
Happy reding♡
Ashel dan Apid terus melajukan perjalanan mereka menjelajahi jalanan luas yang ada di Ciwidey dan sekitarnya.
Apid sengaja membawa kakaknya ke sekitaran jalan yang banyak menjual jajanan jaman dulu. Tapi tujuan mereka adalah ke rumah produksi rambut nenek milik keluarga teman Apid.
Apid menghentikan motornya saat mereka sudah sampai di area rumah produksi. Di depan rumah ini, terpasang banner besar bertuliskan 'Rumah Produksi Rambut Opah' Ashel sedikit mengernyit. Kenapa harus opah?
"Santuy teh, temen Apid neneknya asli dari Malaysia jadi kakeknya sengaja kasih nama rambut opah buat mengenang istrinya yang sudah meninggal," jelas Apid saat melihat raut kebingungan dari wajah kakaknya.
"Pantesan," ucap Ashel.
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah produksi itu. Teman Apid bernama Ican langsung menyambut mereka dengan hangat.
Apid juga langsung mengutarakan maksud kedatangannya kesini apa dalam bahasa sunda. Setelah mendapatkan apa yang diingkan oleh kakaknya, Apid pun hendak membayarnya namun Ashel melarangnya. Ia akan membayarnya sendiri.
"Gak usah teh neng, ambil aja. Itung itung hadiah buat di si dede bayinya. Apid kan temen baik Ican," ucap Ican dengan logat khas sunda.
"Gak boleh gitu Can, ambil ya? Aku tahu maksud baik kamu dan aku sangat berterima kasih. Tapi aku gak bisa nerima barangnya kalo belum aku bayar," ucap Ashel.
"Neng geulis, terima aja atuh. Keluarga neng geulis teh udah baik sama keluarga Amah. Itung itung balas budi," ucap ibu Ican.
Ashel melirik ke arah Apid. Apid pun menganggukan kepalanya.
"Tapi gak papa bu? Kalian kan jualan. Kenapa Ashel kesini malah dikasih gratis?" Tanya Ashel.
"Gak papa neng. Ambil aja atuh, ini mah gak seberapa," ucapnya. Jika Ashel terus menolak, itu tidak baik juga. Katanya gak boleh menolak rezeki.
"Ya udah bu, Ashel terima rambut opah-nya. Makasih banyak," ucap Ashel.
"Alhamdulilah. Sama sama neng cantik. Lancar lancar ya nanti persalinannya," ucapnya.
"Aamiin bu. Makasih, kalo begitu Ashel sama Apid pamit dulu ya," ucap Ashel.
"Iya neng, Apid, kalian hati hati atuh ya di jalannya."
"Iya bu. Permisi."
Ashel dan Apid pun pergi dari rumah produksi itu setelah mendapatkan apa yang diinginkan oleh Ashel. Tak tanggung tanggung, mereka memberikan satu bal rambut nenek. Dalam satu bal itu berisi dua puluh potong rambut nenek.
"Kemana lagi? Bakso mang Mi'un?" Tanya Apid.
"Oh jelas lah Pid. Udah jam sepuluh juga nih," ucap Ashel.
"Oke bumil. Pegangan lo teh, nanti jatoh gue yang kena pukul suami bule lo," ucap Apid.
"Banyak songeh. Udah jalan," titah Ashel. Apid pun melajukan motornya menuju ke lapak jualan mang Mi'un. Tidak jauh namun memerlukan waktu sekitar dua puluh menit dari sana baru mereka bisa sampai ke lapak jualan bakso mang Mi'un.
"Punten mang, kumaha damang?" Tanya Ashel saat ia sudah berada di dekat gerobak bakso.
(permisi pak, bagaimana kabarnya?).
Ashel memang sengaja menggunakan bahasa sunda agar lebih enak saja berbicara dengan mang Mi'un.
__ADS_1
Mang Mi'un yang sedang mengelap meja pelanggan pun menolehkan kepalanya melirik ke arah sumber suara. Matanya menyipit menyelidik siapa yang ada di hadapannya.
"Ya allah mang, hilap deui nya ka Riana? Ieu Riana mang. Langganan bakso emang pas SMP," ucap Ashel.
(ya allah pak, lupa ya sama Riana? Ini Riana, pelanggan bakso bapak waktu SMP).
"Ya allah ya robbi, ieu neng Riana? Eleuh eleuh geuning meni beuki geulis si laing teh. Calik neng calik," ucap mang Mi'un.
(astaga, ini Riana? Tambah cantik ya. Silahkan duduk).
"Nuhun mang."
(terimakasih mang).
Ashel pun duduk di bangku panjang yang ada disana bersama dengan Apid. Mang Mi'un masih terlihat syok karena kedatangan pelanggan lamanya.
"Ari eneng sok dimana ayeuna? Di Jakarta?" Tanyanya.
(sekarang kamu tinggal dimana? Jakarta?).
"Kantos di Jakarta waktos SMA mang. Pas kelas dua belas kan ngalih. Tapi sabaraha taun kapengker mah domisili di luar negeri soalna kuliah sakantenan iring caroge," ucap Ashel.
(tinggal di Jakarta waktu SMA kelas dua belas. Tapi beberapa tahun ke belakang, tinggal di luar negeri karena harus kuliah juga ikut suami).
"Eleuh, enya emang **** kan emang ge dongkap ka nikahan eneng anu megahna masya allah. Ieu nuju kakandungan? Sabaraha sasih laing?" Tanyanya.
(iya, bapak inget waktu acara pernikahan kamu yang sangat megah. Kamu sedang mengandung? Berapa bulan?)
Ashel tersenyum. "Majeung dalapan mang. Piduana sing babar langsar dina waktosna."
"Aamiin. Cik atuh wang ngadamel bakso nya. Jang Apid sakantenan?" Tanya Mang Mi'un.
(aamiin. Sebentar ya saya buatkan bakso. Apid mau juga?)
"Uhun mang sakantenan," jawab Apid.
(Iya. Sekalian).
Ashel tersenyum senang karena ternyata Mang Mi'un masih mengingatnya. Bahkan mang Mi'un masih mengingat bakso yang selalu ia pesan. Sembari memakan bakso ini, mang Mi'un dan Ashel saling bertukar cerita. Apid sendiri hanya menyimaknya saja.
Sekitar satu jam lamanya Ashel berbicara dengan mang Mi'un. Namun sayangnya dia harus segera pergi karena ia harus memanfaatkan waktunya disini. Masih banyak jajanan yang belum ia beli.
"Sadayana janten sabaraha mang? Sareng anu di bungkus?" Tanta Ashel.
(semuanya jadi berapa pak? Sama yang di bungkus?)
"Enging neng. Ieu mah itung itung hadiah kanggo si dede bayi," ucapnya.
(jangan neng. Itung itung hadiah untuk bayi kamu).
"Teu tiasa kitu atuh mang. Tapi hatur nuhun kana pangangkeun na," ucap Ashel.
(gak bisa gitu pak. Tapi terimakasih untuk pemberiannya).
__ADS_1
Ia pun meletakan beberapa lembar uang seratus ribuan yang tadi sudah ia tarik dari ATM-nya sebelum kesini.
"Neng, seueur teuing ieu mah bageur," ucapnya.
(neng, ini kebanyakan).
"Tampi wae mang. Riana permios nya, mangga mang," ucap Ashel.
(diterima aja ya pak. Riana pamit dulu, permisi pak).
"Uhun atuh, hatur nuhun neng. Ti ati di jalanna," ucapnya.
(Iya. Terimakasih banyak. Hati hati di jalannya).
Ashel mengangguk sekilas dan mengaitkan kantong keresek hitam pada motor beat Apid. Ashel pun pergi dari lapak bakso mang Mi'un. Akhirnya ia bisa merasakan lagi enaknya bakso mang Mi'un. Ia juga membungkus beberapa kantong untuk suaminya dan dua manusia bucin akut tak lupa ia juga memberikannya pada keluarga Apid.
"Pid, Pid, itu lihat. Teteh mau es emih itu tuh," ucap Ashel.
"Hayu beli."
Apid menghentikan motornya saat melihat penjual es yang dimaksud tetehnya. Ashel dengan perlahan turun dari atas motor dan menghampiri penjual es krim itu.
"Pak, es krim yang bentuk mie-nya dua ya. Rasa greentea sama moccachino," ucap Ashel.
"Siap neng. Sebentar ya," ucapnya. Ashel pun mengangguk dan berjalan untuk duduk di kursi yang disediakan disana.
"Abis ini jajan lagi?" Tanya Apid.
"Jajan lah Pid. Habis puas baru pulang," ucap Ashel.
"Laki lo gak bakalan nyariin?" Tanya Apid.
"Udah gue kasih tahu kok."
Apid mengangguk sekilas. Es krim yang mereka pesan pun datang. Ashel dengan antusias memakannya. Namun sebelum memakannya, ia sempat memotretnya.
Rasa es krimnya sangat enak. Greenteanya terasa sekali.
Setelah beberapa menit berlalu, es krim sudah habis. Ashel membayarnya dan kembali melanjutkan perjalanannya menjelajahi kota kembang di bagian Rancabali, Ciwidey ini. Ternyata masih banyak jajanan yang baru dan belum pernah ia coba.
Ashel hanya mencobanya sedikit sedikit. Sisanya ia gantungkan di motor Apid.
Setelah lelah, Ashel pun meminta diantarkan pulang. Ia juga memberikan uang saku untuk Apid sebesar satu juta karena sudah mau menemaninya.
Tbc.
Ya allah, pegel😔
Ramein weh, aku udah ngetik buanyak loh🫨🫢
__ADS_1