
Happy reading♡
Setelah acara ulang tahun selesai, semua anak panti kembali pulang sembari membawa gift yang diberikan Ashel dan Kavin untuk mereka. Kue ulang tahun ketiga anaknya juga habis karena dibagikan kepada anak anak panti. Dari pada mubadzir jadi Ashel membagikannya.
Semua kado yang diterima anak anaknya dibawa ke dalam mobil suster. Ashel dan Kavin juga sudah masuk ke dalam mobil mereka tadi dan akan segera pulang. Sepanjang acara tadi, baby's sangat anteng dan tidak rewel sama sekali. Mereka bermain dengan orang orang disini termasuk anak anak panti. Kini ketiganya sudah tertidur di dalam mobil.
"Cape mi?" Tanya Kavin.
"Lumayan mas, baby's aktif banget tadi. Mana lari larian mulu," ucap Ashel.
"Nanti aku pijitin," ucap Kavin.
"Pijit plus plus pasti," ucap Ashel sedangkan Kavin hanya tertawa cengengesan. Ia pun kembali fokus pada jalanan. Tidak lama karena jaraknya tidak jauh.
Ayu dan Fello memutuskan pulang ke apartment masing masing. Ardian dan Lupita juga kembali ke mansion Ardian. Sedangkan keluarga Ashel memutuskan untuk tinggal di mansion Kavinder dan keluarga Kavin memutuskan untuk ke mansion mereka saja bersama Nata dan Praja.
Ashel keluar dari dalam mobil saat mereka sudah sampai ke depan mansion. Ia langsung beralih ke anak anaknya. Di belakang, Kavin sudah stand by menunggu. Ashel memberikan Ling dan Kai untuk digendong Kavin masuk ke kamar bayi bayi itu sedangkan Briella di gendong olehnya.
"Suster suster, tolong bawa kado kado baby's ke lantai atas. Simpan saja di atas meja depan kamar utama," ucap Ashel pelan.
"Baik nyonya," ucap mereka bertiga.
"Yah, bun, kamar biasa udah diberesin kalo mau istirahat. Sama grandma grandpa juga. Kamarnya di sebelah kamar bunda," ucap Ashel.
"Iya sayang. Bunda juga cape mau langsung tidur," ucap Anna.
"Yaudah kalo gitu Riana masuk duluan ya," ucap Ashel. Adi dan Anna menganggukan kepalanya juga dengan Ningrat dan Prabu.
Dia pergi menyusul suaminya ke kamar baby's. Sepertinya Kavin menunggunya untuk menidurkan baby's karena kesusahan. Saat sampai di kamar, benar saja Kavin menunggunya.
"Bentar yang," ucap Ashel. Wanita itu naik lebih dulu menidurkan Briella di tengah tengah. Berlanjut mengambil Kai dan Ling yang ditidurkan disamping kiri kanan Briella.
Ashel melepas rompi yang digunakan oleh Kai dan juga Ling dan melepaskan sepatu yang dipakai bayi bayi itu sedangkan Briella, dilepas dress-nya dan diganti dengan dress tidur yang adem. Tenang saja, jarak tidur ketiga bayi itu cukup jauh. Jadi tidak perlu takut mereka terbangun. Ashel dan Kavin kemudian memasang penghalang di sisi kiri kanan juga bagian bawah kasur agar anaknya tidak jatuh jika tidurnya bergeser dari tempatnya.
__ADS_1
Kavin mengatur suhu ruangan agar tetap hangat dan tidak dingin. Kelambu juga dipasang diatas kasur baby's.
"Ayo yang," ajak Kavin.
"Ayo apa?" Tanya Ashel.
"Pijit sayang," ucap Kavin.
"Gak mau, aku mau mandi. Gerah," ucap Ashel.
"Yaudah ikut. Sekalian berendam bareng," ucap Kavin.
"Ih jangan, nanti baby's bangun gak kedengeran mas. Mandinya gantian," ucap Ashel.
"Yaudah deh. Sana mandi, jangan lama," ucap Kavin pasrah.
Cupp
"Ayang, peluk," ucap Kavin yang baru saja selesai mandi. Pria itu hanya menggunakan celana boxernya.
Ashel merentangkan tangannya dan Kavin masuk ke dalam pelukannya. Kavin menidurkan kepalanya diatas dada sang istri.
"Nanti prepare yang, besok kita ke Indonesia. Bareng sama orang tua kamu," ucap Kavin.
"Iya sayang. Bobo sekarang," ucap Ashel. Wanita itu mengeluh pelan rambut suaminya.
"Pengen ini," ucap Kavin menunjuk asi istrinya.
Ashel menganggukan kepalanya, "Asi aku keras mas. Baby's belum minum soalnya."
"Yaudah sama papinya aja," ucap Kavin. Ia melepas kancing daster yang digunakan oleh istrinya dan langsung melahap asi istrinya.
Ashel memiringkan kepalanya seolah sedang memberikan asi pada bayinya. Ia ini bayi besarnya. Lama lama, Ashel dan Kavin mulai memejamkan matanya dan terlelap.
__ADS_1
***
Selesai pesta anak anak adik sepupunya, Ardian langsung membawa Lupita ke mansionnya. Ia sama sekali tidak mau melepaskan wanita ini barang sedikit pun. Padahal hubungan mereka sedang tidak baik baik saja. Terjadi pertengkaran kecil yang biasa terjadi pada pasangan kekasih.
Lupita meminta kejelasan hubungannya pada Ardian namun pria itu masih tidak memberikan jawabannya. Lama lama Lupita kesal dan selalu marah marah ketika membahas hal itu.
"Papa akan menjodohkan aku dengan pria pilihannya jika aku tidak membawa mu ke hadapan kedua orang tua ku. Mereka terus mendesak ku untuk segera menikah Ar, jika kamu tidak ingin menikahi ku. Maka biarkan aku menikah dengan orang lain," ucap Lupita. Mereka baru saja duduk di ruang tamu mansion milik Ardian.
Ardian mengeraskan rahangnya saat mendengar ucapan wanita ini. Bahkan sampai tidak sadar jika tangannya mengepalkan tangannya. Ia tidak suka mendengar ucapan Lupita.
"Apa kamu mau dengan pria itu?" Tanya Ardian.
"Tidak, aku maunya kamu. Tapi kamu sepertinya tidak pernah berniat untuk menjalin hubungan. Jadi aku terpaksa menerima pria itu," ucap Lupita.
"Aku pamit, malam ini aku harus bertemu dengannya," ucap Lupita. Ia bangun dari duduknya dan pergi dari hadapan Ardian. Namun sebelum melangkahkan kakinya, Ardian lebih dulu mencekalnya dan menarik tangan wanita itu.
"Lepas Ar. Aku harus pergi, setiap aku akan bertemu dengan dia kamu selalu menahan ku. Bahkan ini sudah berkali kali," ucap Lupita.
"Sebelum kamu bertemu dengan pria itu, aku akan lebih dulu memasuki kamu," ucap Ardian santai. Pria itu terus menarik tangan Lupita meskipun wanita itu berontak. Pergelangan tangan Lupita sudah memerah, rasanya tentu saja sakit.
Ardian membuka pintu kamar utama dan kembali membantingnya dan terkunci secara otomatis. Kamar yang selalu menjadi tempat bercinta untuk Ardian dan Lupita. Entah sudah berapa kali mereka melakukan hubungan intim disini, kasur dan kamar ini menjadi saksi bisu keganasan Ardian pada Lupita.
Lupita dibanting ke atas kasur. Dengan satu kali tarikan Ardian menarik dress yang digunakan oleh Lupita.
"ARDIAN, BERHENTI," teriak Lupita. Ia berusaha menutupi tubuhnya karena dress yang melekat di tubuhnya sudah lepas dan dilempar sembarang arah.
Ardian juga sudah melepaskan pakaiannya. Kini mereka berdua sudah benar benar naked. Polos tanpa ada penghalang apapun.
"Aku akan menghukum mu," bisik Ardian. Pria itu mengangk*ngkan kedua kaki Lupita dan memasukan miliknya tanpa melakukan foreplay.
Lupita meringis kesakitan bahkan menjerit.
Tbc.
__ADS_1