
Happy reading♡
Setelah makan pagi tadi, Fello langsung pergi menuju ke rumah Ayu untuk menjemput gadis itu. Sesuai rencana hari ini mereka akan fitting baju untuk pernikahan. Mama Fello sudah membuat janji dengan pihak butik milik bunda Ashel, jadi mereka tinggal datang saja.
Fello dan Ayu sampai sekitar pukul sembilan ke butik karena tadi Fello mampir dan berbincang dulu dengan orang tua Ayu sembari menunggu gadis itu bersiap.
"Gaunnya jangan seksi seksi. Kalo perlu syar'i," ucap Fello.
"Lah, ini kan acara bahagia aku. Ya bebas lah aku mau pake gaun apa juga. Niat dari awal kan emang mau yang belahan dada-nya rendah biar bagus," ucap Ayu. Mereka berdua masih berada di dalam mobil.
"Ngadi ngadi. Mau aku robekin gaun kamu ha?!" Ucap Fello dengan nada bicara sedikit tinggi.
"Please, ini acara aku sayang. Ngertiin dong," ucap Ayu. Padahal jauh di dalam lubuk hati terdalamnya, tidak pernah terbersit pemikiran seperti itu. Sama sekali.
"Disuruh ngertiin sama kamu yang enggak ngertiin aku. Kamu waras?" Tanya Fello sarkas.
"Waras lah. Kalo gak waras gak mungkin aku mau nikah sama manusia," ucap Ayu.
"Bicara kayak gitu sekali lagi dan jangan harap kamu masih peraw*n sebelum ijab kabul," ancam Rafello. Ayu jadi ketar ketir sendiri. Padahal ini pemainannya sendiri tapi ternyata malah ia sendiri juga yang kena batunya.
"Hehe, peace sayang. Aku becanda. Lagian bunda Anna gak mungkin bolehin aku pake gaun terbuka," ucap Ayu.
Fello masih diam saja. Ia pura pura marah dan merajuk pada Ayu.
"Ih yang, kok diem aja. Maafin gak?" Tanya Ayu.
"Kiss dulu baru dimaafin," ucap Fello.
"Akal bulusnya ya," ucap Ayu. Gadis itu menarik tekuk Fello dan menyatukan bibir mereka berdua. Niat Ayu hanya ingin mengecupnya, tapi ternyata salah. Fello malah menahan tekuknya dan melum*tnya.
"Aku maafin. Inget, jangan yang seksi seksi. Kita keluar sekarang," ucap Fello. Ayu mengangguk sekilas dan keluar mobil. Ia dan Fello berjalan bergandengan tangan menuju ke dalam butik besar yang ada di depan mereka.
__ADS_1
Saat masuk, mereka disambut hanya oleh pelayan butik. Anna tidak ada karena pagi tadi ia harus ke Bandung. Ada sedikit masalah di butiknya yang disana jadi ia memutuskan pulang ke Bandung.
"Kebaya untuk anda sudah kami siapkan. Untuk dress-nya anda bisa memilihnya sesuai dengan keinginan anda," ucap pelayan butik.
"Saya mau lihat lihat dulu gaunnya. Nanti biar sekalian lihat kebaya," ucap Anna.
"Baik kak. Tuxedo untuk mempelai prianya juga sudah ada tinggal di coba," ucapnya lagi. Ayu hanya mengangguk sekilas dan kembali fokus memilih gaun bersama Fello.
Disini banyak sekali gaun. Namun sejak masuk, pilihan Ayu jatuh pada gaun yang terpasang manekin yang berada di sudut ruangan. Gaun itu bernuansa warna silver dengan hiasan manik manik juga gemerlap kristal kecil kecil. Potongan tangannya panjang dan potongan dadanya tidak rendah. Sesuai dengan keinginan Fello.
"Mbak, mau coba yang ini," ucap Ayu menunjuk dresa yang ia mau.
"Baik mbak, silahkan ke ruangan ganti biar gaunnya saya bawa kesana. Gaun yang mbak pilih hanya ada satu," ucapnya.
Ayu mengangguk dan pergi ke ruang ganti bersama Fello. Fello mendudukan bokongnya di sofa yang ada di sana sedangkan Ayu masuk ke kamar ganti. Ia mencoba kebaya berwarna putih. Kebaya-nya pas dan tidak perlu di rombak lagi. Ayu suka. Begitu juga dengan dress-nya. Sangat cantik sekali. Tidak perlu di rombak. Ayu pun keluar dari dalam ruanh fitting room.
"Byy, gimana?" Tanya Ayu. Fello yang sedang fokus pada ponselnya pun mengalihkan atensinya. Tatapannya terpaku melihat Ayu yang sangat cantik dengan gaun itu. Bahkan sangat sangat cantik.
"Very beautiful. I like this gown," ucap Fello.
"Oke mbak, keep yang ini," ucap Ayu. Ia pun kembali ke ruang ganti dan menggantinya dengan pakaiannya yang tadi.
Selesai memilih gaun, Fello dan Ayu langsung meninjau lokasi tempat mereka akan melangsungkan pernikahannya.
***
"Jadi bagaimana menurut kalian? Apa menu yang saya buat ini akan laku di pasaran?" Tanya Ashel. Ia menghidangkan sampel makanan yang akan ia masukan ke dalam list menu cafe-nya.
"Menurut kakak ini enak. Apalagi sesuai dengan lidah orang Indonesia. Sedangkan dessert-nya itu khusus untuk pecinta matcha kayaknya," ucap Angel.
"Tapi saya yang bukan pecinta matcha suka kok. Tergantung selera orang saja. Ini enak, tampilannya juga menarik. Saran saja, lebih baik buat bervarian rasa agar yang tidak menyukai matcha bisa memakannya," ucap Sergio.
__ADS_1
"Yang lain bagaimana?" Tanya Ashel.
"Kami setuju dengan pendapat bu Angel dan pak Sergio. Hanya saja untuk makanan pedas ini, harus diberi nama apa yang lebih pas?" Tanya seorang koki.
"Spicy tofu?" Tanya Ashel.
"Itu juga bagus. Meskipun namanya tofu, tapi kondimen di dalamnya tidak hanya ada tofu saja," ucap Sergio.
"Baiklah, untuk tema koki resepnya akan segera saya bagi dan untuk kak Angel sama om Sergio, tolong kasih nama buat menu makanan terbaru kita. Riana tunggu secepatnya," ucap Ashel.
"Oke," ucap Angel dan Sergio.
"Baiklah, meeting sampai sini dulu. Sisanya kita bahas di meeting kedua setelah menu launching," ucap Ashel. Mereka semua mengangguk dan pergi dari sana menuju ke pekerjaan masing masing.
"Hebat banget istri aku, bangga deh," ucap Kavin. Pria itu sejak tadi duduk diam memperhatikan Ashel. Sebenarnya Ashel sudah merasa terganggu tadi dengan tatapan suaminya, namun ia berusaha menghiraukannya karena ia harus fokus pada meeting.
"Kan sekolah. Lulusan cumclaude juga, masa gak pinter," ucap Ashel.
"Sini peluk," ucap Kavin. Ashel tersenyum dan berjalan ke arah suaminya. Ia memeluk Kavin yang sedang duduk di kursi. Jadi wajah Kavin langsung berhadapan dengan perut rata Ashel.
"Mi, kapan disini ada baby lagi?" Tanya Kavin.
"Enggak mas. Tiga aja udah cukup ya," ucap Ashel. Ia memang selalu menolak untuk hamil lagi. Entah mengapa. Bahkan Ashel juga memasang kb.
"Yah, kan biar rame. Waktu itu kan udah janji mau bikin sebelas baby," ucap Kavin. Ia mendongkak-kan wajahnya agar melihat wajah sang istri.
"Enggak mas. Dikira aku kucing apa bisa lahiran banyak! Tiga aja udah cukup," ucap Ashel.
"Ya udah iya. Terserah mami aja, papi ikut. Sekarang ke baby's yuk. Kasihan mereka ditinggal terlalu lama," ucap Kavin.
"Iya, ayo," ucap Ashel.
__ADS_1
Kavin pun merangkul pundak istrinya dan berjalan keluar ruangan menuju ke rooftop cafe.
Tbc