My Little Wife

My Little Wife
15. Diculik(?) Juna


__ADS_3

Vanes tak habis pikir dengan Juna yang sedang berdiri di hadapannya ini. Lelaki ini terlalu memaksa, membuat Vanes bingung untuk menghadapinya.


"Juna. Aku sudah pernah bilang sama kamu, jangan ganggu aku lagi." Kata Vanes penuh penekanan di setiap katanya.


"Aku juga pernah bilang ke kamu kalau barang milikku hilang, aku akan mencarinya dan menggenggamnya lebih erat lagi."


"AKU BUKAN BARANG JUNA!" Bentak Vanes yang emosi. Telunjuk jarinya mengacung di hadapan wajah Juna. "Jangan samakan aku dengan barang! Aku bukan barang yang hanya kamu cari di saat kamu butuh! Jangan ganggu aku! Jangan dekati aku! Jangan temui aku lagi! Kita sudah tak ada hubungan!"


"Apa aku pernah peduli dengan ancamanmu itu?" Juna mengunci Vanes di tembok. "Seharusnya kamu ingat dengan peringatan yang pernah ku katakan padamu."


Vanes membuang muka. "Ucapanmu sekarang tidak penting bagiku!"


"Oh ya? Vanessa. Kamu hanya tinggal menunggu tanggal saja untuk menikmati masa-masa indahmu ini. Setelahnya, akan ku buat kamu menjadi milikku lagi!"


"Kamu sudah gila! Lepaskan aku!" Vanes berontak.


Juna menatap leher jenjang Vanes. Kalung yang di pakai oleh Vanes menarik perhatiannya. Tangan nakalnya mencabut kalung itu.


"Kamu tidak memakai liontin yang telah ku belikan, sayang?" Juna berbisik.


Kalung dari Kak Kenzo! Kak Kenzo, aku berharap kamu ada disini.


"Tidak. Aku tidak mau memakainya!" Balas Vanes.


Juna tersenyum misterius. Kalung yang di pegangnya dibuang asal. Dan itu cukup membuat Vanes terbelalak. Kalung itu adalah kalung favoritnya karena Kenzo yang membelikannya.


"Brengsek! Lepaskan aku, Juna! Aku benci kamu!"


Wajah Juna memerah karena menahan amarah. Mulut Vanes di bekap olehnya. Kemudian Juna menyeret Vanes ke parkiran. Vanes terus memberontak. Namun apadaya, Juna lebih kuat darinya. Nasib Vanes ada di tangan Juna. Kenekadtan Juna akan keluar.


"Pak Juna! Apa yang anda lakukan? Saya akan melaporkan anda ke kepala sekolah!"


Suara itu menolong Vanes.


Suara Edgar.


***


"Saya tidak pernah mencapuri urusanmu. Jadi jangan ganggu urusan saya!" Juna menatap geram Edgar.


Edgar tak kalah geramnya dengan Juna. Vanes yang berlindung di belakang Edgar pun merasa takut dan kalut. "Saya tidak peduli dengan anda. Saya hanya peduli dengan Vanes. Dia kekasih saya! Anda hanya guru yang tiba-tiba datang terus menganggu Vanes." Jawab Edgar tegas.


Juna menatap remeh lawan bicaranya. "Kamu perlu tahu! Saya ini juga kekasih Vanessa."


Vanes tertegun. Dia berharap Edgar tak percaya begitu saja dengan ucapan Juna. Edgar menatap Vanes yang di belakangnya sekilas kemudian kembali menatap Juna. "Jika memang benar Vanes kekasih anda, berarti Vanes bodoh. Bodoh karena mau dengan anda."


"Beraninya kamu bilang seperti itu!" Juna semakin geram.


Mata elangnya menangkap Vanes yang sedang di landa rasa takut. Dengan sekali sabetan, Vanes sudah di genggam olehnya kemudian di gendong secara paksa olehnya.


Vanes meronta-ronta di gendongan Juna. Juna membawanya ke parkiran. Edgar tak tinggal diam. Dia mengejar Juna.


"Lepas Juna!" Vanes memukul bahu Juna.

__ADS_1


"Pak Juna! Lepaskan Vanessa!" Bentak Edgar.


Juna tak menggubris ucapan Edgar yang berlari di belakangnya. Dia mendorong Vanes untuk masuk ke mobulnya. Kemudian dia masuk ke dalam jok kemudi. Edgar menggeram kesal karena mobil yang di kendarai Juna sudah melewati pagar sekolah dan melesat di jalan raya.


"Kamu mau bawa aku kemana, Juna?" Bentak Vanes yang duduk di sebelah jok kemudi.


"Membawamu ke tempat yang jauh." Jawab Juna santai.


"Brengsek! Lepaskan aku saja! Aku bukan milikmu. Aku milik kedua orang tuaku." Balas Vanes sambil mencoba membuka pintu mobil.


Juna hanya tersenyum tenang sambil mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Vanes tak tahu Juna akan berbuat apa pada dirinya. Dia harus keluar dari mobil ini dan pergi jauh dari Juna.


Tiba-tiba, terlentas ide gila. Dia membelokkan setir ke kiri hingga menabrak pohon yang terlintas. Kepala Juna membentur setir. Sementara Vanes sedikit luka di bagian kepala belakang karena juga terbentur. Ini kesempatannya. Dia harus kabur. Juna pingsan.


Vanes keluar dari mobil sebelum akhirnya beberapa orang yang melintas mengerumuni mobil Juna.


***


"Vanessa! Apa yang kamu lakukan di luar jam pembelajaran?"


Kak Kenzo!


Vanes segera menoleh ke sumber suara. Benar! itu suara Kenzo yang sedang berjalan menghampirinya. Vanes merasakan pusing yang luar biasa. Tapi dia menahannya dan berusaha tetap baik-baik saja di hadapan Kenzo.


"Kak Kenzo?"


"Ngapain kamu disini? Aku ke kelasmu tadi. Tapi kamu tidak ada." Kenzo menyilangkan tangannya di depan dada. "Wajahmu pucat. Kenapa?"


"Iya. Tapi jamnya sudah habis. Nanti jam 11 aku mengajar lagi."


"Oh."


"Kamu sakit?" Tanya Kenzo khawatir. Vanes mengangguk. "Aku merasa badanku tak enak, Kak."


"Ayo pulang saja jika begitu. UKS kurang lengkap jika kamu kenapa-kenapa, Vanessa."


Kenzo menuntun Vanes masuk ke dalam mobilnya. Vanes agak sedikit trauma jika melihat mobil. Apalagi dia habis mengalami kecelakaan kecil.


"Bagaimana dengan tasku?" Tanya Vanes.


"Bisa ku atur."


Dering Handphone Kenzo membuat Kenzo kaget sekaligus tidak jadi menginjak gas mobil. Dia mengambil Handphone yang ada di kantung jasnya. Juna.


"Halo?"


'Apa benar ini Pak Kenzo?'


"Ya. Ada apa?"


'Pak Juna mengalami kecelakaan tunggal. Sekarang dia sedang di rawat di Rumah Sakit Harapan Kita.'


"Kecelakaan? Baik. Saya akan segera kesana."

__ADS_1


Kemudian Kenzo menutup telepon secara sepihak. Vanes termenung di mobil. Tangannya meremas roknya. Menyalurkan rasa takut yang tiba-tiba melanda.


"Vanessa? Kenapa kamu? Aku lihat dari tadi kamu diam saja."


"Tidak. Tadi siapa yang menelfon?" Tanya Vanes mengalihkan pembicaraan.


"Temanku. Dia habis mengalami kecelakaan. Aku harus ke rumah sakit nanti setelah mengantarmu." Jawab Kenzo menatap lurus ke jalanan depan.


Vanes mengernyitkan dahinya. Kecelakaan? Hampir sama dengan yang dia alami 1 jam yang lalu. Apa itu Juna?. Mungkin. "Siapa, Kak?"


"Juna. Guru fisika baru." Jawab Kenzo.


Astaga. Juna.


"Kak Kenzo.." Vanes merengek.


"Apa?"


"Apa Kak Kenzo akan selalu melindungi Vanes dari orang jahat?" Tanya Vanes.


Kenzo menatap sekilas Vanes. "Tentu saja. Aku akan selalu melindungimu."


"Apa Kak Kenzo akan selalu disampingku? Selalu menjadi milikku?" Tanya Vanes lagi.


Kenzo yang selalu tenang itu tertawa hambar, menyembunyikan rasa heran sekaligus tertegun. "Aku akan selalu disampingmu. Untuk saat ini, Aku menjadi milikmu sepenuhnya, Vanessa. Tapi jika aku menikah nanti, aku tidak bisa selalu berada di sampingmu atau melindungimu dari orang jahat."


Vanes protes. "Kata Kak Kenzo tadi, Kak Kenzo akan selalu melindungiku."


Mobil Kenzo berhentu karena lampu lalu lintas berganti menjadi warna merah. Kenzo mengelus sayang puncak kepala Vanes.


"Vanessayang, Ada saatnya nanti kamu mandiri. Suatu hari nanti, jika aku sudah menikah dengan perempuan yang ku cintai, Aku tidak bisa lagi fulltime untukmu, sayang. Aku juga harus bersama istriku nantinya. Dan..Aku juga tidak lagi menjadi milikmu sepenuhnya."


Vanes menangis. Kenzo harus selalu menjadi miliknya! Karena hanya Kenzo yang selalu membuatnya merasa aman. Dia sudah bergantung pada Kenzo. "Aku nggak mau Kak Kenzo menikah. Kak Kenzo hanya boleh menjadi milikku! Aku benci perpisahan, Kak! Aku nggak mau pisah sama Kak Kenzo! Menikahlah denganku saja begitu! Hiks Hiks Hiks."


Kenzo terdiam. Dia kemudian melajukan mobilnya. Menepikan di bahu jalanan yang sudah sepi. Sementara Vanes, dia masih menangis. Jika Kenzo pergi, maka artinya separuh jiwanya juga ikut pergi. Kenzo terdiam lagi.


"Aku nggak mau Kak Kenzo jadi milik orang lain..."


Kenzo menggenggam tangan Vanes yang menangis. "Vanessa..Apa yang kamu bicarakan? Hari itu pasti akan datang, Vanes."


Vanes menarik tangannya yang di genggam oleh Kenzo. Kemudian dia menyeka air matanya. "Aku sudah bilang dengan jelas! Aku tidak ingin dipisahkan sama Kak Kenzo. Aku takut, Kak! Aku takut Juna mengangguku! Argh! Hanya Kak Kenzo lah yang bisa membuatku merasa nyaman!"


"Juna?" Kenzo kaget. "Arjuna Rakatya Pradita, kan?"


"IYA! DIA! DIA YANG SELALU MENGANGGUKU SELAMA INI." Vanes sudah sangat frustasi. Akal sehatnya sudah tak bermain lagi. Dia berfikir. Jika dia menikah dengan Kenzo, dia akan selalu terlindungi. Untuk masalah cinta, iti nanti. Karena cinta bisa timbul karena terbiasa.


Kenzo tertegun. Dia tak habis pikir dengan Vanes. Juna yang seumuran denganya, untuk apa menganggu Vanes yang masih SMP?.


"Kenapa dia?" Hanya itu yang lolos dari mulut Kenzo. Kenzo tiba-tiba menjadi bodoh.


"Aku rasa kamu masih ingat saat di toet itu, Kak. DIA YANG MELAKUKANNYA! DIA YANG INGIN MENYENTUHKU! DIA! ARJUNA RAKATYA PRADITA." Ucap Vanes menggebu-nggebu.


"BRENGSEK JUNA. SIALAN!

__ADS_1


__ADS_2