My Little Wife

My Little Wife
37. Rindu


__ADS_3

Vanes tersenyum ketika melihat Hana terduduk pingsan. Di sebelahnya berdiri, ada Dani dan Nesya yang mengapitnya. Sedangkan Tirta, mencoba membangunkan Hana yang sedang pingsan dengan menepuk pipi Hana keras.


"Hei! Bangun!" Tukas Tirta.


Hana menggeram pelan ketika tepukan terakhir Tirta. Pipinya terasa panas. Ada bau asing yang menyeruak indra penciumannya.


"Aku ada dimana?" Tanya Hana. Tampangnya melas. Namun, saat melihat Vanes dia jadi takut. "Va-Vanessa?"


"Hai Hana!" Sapanya dengan senyum jahat.


"Kamu? Kenapa kamu disini?" Tanya Hana dengan nada membentak.


Bentakan Hana tak mempan sekali. Vanes maju mendekati Hana. Dia tahu jika dia jahat. Tapi, ini lah sifatnya. Jika sudah tersakiti, dia tidak akan diam saja.


"Aku yang culik kamu!" Kata Vanes penuh amarah.


"Kenapa?" Isak tangis pilu Hana terdengar. "Kenapa kamu culik aku, Van? Apa salahku? Kita ini saudara."


Vanes langsung menarik rambut Hana. "Salahmu itu banyak, Hana. Kamu merebut keluargaku. Kasih sayangnya! Semuanya telah kamu rebut. Untuk bersaudara denganmu, aku tidak sudi, Hana. Aku benci dirimu. Dan, sekarang, rasakan pembalasanku. Dani! Tirta! Silahkan!"


"VANESSA! TOLONG! LEPASKAN!"


Namun, teriakan Hana tak di gubris oleh Vanes dan Nesya. Mereka berdua pergi dari gudang tempat mereka menyembunyikan Hana.


***


Pagi-pagi, Vanes sudah berada di toilet. Mual-mual yang di alaminya sejak subuh belum juga reda. Malah makin parah. Dia sempat mengira jika dirinya hamil. Tapi, Vanes segera mengusir pikiran itu. Mengingat dia beberapa hari yang lalu mengalami keguguran. Untuk urusan bercinta, dia hanya melakukannya sekali dengan Kenzo setelah kejadian keguguran itu.


"Kenapa denganku?" Gumam Vanes lemah sambil merosot ke bawah lantai.


***


"Apa yang anda keluhkan, Nona Atranendra?" Dokter perempuan bernama Mella itu tersenyum melihat Vanes.


"Saya dari tadi mengalami mual-mual yang tak terkontrol, Dok. Nafsu makan yang hilang. Badan yang suka lemas." Vanes mengucapkan semua keluh kesahnya.


Dokter Mella tersenyum sambil tangannya menggenggam tangan Vanes. "Anda sedang mengandung, Nona Atranendra. Usianya sudah tujuh minggu."


"Hah? Hamil?" Kaget Vanes.


"Kenapa? Anda tidak suka dengan kehamilan anda?" Tanya Dokter Mella.


"Bukan seperti itu." Vanes menggeleng. "Saya baru saja mengalami keguguran sekitar satu minggu yang lalu." Ucapnya berterus terang.


"Benarkah? Ada dua kemungkinan. Pertama, bisa saja jika anda mengandung dua bayi atau kembar dan dinyatakan salah satunya meninggal. Kedua, alat yang memeriksa anda waktu itu mungkin sedang rusak, Bagaimana kalau saya cek lagi?" Dokter Mella mempersilahkan.


"Baik, dok. Tolong di cek lagi."


Mereka berdua berdiri. Vanes menidurkan dirinya di bankar dan Dokter Mella langsung melakukan aktivitasya, setelah di cek, hasilnya memang ada kehidupan di perut Vanes. Menandakan jika Vanes hamil.


"Jika anda masih belum percaya, anda bisa periksa di rumah sakit lain." Saran Dokter Mella.


Vanes tersenyum seraya mengangguk.

__ADS_1


***


Sudah tiga rumah sakit yang di datangi oleh Vanes, dan hasilnya semua sama. Dia positif hamil. Rasa senang menjalar. Tapi ada rasa yang sulit di mengerti olehnya, entah itu rasa apa. Hatinya mengatakan jika Kenzo tidak boleh tahu tentang kehamilan ini. Vanes tahu jika saat ini, Kenzo sedang sibuk dengan pembangunan proyek baru.


Vanes tidak ingin menganggu Kenzo. Lagi pula, dia juga harus menuntaskan dendamnya. Jika Kenzo sampai tahu ini, Kenzo pasti akan memikirkannya. Sebagai seorang istri, Vanes tak ingin Kenzo jatuh sakit jika harus memikirkannya dan proyek itu.


"Aku harus bisa menjaganya. Aku tidak ingin kehilangan bayiku lagi." Tekad Vanes. "Aku tak akan memberi tahu siapapun tentang hal ini."


Rasa trauma itu menjadi pelajaran sekaligus menghantui Vanes. Pelajaran jika harus berhati-hati. Dan saat melakukan sesuatu, dia selalu terfikir kejadian waktu itu.


"Permisi Nyonya, ada Nona Nesya dan Nona Jihan di ruang tamu." Sari membuyarkan lamunan Vanes.


Vanes mengerjap. "Iya. Suruh tunggu. Buatkan sirup dan buatkan camilan yang banyak."


"Iya, Nyonya. Saya permisi."


"Hm."


Vanes menghela nafas. Dia merapikan tatanannya. Setelah itu, dia turun ke bawah untuk menemui kedua sahabatnya.


"Hei! Ada apa?" Sapa Vanes sambil menuruni tangga.


Keduanya langsung menoleh. "Hei Vanessa! Kita berdua lagi bosan aja. Jadi ke main ke rumah kamu hehehe." Jawab Jihan.


Vanes duduk di sofa depan mereka. "Kebiasaan."


"Emang suami kamu kemana, Van?" Tanya Jihan.


"Wah. Bisa perang bantal nih di rumah ini. Ayo nginep." Suara antusias Nesya menggelegar.


Vanes melotot. "Enggak! Beda ya! Aku ini kan udah bersuami. Bukan kayak dulu lagi."


Nesya tertawa. "Iya-iya. Oh iya, Van, Dani sama Tirta sudah jalanin tugasnya."


Mulut Vanes mengagah. Jihan menatap keduanya dengan tatapan penuh tanda tanya. Pembahasan Nesya tiba-tiba melenceng begitu saja.


"Dani dan Tirta? Kenapa?" Tanya Jihan.


Vanes beralih ke Jihan. "Biasa. Hal yang pernah aku lakukan ke kamu."


"Dendam?"


"Yes."


"Kenapa lagi?" Tanya Jihan.


Nesya langsung menceritakan semuanya perihal yang di alami oleh Vanes dengan emosi yang meludak. Jihan mendengarkannya dengan seksama. Perasaan Jihan ikut merasakan apa yang di rasakan oleh Vanes.


"Begitu." Kata Nesya di akhir cerita.


"Kasihan kamu, Van. Aku turut berduka cita ya? Oh iya, jadi Hana sekarang kamu sekap?" Tanya Jihan.


Vanes mengangguk. "Iya. Aku sekap."

__ADS_1


"Ini terlalu berlebihan, Vanes."


"Aku tahu itu, Han. Aku memang berlebihan. Tapi, aku punya kabar bahagia." Kata Vanes.


Nesya dan Jihan langsung mengambil posisi untuk menyimak. "Berita apa?"


"Berita kalau aku hamil."


"Hah? Hamil?" Kaget mereka berdua.


"Iya." Jawab Vanes.


"Aku tahu hal ini. Biasanya bayi yang di kandung itu kembar. Dan, yang di bilang gugur itu, adalah salah satu dari mereka." Kata Jihan.


"Kamu tahu dari mana?" Nesya mengernyitkan dahinya.


"Film."


***


Kenzo mengaduh kesakitan ketika tangannya tertusuk besi yang jatuh dari lantai proyek yang di bangun. Para pekerja langsung mengerubuni Kenzo kemudian membawanya ke rumah sakit terdekat.


Darah segar mengalir terus menerus. Nama Vanes ada dalam pikirannya saat ini. Kenzo merasakan sesuatu. Dia jadi teringat Vanes yang saat ini beda negara dengannya.


"Arghhhh.." Keluh Kenzo ketika dokter mengobati lukanya.


Vanes. Hanya itu. Dia ingin sekali bertemu dengan istrinya itu. Menanyakan kabarnya. Memeluknya dengan erat. Melepas kerinduan yang selama ini membuncah.


Tak terasa air mata Kenzo keluar. Rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Di hatinya, juga ada rasa rindu yang selama ini disampingkan olehnya.


Tangannya sudah di perban. Tapi, rasa sakitnya masih terasa. Kenzo ingin pulang. Namun, apadaya. Dia tidak bisa pulang. Masih banyak hal yang harus di selesaikan.


______


Budayakan :



Vote


Komen


Follow


Like



Dari keempat nomor di atas sangat membantuku🤣buat semangat nulis.


Mau QnA silahkan komen🙂


See you next eps😚

__ADS_1


__ADS_2