My Little Wife

My Little Wife
Bab 244 : Maniak Buah


__ADS_3

Happy reading♡


Ashel terbangun dari tidurnya saat merasakan sesuatu bergerak di area dadanya. Spontan ia membuka matanya dan melihat ke arah dadanya.


"Keganggu ya?" Tanya Kavin tanpa merasa bersalah.


"Lepas," ucap Ashel. Ia menepis tangan Kavin yang bertengger diatas dadanya.


"Gak mau," ucap Kavin. Ia bahkan kembali mengukung tubuh istrinya.


"Mau sampai kapan kamu sakitin aku kayak gini mas? Untungnya kamu punya anak dari aku apa? Toh kamu juga bakalan punya anak dari wanita itu," ucap Ashel.


"Terserah aku dong mau punya anak dari siapa aja. Tugas kamu cuma mengandung doang," ucap Kavin.


"Aku gak mau! Kamu ngerti bahasa manusia gak sih?!" Tanya Ashel. Ia mendorong tubuh suaminya agar menghindar dari namun bukannya menghindar, tangan Kavin malah menahan kedua tangan istrinya diatas kepalanya.


"Oke gini aja," jeda Kavin membuat Ashel menatap ke arahnya.


"Kalo kamu mendes*h karena sentuhan aku berarti jangan harap kamu bisa lepas dari aku begitu sebaliknya. Bagaimana?" Tawar Kavin.


Ashel terdiam. Bagaimana bisa ia tidak mendes*h saat Kavin menyentuhnya?! Selama ini mereka sering berhubungan sebelum Kavin ketahuan selingkuh. Dan Kavin sudah pastinya mengetahui dimana saja titik sensitif Ashel.


"Kamu gila?! Itu sama saja bukan pilihan," ucap Ashel.


"Pilihan atau bukan aku tidak peduli sayang. Yang jelas  kamu harus memilih. Oh, atau perlu aku yang menentukan saja?" Tanya Kavin tersenyum miring.


"Aku tahu kami tidak pernah tahan dengan sentuhan sentuhan dari ku. Jadi untuk apa meminta berpisah?" Tanya Kavin. Tangannya mulai bergerayang diatas tubuh Ashel.


"CUKUP MAS! AKU GAK MAU LAGI," teriak Ashel.


"Benarkah?" Tanya Kavin. Tangannya mulai aktif bergerayang di tubuh Ashel.


Ashel lemah? Ya, dia lemah karena saat ini tubuhnya sangat lelah karena harus melayani nafsu bejat suaminya.


Ashel memang bisa melawan Kavin. Namun saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan selain diam dan menuruti keinginan suaminya.


Dulu sebelum menikah, Ashel sudah berjanji akan selalu mengikuti keinginan suaminya. Ia tidak bisa melanggar janji itu.


Lagi pula jika ia memberitahu keluarganya, ini pasti akan membuat mereka bersedih karena hubungan Ashel dan Kavin berawal dari perjodohan. Ashel tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi keluarganya saat tahu jika ia diselingkuhi.


Kavin orang yang cukup berpengaruh dan banyak sekali bodyguard yang ia pekerjakan untuk tetap memantau dirinya. Ashel tahu ia sering diikuti oleh orang suruhan Kavin saat ia keluar rumah, hanya saja ia tidak tahu letak mereka berada dimana.


Kavin orang yang nekat. Itu yang Ashel ketahui.


Dia akan menghalalkan segala cara agar semua keinginannya terpenuhi.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa kamu masih ingin menahan suara merdu mu itu?" Tanya Kavin.


"***-kup maa-sshhh," ucap Ashel.


"Kamu tahu kan aku gak akan pernah cukup kalo sama kamu? Jadi jangan berharap untuk pergi dari hidup ku," ucap Kavin.


Lama lama Ashel tidak mampu menahannya lagi. Gerakan tangan Kavin di tubuhnya cukup membuatnya kelimpungan.


Kavin tersenyum kemenangan saat mendengar suara itu dari istrinya. Ia kemudian menyambar bibir istrinya. Cukup dalam dan menuntut, namun Kavin sangat menyukainya. Manis sekali.


"Aku harus pergi. Jangan menunggu ku," ucap Kavin. Ia pun bangun dari atas tubuh Ashel dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Sedangkan Ashel terdiam. Sepertinya suaminya itu akan pergi menemui wanita itu.


Ashel memukul mukul selimut yang ia pakai. Kenapa suaminya seperti ini?


Sialnya Ardian sangat susah dihubungi disaat genting seperti ini.


***


Kavin sudah selesai membersihkan tubuhnya. Ia juga sudah tampan dengan tampilan casualnya. Sebelum pergi, ia sempat mendekat lagi ke arah istrinya yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Tatapannya kosong.


Cupp...


Kavin berjalan keluar rumah. Di depan sudah siap mobil miliknya.


"Awasi pergerakan istri ku," ucap Kavin.


"Baik tuan."


Setelah Kavin masuk, mobil pun melaju meninggalkan area rumah.


Sedangkan di dalam kamar, Ashel masih terdiam dengan pikiran kosong. Pikirannya berkelana kemana mana.


Ia tidak boleh diam saja seperti ini. Ia harus mempertahankan pernikahannya dan ia harus mencari tahu kebenarannya. Apa mungkin suaminya itu memang selingkuh atau tidak.


Ashel bangun dari tempat tidurnya dan berjalan perlahan lahan menuju ke kamar mandi. Ia harus segera membersihkan tubuhnya.


Sekitar satu jam lamanya Ashel membersihkan badannya. Saat ini ia sudah bersiap untuk keluar. Tidak ada artinya juga ia terus menangis dan berdiam diri di rumah ini.


Di bawah, bi Sati menawarkan makan namun Ashel menolaknya. Ia sangat tidak ingin makan saat ini meskipun perutnya terasa lapar.


Ashel berjalan perlahan keluar rumah. Saat ini tampilannya sangat sederhana. Sweater rajut oversize dan celana legging hitam.


"Biar kami yang antar anda nyonya," ucap Jo.

__ADS_1


"Gak usah, lagian aku mau jalan pake scoter," ucap Ashel. Ia pun mengambil scoternya dan menaikinya kemudian pergi dari sana.


"Ikuti nyonya muda, awasi dari jauh. Jangan sampai membuatnya risih," ucap Jo.


Ashel membawa scoternya mengelilingi jalanan. Ia tidak tahu tujuannya kemana saat ini. Mungkin ke taman atau cafe Ashel masih belum menentukannya.


Baru berjalan beberapa meter saja rasanya tubuh Ashel sudah lelah. Tidak seperti biasanya.


Saat berjalan dengan scoternya, namun matanya menangkap toko penjual buah buahan import. Tiba tiba saja dia ingin sekali memakan buah.


Ashel memarkirkan scoter miliknya dan masuk ke dalam toko itu. Matanya menatap binar ke arah buah buahan yang dipajang.


"Ada yang bisa dibantu?" Tanya pelayan toko.


"Saya mau beberapa buah. Tapi tolong di cuci dulu disini bisa? Soalnya saya pengen banget makan buahnya sekarang," ucap Ashel.


"Bisa. Buah apa yang anda inginkan?" Tanya pelayan itu.


"Anggur, stroberry, blueberry," ucap Ashel.


"Baik, akan kami siapkan terlebih dahulu," ucapnya kemudian pergi dari hadapan Ashel.


"Heran banget, kok bisa ya buahnya di cuci di tokonya," gumam Ashel.


"Tapi yaudah gak papa. Syukur juga," ucapnya lagi.


Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, akhirnya buah buahan yang ia mau sudah berada di tangannya. Ia pun membayarnya dan pergi dari sana.


Kebetulan di luar toko terdapat kursi dan meja, jadi Ashel bisa memakannya disana.


Ashel duduk di salah satu kursi disana dan mulai memakannya. Mungkin dengan ini moodnya lebih baik walaupun pikirannya terus memikirkan tentang masalah yang saat ini ia hadapi.


Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Ashel sangat tidak ingin berpisah dengan suaminya, namun jika tidak ada pilihan apa boleh buat. Ia harus menetapkan pilihannya nanti.


"Loh, Ashel?"



...Ashel sama sape neehhhh...


Tbc.


Ramein goys.


Kalo ada typ maapin.

__ADS_1


__ADS_2