My Little Wife

My Little Wife
Ep. 140 > Next


__ADS_3

_____ Dunia tidak akan berhenti, hanya karena kau sedang terpuruk. Jika kau selalu mengandalkan orang lain disetiap masalah yang kau hadapi. Maka kau akan semakin terpuruk! Ingat, bayanganmu saja meninggalkanmu disaat gelap! _____ ^Author^


"Nyonya.. Nyonya!" Pekik Mbak Ati sedikit keras, membuat Azalea tersentak dari lamunannya. Mbak Ati sudah mencoba memanggil Azalea sedari tadi, tapi Azalea sepertinya melamun terlalu dalam. Hingga ia tidak menyadarinya. "Ponselmu sudah berdering sejak tadi!" Lanjut Mbak Ati.


"Oh.." Azalea langsung menoleh ke arah ponsel yang berada tepat didalam genggaman tangannya. Bisa-bisanya ia tidak menyadari itu. "Hallo, Bian." Azalea langsung menjawab panggilan itu.


"Apa kau sedang sibuk?"


"Tidak, ada apa?"


"Ada yang ingin aku bicarakan, tapi rasanya tidak leluasa jika bicara lewat telpon. Apa kau punya waktu?"


"Mmmm.. " Azalea berfikir sejenak.


"Tidak masalah jika kau tidak bisa."


"Baiklah, kau ingin bertemu dimana?"


"Nanti akan aku kirimkan lokasinya."


"Baik."

__ADS_1


Panggilan berakhir. Dan Azalea terbelalak ketika melihat panggilan tak terjawab di ponselnya. "Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya?" Gumam Azalea, padahal jelas-jelas ponsel itu berada tepat didalam genggamannya.


Azalea bangkit dari duduknya, melamun dan termenung benar-benar membuang waktunya dengan percuma.


*


"Jadi sudah kau putuskan?" Tante Ema kembali memastikan keputusan Zico, tentang tawarannya sebelumnya.


"Iya, Ma. Bukankah sudah aku katakan, aku bersedia." Imbuh Zico sambil bersandar disandaran sofa.


"Kau yakin? Tanpa persyaratan apapun?" Kini, Ella yang berada disampingnya pun ikut memastikan dengan jelas. Tentang persetujuan Zico untuk mengambil alih sementara Resort. Pasalnya, bertahun-tahun yang lalu. Ia menolak keras untuk mengelola Resort. Bahkan sejak pertama, saat Tante Ema memohon hingga ia sampai harus menikah dengan Azalea. Semuanya penuh dengan drama-drama tak tertebak.


"Jadi sebenarnya, kalian ini ingin aku setuju atau tidak?" Zico terkekeh pelan, seakan ucapannya barusan sangat sulit untuk dipercaya oleh dua wanita yang sedang dihadapannya itu.


"Tentu saja ingin kau setuju. Tapi aneh saja, jika kau setuju begitu cepat. Tidak seperti biasanya. Jika kau mengajukan beberapa syarat, sebelum kau setuju. Itu baru wajar!" Imbuh Tante Ema dengan wajah seriusnya.


"Ma.. Aku bukan lagi anak 20-an tahun sekarang! Aku sudah dewasa. Semua orang pasti akan berubah!"


"Itu masuk akal." Ella menimpali.


"Emm, baiklah jika memang kau sudah setuju. Sekarang Mama akan bisa merawat Papamu dengan tenang jika sudah ada kau disini." Tante Ema menghela nafas lega.

__ADS_1


"Iya, Mama tidak perlu risaukan Resort sekarang. Tolong fokus saja dengan kesehatan Papa untuk saat ini." Zico menunduk, ada rasa bersalah didalam hatinya. Karena rahasia sialan itu, ia hampir saja kehilangan Ayahnya. Mungkin itu yang akhirnya membuat Zico setuju mengambil alih Resort. Untuk menebus kesalahannya.


Tante Ema tersenyum puas, akhirnya. Zico bisa menetap lebih lama. Ia bisa punya lebih banyak waktu untuk bersama anaknya, putra kesayangannya. Setelah sebelumnya Zico memutuskan untuk tinggal di negara yang berbeda darinya, kini karena masalah itu akhirnya Zico bisa menetap di negara yang sama dengannya. Mengunjunginya lebih sering, lebih perhatian, dan lebih banyak menghabiskan waktu dengannya akhir-akhir ini. Seakan sekarang, ia rasanya ingin berterimakasih pada masalah itu.


"Baiklah kalau begitu, jika rapat ini sudah selesai? Aku mohon undur diri. Masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan Pak Zico." Imbuh Ella, seiring bangkit dari duduknya.


"Baiklah, silahkan!" Sambil menundukkan kepalanya sedikit.


"Tante, aku kembali dulu keruanganku." Ella melemparkan senyuman terbaiknya ke arah Tante Ema, yang akhirnya juga ikut tersenyum ke arahnya.


"Iya, terimakasih untuk kerja kerasmu hari ini, El." Maksudnya kerja keras karena sudah berhasil mengantarkan kontrak kepada Pak Bram dengan penuh perjuangan tadi.


"Kau terlalu sungkan, Tan." Ella terkekeh pelan, setelah itu meninggalkan ruangan itu. Ia kembali keruangannya yang berada tepat disamping ruangan utama.


"Mama juga akan kembali kerumah sakit kalau begitu." Tante Ema bangkit dari duduknya. "Mulai sekarang, Mama serahkan Resort sepenuhnya padamu!" Lanjutnya kemudian.


"Baik, Ma." Balas Zico, yang kini juga sudah ikut bangkit dari duduknya. Mengantar kepergian Mamanya.


Setelah mengantar Tante Ema sampai ke mobilnya, Zico kembali keruang kerjanya. Merebahkan tubuhnya di atas sofa. "Aku merindukanmu!" Zico membatin, sambil meletakkan lengannya di atas keningnya.


_____Terus dukung Author dengan cara, SUBSCRIBE > LIKE > KOMEN > VOTE > GIFT > RATING____

__ADS_1


__ADS_2