My Little Wife

My Little Wife
Ep. 144 > Next


__ADS_3

Zico langsung menghadang masuk kedalam apartemen Amora tanpa permisi. Menyenderkan tubuh Amora dengan kasar kedinding. Perlakuan itu membuat Amora sangat terkejut. Ini untuk pertama kalinya ia mendapati perlakuan kasar seperti itu dari Zico.


"Zico! Apa-apaan ini?" Jerit Amora setengah kaget.


"Aku peringatkan kau! Jangan pernah sentuh keluargaku. Atau kau akan terima akibatnya." Hardik Zico, geram.


"Maksudmu apa?" Amora mencoba melepaskan cengkraman dari tangan Zico. Namun, sia-sia.


"Jangan berlaga bodoh! Kemarin, mungkin aku masih mencoba meaafkan kesalahanmu itu. Tapi semakin dibiarkan, kau semakin ngelunjak. Dan kali ini, kau benar-benar sudah melampaui batas."


"Apa yang kau bicarakan Zico!" Amora mendorong kasar tubuh Zico, hingga menjauh beberapa langkah darinya. "Aku benar-benar tidak mengerti. Kesalahan apa memangnya yang sudah aku lakukan? Lagi katamu? Aku tidak melakukan apa-apa!" Amora sedikit heran dengan perkataan Zico, sebelumnya Zico memang sudah menegurnya, atas apa yang pernah ia lakukan di acara ulang tahun Tante Ema. Dan itu cukup membuat Amora jera. Sedangkan kali ini, ia merasa benar-benar tidak melakukan apapun. Tapi kenapa Zico justru datang menghadangnya.


"Kau kan, yang menyebarkan berita tentang Lea di media!" Tuduh Zico.


"Berita? Dimedia?" Amora mengulangi. Dengan ekspresi bingungnya.


"Jangan belaga bodoh!" Cecar Zico untuk sekian kalinya.


"Aku tidak melakukannya."


"Ch! Kau pikir aku percaya?"


Amora menghela nafas kasar. "Baiklah, aku akan jujur. Sebenarnya dalang dari semua ini, Maya!" Amora melangkah, menuju ruang tengah. Dimana ponselnya berada, lalu kembali ke tempat dimana Zico masih berdiri. Membawa serta ponselnya. Amora memperdengarkan rekaman dari panggilan telpon antara dia dan Maya.

__ADS_1


"Aku sengaja merekam itu, karena aku juga tidak ingin disalahkan atas kejadian ini." Imbuh Amora setelah rekaman suara itu berakhir,


Zico hanya bisa menyeringai tak percaya. "Kau tetap salah, karena sudah menjadi kaki tangannya!" Sarkas Zico kemudian.


"Aku tahu, dan aku sudah mengaku salah, juga sudah minta maaf bukan."


"Dimana dia sekarang?" Tanya Zico, tentang keberadaan Maya saat ini.


"Aku tidak tahu, dia hanya menghubungiku lewat panggilan telpon. Dan kami tidak pernah berjumpa. Lagi pula, dimana keberadaannya juga tidak penting bagiku."


***


Sedangkan ditempat yang berbeda, Maya sedang di buat berang dengan berita yang baru saja di upload namun sudah terhapus.


"Aku juga tidak tahu! Gara-gara berita yang kau berikan itu. Bahkan sekarang akunku tidak dapat di buka lagi!" Balas reporter itu, yang merasa rugi sudah bekerja sama dengan Maya.


"Arrghh..." Maya langsung mematikan panggilan itu.


Tok!Tok!


Maya langsung menoleh ke arah pintu. Setelahnya mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding. Jam menunjukkan pukul 04.23 pagi. "Siapa yang mengetuk pintu jam segini?" Maya membantin.


Namun, ketukan pintu itu semakin membabi buta. Memaksa Maya untuk membuka pintu itu mau tidak mau.

__ADS_1


"Hei.. Apa-apaan ini." Pekik Maya ketika beberapa orang berbadan kekar masuk tanpa permisi kedalam apartemen nya. Lalu diikuti oleh pemilik apartemen yang menemui Maya akhirnya.


"Apa yang kau lakukan?" Maya mencoba menghentikan kedua orang itu, yang mulai mengeluarkan barang-barangnya dari apartemen.


"Maaf Bu Maya, Anda harus keluar dari apartemen ini, sekarang juga." Imbuh pemilik apartemen akhirnya.


Maya menoleh, ia tak menyadari si pemilik apartemen ternyata juga sudah masuk kedalam apartemen itu dan berdiri tepat di belakangnya.


"Apa maksudnya itu?" Tanya Maya, dengan berang. Ia tak terima diperlakukan seperti itu.


"Ini perintah langsung dari pemilik apartemen ini."


Maya mengernyitkan keningnya, ia tak lagi menghiraukan kedua orang itu yang terus saja mengeluarkan semua barang-barang nya.


"Bukankah kau, pemilik apartemen ini!" Sarkas Maya, penuh penekanan.


"Tidak, apartemen ini sudah di beli oleh orang lain 2 hari yang lalu." Imbuh lelaki paruh baya itu.


Maya menoleh, ketika seseorang masuk kedalam apartemen itu.


"Kau!" Dengan bola mata membulat sempurna.


"Iya, aku! Bukankah sudah aku peringati. Jangan pernah bermain-main denganku!" Tandas Azalea.

__ADS_1


>>>


__ADS_2