
Happy reading♡
Rafello dan Ayu baru saja selesai dinner di salah satu restoran ternama yang ada disana. Ayu benar benar di treat layaknya seorang ratu oleh Rafello. Tak jarang Ayu sering overthinking, takutnya Fello tergoda oleh wanita lain di luaran sana yang lebih cantik. Namun Fello selalu mengatakan jika dia tidak serendah itu untuk berselingkuh.
Ayu mungkin masih dihantui bayang bayang masa lalunya. Padahal itu sudah bertahun tahun berlalu. Fello hanya bisa bersabar saja, bagaimana pun ia tidak bisa memaksa Ayu untuk melupakan itu semua. Karena Fello tahu, semakin dipaksa maka Ayu akan selalu mengingatnya.
Semakin hari, Fello semakin beranjak dewasa pemikirannya. Bahkan dia sudah memegang salah satu perusahaan cabang yang ada disana.
Benar, beberapa bulan yang lalu Fello dan Ayu baru saja kelulusan dan wisuda. Namun mereka belum juga menikah. Mereka memang sudah merencanakannya, namun belum terlaksana. Ada saja hal yang membuat mereka harus terus mengundur waktu pernikahan.
"Yang, bentar lagi keponakan kita bakalan ulang tahun. Beli kado yuk?" Ajak Ayu. Mereka sedang berjalan keluar restoran.
"Besok aja sayang, aku cape hari ini. Gak papa?" Tanya Fello. Pria itu memang baru selesai bekerja dan langsung keluar bersama dengan tunangannya.
"Kasian cowok aku kecapean," ucap Ayu. Ia mengelus pelan pipi Rafello.
"Kasian doang buat apa byy, kel*nin kek," ucap Fello.
"Kan belum sah, aku gak bisa bertindak jauh nanti kamu tegang aku yang repot. Kamu kalo tegang terus gak keluar kan uring uringan gak jelas," ucap Ayu.
"Lagian kenapa sih bentrok mulu rencana kita buat nikah. Kita nikah siri aja dulu gimana?" Tanya Fello.
Ayu terdiam. Ia tahu nafsu Fello seperti apa. Bahkan tak jarang pria ini selalu memintanya untuk membantunya. Ayu sempat menolaknya namun saat itu malah hubungannya yang tidak membaik dengan Rafello.
"Sabar ya sayang, aku tahu kamu udah gak sabar. Nanti kita cari waktu lagi, aku yakin kok kalo kita emang berjodoh. Jangan bahas hal sensitif ini lagi ya? Aku cape berantem sama kamu mulu," ucap Ayu.
Fello mengangguk dan mengecup kening Ayu. Mereka pun masuk ke dalam mobil aventador milik Fello.
__ADS_1
***
Ashel menjerit bukan main saat milik suaminya menerobos masuk secara paksa pada miliknya. Sungguh sangat sakit!
Tangan Ashel mencakar punggung kekar suaminya dengan cukup dalam. Kuku kuku Ashel tidak panjang namun cukup tajam karena ia belum memotongnya. Kavin sendiri langsung membungkam mulut istrinya dengan mulutnya agar tidak berisik. Ia memejamkan matanya, meresapi sensasi berbeda ketika istrinya mencakar punggungnya.
Ini adalah kemauan Kavin, entah mengapa ia selalu merasa puas saat istrinya mencakar punggungnya ketika mereka melakukan itu. Kavin memang sengaja melakukan itu agar istrinya mencakarnya bahkan mengigit bibirnya. Sudah lama sekali ia tidak merasakan sensasi seperti ini.
Air mata Ashel meluruh membasahi pipinya yang memerah juga terasa memanas sejak ia memulai permainan ini. Kavin melepaskan tautan bibirnya dan menghapus jejak air mata istrinya.
"Bagaimana?" Tanya Kavin. Ia sudah melupakan rasa sakit di punggung dan bibirnya. Mungkin untuk saat ini luka ini tidak akan terasa, namun besok pasti akan terasa sangat sakit.
"Jahat. Kamu kok kayak dulu lagi. Kan hyper kamu udah sembuh," ucap Ashel. Ia memukul dada bidang suaminya.
"Sembuh? Sejak kapan? Bahkan aku semakin parah dengan penyakit itu," ucap Kavin ia mendekatkan bibirnya ke telinga sang istri.
"Bahkan penyakitnya tidak akan sembuh jika lawan main ku setiap harinya adalah kamu. Kamu adalah obat sekaligus pengingat aku untuk penyakit itu. Dulu aku memang selalu menyesali penyakit ini, namun sekarang tidak. Aku bisa dengan leluasa memasuki kamu bahkan bisa sepuasnya membuat mu melenguh bahkan mendes*h dibawah kuasa ku sayang," bisik Kavin. Pria itu dengan sengaja mengecup bas*h kuping sang istri juga mengigitnya.
"Apa kamu tidak sabar hm? Baiklah, aku akan bergerak sekarang," ucap Kavin tersenyum miring.
"J-jang-an du-llu," ucap Ashel.
"Kenapa? Bukannya kamu menggerakan pinggul mu ini untuk memberitahu jika kamu sudah tidak sabar sayang?" Tanya Kavin.
"Sakit mas, please," ucap Ashel.
Kavin menggunakan satu tangannya untuk menumpu berat badannya agar tidak menindih tubuh istrinya sepenuhnya. Bahkan satu lututnya sejak tadi menahan bobot tubuhnya.
__ADS_1
"Kita sudah bertahun tahun menikah sayang, apa milik mu masih terus merasa asing dengan milik ku?" Tanya Kavin.
"Bukan asing mas. Salahin milik kamu yang besar jangan beralibi dengan milik ku yang sempit. Milik mu sudah besar ditambah panjang juga. Kamu keenakan aku kesakitan," ucap Ashel. Kavin ingin sekali tertawa menggelegar saat mendengar ucapan dari bibir manis istrinya ini.
"Hanya bertambah beberapa centi sayang," ucap Kavin.
"Panjang atau diameternya?" Tanya Ashel. Kedua matanya sejak tadi menatap suaminya yang berada diatasnya.
"Dua duanya," ucap Kavin. Terlihat raut terkejut dari wajah sang istri.
Tentu saja Ashel terkejut, pantas saja miliknya terasa sakit juga perih ketika suaminya memasukinya. Ternyata ukurannya bertambah. Tapi, tunggu dulu. Kenapa bisa bertambah? Apa jangan jangan...
"Hilangkan pikiran jelek dari otak cantik mu ini. Gaya hidup ku sehat, setiap hari sebelum berangkat ke kantor aku selalu gym dulu," ucap Kavin saat melihat tatapan menyelidik dari istrinya.
"Boong," ucap Ashel.
"Sudah cukup! Aku bukan untuk membahas hal itu ketika berada diatas mu sayang. Aku ingin menuntaskan hasrat ku," ucap Kavin. Pria itu pun mengangkat satu kaki istrinya yang ia letakan diatas pundaknya sementara kaki yang lainnya ia biarkan begitu saja.
"K-ka-mu mau a-pa?" Tanya Ashel.
"New style mami. Nikmati saja," ucap Kavin. Pria itu pun mulai melakukan aksinya. Memaju mundurkan tubuhnya. Kedua tangan Ashel dengan sendirinya berpegangan pada kedua tangan Kavin yang bertumpu pada sisi kiri kanan istrinya.
Kavin selalu tersenyum puas saat istrinya meminta berhenti bahkan meminta ampun ketika dirinya melakukan itu dengan keras. Bahkan tak jarang istrinya selalu menangis karena ulahnya. Namun Ashel tidak pernah marah setelah melakukan itu, menurutnya itu kewajibannya sebagai seorang istri.
Justru ia bersyukur karena Kavin hanya menginginkan dirinya. Tidak dengan wanita lain. Kavin banyak uang, wajah yang tampan, dan juga seorang CEO. Dia bisa saja kan menggunakan uangnya untuk melakukan hal itu, namun untungnya dia masih waras.
__ADS_1
Tbc.
Hmzt🥸