
Happy reading♡
Flashback on
Lima tahun yang lalu, di sebuah taman kota yang ada di Bandung.
Ashel dan Liam sedang pergi bersama. Mereka setuju untuk mampir ke taman kota sebelum pulang ke rumah mereka. Keadaan mereka berdua masih memakai seragam sekolah. Saat itu mereka mereka masih duduk di bangku SMP.
Ashel dan Liam bertetangga, jadi setiap hari mereka sering berangkat dan pulang bersama. Pertemanan mereka berjalan cukup baik. Apalagi Liam sering membantunya dan menemaninya disaat Ayu sedang tidak bersamanya.
Saat ini kedua anak itu sedang duduk di sebuah bangku panjang yang ada di taman. Mereka sedang asik menikmati es krim yang dibelikan oleh Liam.
Langit Bandung sore itu sangat indah. Cuacanya juga cukup sejuk dan tidak panas.
"Shel, lo ada rencana lanjutin SMA kemana?" Tanya Liam.
"Yaelah Iam, kita aja baru kelas satu SMP," ucap Ashel.
"Ya kan gak salah kalo kita rencanain jauh jauh hari. Biar nanti kita gak nyesel juga," ucap Liam.
"Belum kepikiran kesana sih. Lihat nanti aja. Kamu sendiri mau kemana?" Tanya Ashel.
"Kemana lo pergi, gue pasti ikut Shel," ucap Liam.
"Kok gitu?" Tanya Ashel.
"Jujur aja Shel, gue tahu ini hal yang gak baik buat kita yang masih SMP. Tapi kan yang namanya suka gak mandang umur," ucap Liam.
"Maksudnya? Aku gak paham," ucap Ashel.
"Kamu tahu kan selama ini kita sering bersama. Bahkan dari kita kecil. Entah kenapa rasa nyaman yang aku rasain itu beda. Kayaknya aku suka sama kamu," ucap Liam.
"Suka sebagai pacar gitu? Kayak anak anak SMA yang ada disana?" Tanya Ashel menunjuk dua orang remaja SMA yang tengah berbincang mesra di taman yang sama.
Liam menganggukan kepalanya. Ia menatap ke arah Ashel dengan senyuman hangat. Senyuman yang hanya Liam berikan pada Ashel.
__ADS_1
Tanpa mereka berdua ketahui, salah satu teman sekelas mereka mengikuti mereka sejak tadi. Dia mendengar semua percakapan mereka berdua karena jaraknya duduk tidak jauh dari Ashel dan Liam.
Orang itu adalah Dona. Dona yang selalu berusaha mencari perhatian pada Liam selama ini. Namun ternyata kenyataan pahit ia dapatkan hari ini. Dimana orang yang ia sukai lebih menyukai temannya sendiri.
Semakin lama Dona diam disana maka ia akan semakin sakit hati.
Dona mengepalkan tangannya. Ia tidak terima jika Liam dan Ashel bersama. Jika Liam tidak bisa bersamanya maka Ashel pun tidak bisa. Ia pun segera pergi dari sana. Dadanya terasa sesak mendengar ucapan Liam tadi.
"Maaf Iam, aku gak bisa. Kita masih kecil. Lagian perjalanan kita masih jauh," ucap Ashel.
"Iya gak papa kok santai aja," ucap Liam.
Flashback off
***
Di sebuah pedalaman hutan Indonesia, berdiri sebuah rumah kecil. Rumah itu berbentuk persegi dan di dalamnya terdapat sebuah ruang bawah tanah.
Ashel dibawa oleh Dona kesana. Tempat dimana jarang sekali dilewati orang. Sebuah hutan yang sangat sunyi yang hanya dihuni oleh para binatang buas yang hidup disana.
Ashel sudah diikat ke tiang. Posisinya saat ini berdiri dan tangannya diikat keatas.
Ia masih tertidur karena obat bius yang disuntikan Dona pada tubuhnya.
"Siram dia," titah Dona pada bawahannya. Bawahannya pun langsung mengambil seember penuh berisi air dingin.
Byurrr...
Ashel terlonjak kaget. Ia langsung membuka matanya. Ruangan ini sangat pengap. Pencahayaannya juga sangat minim.
"Akhirnya lo bangun juga, teman lama." Ucap Dona.
"Udah dari lama gue nungguin ini semua. Ternyata perlu waktu juga buat bawa lo ke tempat ini. Gue gak nyangka ternyata keluarga lo sangat berpengaruh juga," ucapnya. Ashel hanya diam saja menatap ke arah Dona.
"Orang yang udah bunuh Liam harus ikut mati juga. Tapi tenang aja, lo gak bakalan mati dengan mudah. Gue lebih suka cara yang sulit," ucap Dona.
__ADS_1
"Tapi sebelum lo mati, gue mau kasih tahu sesuatu. Mungkin selama ini lo lagi nyari orang yang bikin lo makan dessert silet, kotak merah berisi silet, dan kecelakaan teman lo Felli," jeda Dona. Ia bangun dari duduknya dan mendekat ke arah Ashel.
"Itu semua ulah lo dan gue udah duga," ucap Ashel.
Tawa Dona mengudara. Para bawahnnya merinding saat mendengar suara tertawa Dona. Sedangkan Ashel hanya tersenyum remeh.
"Gue udah tahu dari awal tentang lo. Gak nyangka gue bisa masuk ke sekolah yang sama dengan lo dan parahnya lagi kita bisa satu kelas. Meskipun lo udah ganti nama lo, tapi gue tetep inget siapa lo. Agnesya Donita yang sekarang berubah menjadi Dona Agnes," ucap Ashel.
"Lo cukup pinter juga ternyata," ucap Dona.
"Jelas, makanya Liam lebih suka sama gue dibanding dengan lo," ucap Ashel. Ia sengaja memancing emosi Dona. Karena ia tahu jika Dona sangat menyukai Liam bahkan sampai saat ini.
"Sialan lo anj*ng," ucap Dona. Ia pun melayangkan beberapa tamparan keras pada pipi kiri dan kanan Ashel.
Sedikit darah muncul dari sudut bibir Ashel. Namun Ashel sama sekali tidak terlihat kesakitan ataupun takut.
"Lo yang salah kok lo yang nyolot? Bukannya itu faktanya? Makanya jadi cewek jadi caper, cowok juga bakalan ilfeel sama lo kalo terlalu over caper," ucap Ashel.
"Lo nya aja yang so kecantikan makanya lo goda Liam," ucap Dona.
"Well, tanpa gue goda. Liam udah lebih dulu suka sama gue. Gue gak harus caper kayak lo kali. Miris banget, sampe banting harga buat dapetin Liam," ucap Ashel.
Dona naik pitam. Ia tidak terima di hina seperti ini oleh Ashel. Ia mengambil cambuk yang ada di dekatnya dan langsung melayangkan cambuk itu ke tubuh Ashel.
Cambukan Dona cukup keras membuat Ashel hampir berteriak dibuatnya. Ashel sekuat tenaga menahan teriakannya. Ia tidak mau terlihat lemah di depan Dona. Jika itu terjadi, maka Dona akan merasa senang. Dan Ashel tidak mau hal itu terjadi.
"TERIAK AJA. GAK USAH SO KUAT," teriak Dona menggila.
Ashel hanya diam saja. Karena jika ia membalas ucapan Dona maka ia juga pasti akan berteriak kesakitan.
Dona terus mencambuk tubuh Ashel. Ia berteriak tidak jelas dan sesekali tertawa girang. Cambukan di tubuh Ashel sudah banyak. Keringat mengucur dari pelipisnya. Nafasnya juga memburu.
"KARENA LO LIAM MATI DAN LO JUGA HARUS MATI," teriak Dona. Ia semakin menggila mencambuk Ashel. Bahkan ia mencekik leher Ashel menggunakan tali cambuk itu.
Tbc.
__ADS_1
Semoga suka. Vote komen jangan lupa yaaa makasih