ucap mereka.
"Nyonya, maafkan saya. Seharusnya tadi saya melarang dia, tapi saya takut dianggap terlalu berkuasa terhadap anak asuh saya," ucap suster Lee. Tentu saja ia menyesal karena hal ini. Bagaimana pun ia sudah menyayangi Ling seperti anaknya sendiri.
"Tidak apa apa sus. Terimakasih juga karena tadi sudah mau menghubungi saya, kalian pulang sekarang aja ya. Tapi saya minta susu formula milik Ling," ucap Ashel. Suster Lee mengangguk dan memberikan dot pada Ashel.
"Ling sayang, mimi dulu ya? Nanti tenggorokannya sakit," ucap Ashel. Bayi itu mengangguk dan mengambil dot miliknya. Namun ia tetap memeluk mamanya.
__ADS_1
"Dek, ayo kita ke rumah sakit," ucap Ardian.
Tbc.