
"Kenzo. Kamu memang mengecewakanku. Tapi, Aku harus titip Vanes kepadamu. Kamu suaminya. Aku harap kamu bisa menjaganya." Pesan Dylan.
Tasya memegang pundak Kenzo. "Aku selalu percaya padamu, Kenzo. Aku tahu kamu pasti akan menjaga Vanessa." Tasya beralih ke Vanes. "Vanessa. Ini bukan sebuah perpisahan. Jangan khawatir. Kita masih bisa bertemu, Nak."
"Aku akan menjalankan tugasku sebagai suami." Sarkas Kenzo.
"Mama sama Papa jangan lupa sering temuin aku ya?" Pinta Vanes.
"Kami berdua percaya padamu, Kenzo. Iya, sayang. Kami berdua akan sering menemuimu." Kata Dylan.
Kenzo dan Vanes masuk ke dalam mobil sedan hitam milik Kenzo. Vanes melambaikan tangannya. Tasya terharu. Begitu juga dengan Dylan.
"Aku tak menyangka jika ini bisa terjadi. Anakku menikah di umur yang terlalu muda. Bahkan sangat amat muda." Ucap Tasya.
Dylan memeluk istri kesayangannya itu. "Aku juga tak mengira, sayang. Aku harap ini yang terbaik buat anak kita. Kenzo pasti bisa menjaga Vanessa."
***
Para suruhan Kenzo menyambut kedatangan mereka berdua. Pintu mobil di buka kan oleh Satpam yang ada di latar depan halaman rumah Kenzo.
"Mari sayang, kita masuk ke dalam." Kenzo menggandeng tangan Vanes sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
Rumah besar dengan dua lantai itu menjulang indah dengan lampu berwarna emas di setiap sudutnya. Sungguh. Rumah Kenzo sangat besar. Aksen yang di dominasi dengan warna emas ini memberikan suasana mewah.
"Rumahku menjadi rumahmu sekarang, sayang!"
Vanes mendongak. "Kak Kenzo..Terima kasih."
"Kita sudah menjadi suami-istri. Kebutuhanmu sekarang aku yang tanggung, Vanessa. Uangku uangmu juga."
"Tapi aku nggak bisa masak, Kak.." Lirih Vanes.
Kenzo tertawa. Kemudian dia menggendong Vanes seperti anak kecil. "Vanessayang. Kamu jangan berfikir seperti itu. Untuk apa aku menyewa para pembantu, hah? Tugasmu sekarang belajar dan menjadi istriku yang penurut."
Kedua pipi Vanes bersemu. "Ih Kak Kenzo..Turunin aku!"
Kenzo menurunkan Vanes di meja makan. Sajian makanan mewah dan bervariasi menyambut mereka. Beberapa pelayan nampak sibuk menyajikan hidangan-hidangan tersebut.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya Atranendra!" Sambut mereka.
Vanes hanya tersenyum tipis.
"Perkenalkan. Ini Vanessa Angelica. Dia istri saya. Saya tahu pasti kalian semua terkejut dengan istri saya yang masih sangat muda ini kan? Saya berharap, kalian tidak mengatai saya dan istri saya. Jika saya sampai tahu hal itu, saya akan memecat kalian."
"Iya, Tuan." Jawab Ima. Kepala pelayan dapur.
__ADS_1
"Ayo sayang, kita makan!" Titah Kenzo.
Kenzo dan Vanes makan bersama di meja oval yang lebar ini. Rumah Kenzo lebih besar dari pada rumahnya. Mereka berdua makan dalam keheningan.
"Permisi, Tuan. Kamar sudah siap." Ucap salah satu pelayan.
Vanes menaikkan satu alisnya. Ada pelayan lagi. Yang ini siapa namanya. Kenapa Kenzo mempunyai banyak pelayan?.
"Iya. Kamu boleh pergi, Haya." Jawab Kenzo.
Oh namanya, Haya. Batin Vanes.
"Banyak banget sih pelayannya." Cetus Vanes saat Haya pergi.
"Hahaha. Itu tadi kepala pelayan bagian bersih-bersih rumah, sayang."
"Rumahnya besar sih." Ucap Vanes.
Kenzo mendekat ke arah Vanes. Kemudian dia mencium pipi Vanes. "Sudah selesai makan apa belum?"
"Sudah!"
Tak banyak bicara lagi. Kenzo langsung menggendong Vanes ala brydal style. Membuat Vanes terkejut dengan sikap tiba-tiba Kenzo. Tanpa sadar, tangan Vanes melingkar di leher Kenzo.
Kenzo tersenyum. Dia mencium bibir Vanes singkat. Mereka berdua sampai di kamar yang terletak di lantai dua. Kamar ini cukup besar. Ada kasur yang besar. TV yang menempel di dinding, di hadapan kasur. Kamar mandi yang terletak di balik tembok meja rias. Sebuah sofa panjang yang terletak di sebelah bawah kasur. Dan, sebuah pintu kaca bening yang menghubungkan ke balkon.
"Kak Kenzo.." Lirih Vanes.
Kenzo menurunkan Vanes di atas kasur. Dia membuka jas hitamnya. Tersisa kaus warna putih yang menerawang dan celana panjang hitamnya. Jasnya di lemparkan begitu saja.
"Vanessayang.." Kenzo mencium leher Vanes.
Vanes melengkuh karena geli. Kini dia kembali melingkarkan tangannya di leher Kenzo yang ada di atasnya. Kenzo melumat bibir Vanes lembut. Tak ada beringas dan kasar yang seperti biasa dilakukan oleh Juna dulu.
Kenzo memberi tanda di leher Vanes. Sudah puas dengan bibir Vanes. Sekarang di beralih ke dada Vanes. Remasan lembut berhasil membuat Vanes menggeliat.
Kenzo menyudahi permainannya sebelum berlebihan karena ini belum waktunya. Dia menyelimuti tubuh Vanes. Kecupan hangat di luncurkan di dahi Vanes.
"Aku nggak mau lebih lagi. Ayo kita nonton film?" Ajak Kenzo.
"Film? Besok kan sekolah." Kata Vanes.
"Aku mengambil libur untukmu dan aku, Vanessa." Kata Kenzo. "Kita ini baru menikah."
Vanes menatap lekat Kenzo. Kenzo benar-benar berbeda dengan Juna. Kenzo bersikap selalu bersikap lembut. Berbeda dengan Juna yang agresif itu.
__ADS_1
"Hei. Kamu kenapa diam? Apa kamu mau tidur?" Tanya Kenzo sambil mendekat ke arah Vanes.
Kenzo kemudian memeluk Vanes. "Tidurlah. Good Night, My Little Wife."
***
Dylan dan Tasya termenung di ruang makan. Rumah rasanya sepi jika tak ada Vanes. Tak ada celotehan ria yang menghiasi kebiasaan makan bersama mereka.
"Rumah sepi ya, Pa." Cetus Tasya.
Dylan menatap istrinya. "Iya. Nggak ada Vanessa rumah jadi sepi."
Tasya sedih. "Seharusnya kita nggak pergi ke Surabaya, Pa. Biar Vanes nggak menikah sama Kenzo."
Kenzo memeluk istrinya. "Sayang..Jangan menyesal seperti itu. Kenzo akan menjaga Vanessa, Ma."
"Tapi kenapa juga harus menikah, Pa."
"Pasti ada sesuatu di balik semua ini. Aku tahu Kenzo, sayang. Pasti ada alasannya di balik pernikahan ini." Jelas Dylan.
Tasya menangis. "Aku masih belum bisa lepas dari Vanes, Pa."
"Vanessa akan aman sama Kenzo, Ma. Percayalah. Kita akan cari tahu alasan di balik pernikahan ini. Semuanya akan baik-baik saja, sayang. Jangan khawatir."
***
"Bagaimana kamu bisa seperti ini sih, Jun?" Selena menyuapi Juna.
Juna mengangkat bahunya acuh.
"Jangan buat aku khawatir dengan keadaanmu." Kata Selena.
"Aku tak butuh belas kasihmu itu, Selena." Tukas Juna kesal.
"Oh ayolah, Kenzo. Jangan bersikap sok tegar. Ada saatnya orang kuat itu lemah. Sepertimu saat ini. Kamu sedang sakit. Jangan mengelak jika sekarang kamu itu lemah." Cerocos Selena.
Juna memutar bola matanya kesal. "Aku tidak akan begini jika Vanessa tidak mengambil alih setir waktu itu, Selena."
Selena menaruh mangkuk bubur di nakas. "Vanessa? Gadis kecil itukan?"
"Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Tidak perlu tahu, aku tahu dari mana, Juna."
"Aku akan merebutnya, Selena. Aku tidak akan melepaskan yang pernah menjadi milikku." Tekad Juna kuat.
__ADS_1
"Dia hanya anak kecil, Jun." Balas Selena kesal.
"Bagimu dia hanya anak kecil. Tapu bagiku, dia adalah permata. Permataku hilang. Dan aku harus mencarinya. Setelahnya, aku akan menggenggam erat lagi. Aku tak akan lengah!"