
Ramein guys. vote komen ya.
.
.
.
Happy reading♡
Hari minggu adalah hari yang paling membahagiakan untuk Ashel. Ia bisa rebahan sepanjang hari tanpa harus memikirkan apapun. Ya meskipun kemarin cafe miliknya sempat akan hancur akibat oknum tidak bertanggung jawab, namun beruntungnya Sergio siap sedia disana jadi hal itu tidak terjadi.
Suaminya masih tidur sedangkan Ashel sudah bangun. Cuaca pagi ini sangat cerah sekali. Meskipun letak penthouse miliknya berada di pusat kota, namun Ashel tetap nyaman.
Suasananya sedikit mirip Bandung. Hanya sedikit.
Ashel bangun dari tempat tidurnya. Ia mengenakan kaos milik suaminta yang cukup besar ditubuhnya. Panjangnya saja sampai menutup paha Ashel.
Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh suaminya yang masih polos. Setelah tertutup sampai dada, Ashel pun turun dari atas ranjang king size miliknya. Ia berjalan menuju balkon.
Tirai jendela sudah terbuka otomatis sejak pagi tadi namun Kavin sama sekali tidak terganggu oleh cahaya yang masuk ke dalam kamar. Mungkin ia terlalu kelelahan akibat kegiatannya semalam.
Ashel merentangkan tangannya guna meregangkan otot ototnya yang terasa kaku. Ia menghirup udara pagi sebanyak mungkin.
Setelah selesai menikmati udara pagi, ia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Selama kurang lebih tiga puluh menit Ashel selesai mandi dan berpakaian. Ia menggunakan kaos dan celana legging. Rambutnya sudah setengah mengering.
Ia keluar dari dalam walk in closet dan melihat ke arah ranjang dimana suaminya masih juga tertidur. Ashel pun meninggalkannya karena perutnya lapar.
Di dapur, bi Sati sudah menyiapkan banyak hidangan namun Ashel belum mau makan. Ia ingin makan bersama suaminya.
Ashel hanya mengambil segelas air putih dan beberapa potongan buah yang sudah disiapkan oleh bi Sati. Bi Sati sudah paham apa saja yang disukai oleh nyonya mudanya, jadi ia sudah menyiapkan beberapa buah yang sudah di kupas dan dibersihkan.
"Makasih bi," ucap Ashel saat ia menerima sepiring buah buahan yang sudah siap dimakan.
"Sama sama nyonya," ucapnya.
Ashel pun berjalan meninggalkan dapur menuju ke ruang tengah. Tak lupa ia juga membawa turun ipad miliknya dari kamar tadi. Rencananya ia ingin menonton youtube dari ipadnya.
__ADS_1
Ashel asik memakan buah dan menonton mukbang di youtube. Saat sedang asik menonton, entah mengapa ia jadi teringat tentang Dona.
"Apa gue harus secepatnya ya minta mas Kavin buat bawa Dona ke hadapan gue? Tapi apa dia mau?" Gumam Ashel.
"Takutnya makin lama Liam malah kabur lagi. Trauma gue."
Tiba tiba ia mendengar teriakan suaminya dari atas tangga.
"AYANGGGG."
"KAMU DIMANA? KOK NGILANG GAK ADA DI KAMAR?"
"PERGI GAK BILANG BILANG."
"APA SIH MAS? GAK USAH TERIAK TERIAK. MASIH PAGI JUGA," ucap Ashel yang ternyata ikut berteriak juga.
Kavin yang mendengar suara istrinya pun langsung berlari ke arah suara. Ternyata istrinya sedang berada di ruang tengah.
"Kok ninggalin aku? Aku bangun gak ada kamu," adu Kavin seperti seorang anak kecil. Ia berjalan mendekat ke arah istrinya dan duduk di depannya.
Ashel menghentikan video di ipadnya dan menyimpan piring buah buahan yang sedang ia makan kemdian menatap ke arah suaminya.
"Kan bisa bangunin aku dulu yang jangan ninggalin gitu aja," ucap Kavin. Ia masih tidak terima karena ditinggalkan istrinya ketika tidur.
Sedangkan Ashel menghela nafasnya. "Iya maaf. Udah kamu mandi dulu terus turun lagi kita makan. Aku laper."
"Kiss dulu. Kan belum morning kiss," ucap Kavin. Ia memanyunkan bibirnya menghadap ke arah istrinya.
"Mas, mandi!"
"Ish, yaudah iya." Kavin pun menurut. Ia kembali lagi naik ke kamarnya. Lebih baik menuruti perintah istrinya dari pada harus adu jotos.
***
Siang hari, Kavin dan Ashel menghabiskan waktu bersama. Setelah makan pagi, mereka berjalan santai ke depan penthouse mereka sembari mencari cemilan. Sebenarnya istrinya yang ingin nyemil bukan dirinya.
Kavin tiduran diatas paha istrinya. Kepalanya menghadap ke arah perut rata milik istrinya.
"Yang," panggil Kavin.
__ADS_1
"Hm." Saat ini Ashel sedang fokus pada ponselnya. Entah apa yang istrinya lihat disana Kavin tidak tahu.
"Kamu beneran hamil? Soalnya kemarin kamu mual mual gak jelas ditambah tadi pagi minta jajan di luar. Gak biasanya," ucap Kavin.
"Kok nanya aku, kan kamu yang sering minta jatah. Inget gak pake pengam*n," ucap Ashel.
"Ya aku gak pernah pake itu. Tapi kamu rutin kan konsumsi pil pencegah kehamilan?" Tanya Kavin.
Ashel menyimpan ponselnya dan menatap ke arah suaminya.
"Mas, aku gak hamil. Kemarin emang aku gak suka sama wangi parfume wanita itu. Mana lagi nempel di jas kamu. Aku gak suka," ucap Ashel.
Sedangkan Kavin diam tanpa ekspresi. Ia meneggelamkan wajahnya di perut rata istrinya.
"Ya maaf yang. Aku juga kemarin kesel karena dia peluk peluk aku. Mau aku hempas takutnya dia jatoh. Aku kan gak bisa kasarin wanita," ucap Kavin.
"Halah bilang aja kamunya suka dipeluk peluk dia. Pake segala gak suka kasar sama wanita. Terus sama aku apa? Tiap malem di banting mulu. Aku juga wanita mas," ucap Ashel tidak terima.
Kavin yang mendengar ucapan istrinya ini tersenyum. Namun tidak terlihat sebab Kavin menyembunyikan wajahnya di perut istrinya.
"Itu beda cerita yang. Aku kasarin kamu kan kamunya juga keenakan. Jadi kita sama sama enak," ucap Kavin dengan entengnya.
"Udah lah aku males. Kamu gak tegas banget jadi cowok. Inget mas kamu itu udah jadi suami aku, sesekali kamu harus tegas sama wanita yang deketin kamu apalagi sama Nadine! Aku gak suka lihatnya. Giliran aku aja yang deket cowok lain kamu marah. Terus kalo kamu gitu aku gak marah? Ya marah lah mas," ucap Ashel panjang lebar. Ia sudah lama menahan kata kata ini untuk suaminya. Namun hari ini semuanya keluar begitu saja.
Kavin mengerti perasaan istrinya. Ada benarnya juga dengan apa yang diucapkan oleh istrinya ini. Ia akui sikap ia salah selama ini.
Kavin bangun dari tidurannya dan menatap istrinya. Kedua tangannya juga memegang bahu istrinya.
"Aku tahu aku salah. Makasih juga udah ingetin aku. Aku janji setelah ini aku gak bakalan bikin kamu kesel apalagi cemburu kayak gitu. Maafin mas ya?" Tanya Kavin.
"Iya aku maafin. Awas kalo kayak gitu lagi," ucap Ashel.
"Senengnya dapet istri yang baik plus solehot," ucap Kavin. Ia menarik Ashel ke dalam pelukannya.
"Sebagai gantinya, hari ini kita main bareng yuk. Udah lama juga aku gak ajak kamu keluar," ucap Kavin.
Tentu saja Ashel mengangguk cepat. Siapa yang tidak mau diajak main keluar, apalagi sama suami sendiri.
Tbc.
__ADS_1
Kalo ada typ maapin. Ramein weh aku udh crazy up. Tp yg 1 babnya lagi masih review dari semalem hmmm.