My Little Wife

My Little Wife
Ep. 145 > Next


__ADS_3

Azalea mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat pada kedua orang yang berbadan kekar itu untuk berhenti. "Bisa tolong tinggalkan kami sebentar?" Pinta Azalea.


"Baik." Pria paruh baya dan kedua pria lainnya itu pun keluar dari apartemen itu, dan menunggu diluar.


"Ayo, silahkan duduk." Imbuh Azalea, mempersilahkan duduk Maya di ruangan yang hanya tertinggal sofanya saja.


Maya, dengan wajah penuh amarah. Hanya bisa menatap berang ke arah Azalea yang terlihat begitu angkuh.


Kini, keduanya sudah duduk saling berhadapan. Dan saling menatap tajam.


"Mungkin kau menganggap, ucapan ku tempo hari hanya gertakan biasa. Kau terlalu meremehkan orang biasa seperti ku Maya."


"Kau pikir aku takut? Tidak Lea! Aku sama sekali tidak takut. Silahkan saja kau beli gedung ini. Aku masih bisa tinggal ditempat lain!"


Azalea tersenyum sinis. "Aku tahu! lagi pula kau hanya bisa menyewa kamar yang lebih kecil dari apartemen ini. Dan aku, juga akan membelinya." Azalea bangkit dari duduknya. "Kau tahu, semua ini aku pelajari dari kalian! Uang bisa membeli apapun, bahkan harga dirimu sekalipun!" Azalea meninggalkan apartemen itu. Lalu kembali menyuruh kedua pria yang berbadan kekar itu untuk melanjutkan pekerjaannya, yaitu mengeluarkan secara paksa barang-barang Maya.


*


Setelahnya, Azalea kembali mengemudikan mobilnya. Ia melirik ke arah jam yang melingkar manis di pergelangan tangannya.


"Akan aku selesaikan hari ini juga!" Tekatnya.


Azalea menuju kerumah sakit, dimana Ayah Mertuanya dirawat. Ia harus menemui langsung kedua mertuanya, untuk meminta maaf. Jika hanya mengandalkan Zico, entah kapan ia akan menerima maaf dari mertuanya itu.


Pagi kembali menyongsong, Azalea sudah menguap berulang kali. Bagaimana tidak, ia belum tidur sedetik pun. Masalah itu benar-benar menyita tenaga, waktu dan pikirannya.


Namun apa boleh buat, ia masih harus menempuh perjalanan beberapa menit lagi untuk sampai di tempat tujuan.


Azalea sampai dirumah sakit sekitar pukul 07.10 pagi. Setelah menemui resepsionis dan menanyakan ruang mana Ayah mertua nya di rawat, Azalea langsung bergegas. Dan kebetulan sekali, saat ia sampai didepan ruangan Om Hary dirawat. Tante Ema keluar dari sana.


Saat melihat Azalea, Tante Ema langsung memasang wajah masamnya.


"Ma.." Lirih Azalea, dengan ekspresi bersalahnya. Itu bukan sandiwara, ia benar-benar menyesal dan merasa sangat bersalah atas apa yang telah terjadi.


"Untuk apa kau kesini! Apa Zico tidak memberitahu mu, Mama melarang kau datang kesini." Imbuh Tante Ema penuh intonasi.

__ADS_1


"Lea minta maaf, Ma. Sungguh!" Azalea meraih pergelangan tangan Tante Ema, air matanya mengalir. Lidahnya kelu, ia tidak sanggup melihat mata ibu mertuanya yang juga sudah berkaca-kaca.


"Lea benar-benar tidak menyangka. Semuanya akan jadi seperti ini, Mama boleh marah sama Lea. Mama boleh tidak memaafkan Lea, tapi Lea mohon. Dengarkan dulu penjelasan Lea." Lirih Azalea cukup getir. Dan itu sedikit meluluhkan hati ibu mertuanya.


Tante Ema memutuskan untuk mendengarkan penjelasan Azalea. Ia mempersilahkan Azalea untuk masuk ke kamar VVIP itu, yang memiliki ruang tamu khusus.


Azalea dengan isakan tangisnya. Mulai menjelaskan detail setiap inci dari kisah awal mula ia sampai harus menjual rahimnya.


Tante Ema langsung merangkul Azalea, memeluk Azalea dan ikut menangis.


Sebenarnya, dua hari belakangan ini, ingatan tentang Azalea terus saja terngiang-ngiang dalam benaknya. Apalagi setelah mendengar cerita dari Zico, walaupun tidak sedetail cerita Azalea. Namun itu cukup membuatnya berfikir ulang. Mencoba memahami dan menelaah, Azalea berbohong juga karena sudah menandatangani kontrak dengan Biandra dan juga Maya.


Karena sudah terlanjur marah-marah, ia merasa gengsi untuk menghubungi Azalea terlebih dahulu.


"Mama sudah memaafkan mu." Imbuhnya kemudian.


"Sungguh?" Azalea melepaskan pelukan itu, menatap kedua mata Tante Ema.


Tante Ema mengangguk, dengan air mata yang masih mengalir. Namun bibirnya tersenyum.


"Terimakasih, Ma. Terimakasih!" Azalea benar-benar tidak menyangka, Tante Ema bisa memaafkannya pada akhirnya. Seandainya saja ia mendengar perkataan Zico. Untuk tetap tidak menemui Tante Ema. Dan menunggu sampai amarah nya mereda. Mungkin sampai sekarang ia masih belum bisa mendapatkan kata maaf itu.


"Itu bukan salahmu, sayang. Orang yang menyebarkan rahasia itu yang salah. Padahal kalian sudah sejak lama menutup buku. Dan kembali menjalani hari-hari kalian." Sungguh bijak, akhirnya Tante Ema bisa kembali berfikir jernih.


Azalea kembali tersenyum haru. Sekali lagi, ia memeluk ibu mertuanya dengan hangat.


"Ayo, temui Papa. Dia sudah sejak lama menanyakan kabarmu." Ajak Tante Ema.


Keduanya pun, beranjak dari duduknya. Setelah sama-sama menyeka air matanya. Tante Ema membawa Azalea untuk menemui Om Hary. Diruangan yang berbeda.


"Pa, lihat. Siapa yang datang." Imbuh Tante Ema dengan semangat.


Om Hary yang sedang berbaring, menoleh ke sumber suara.


"Anakku." Raut wajahnya langsung berubah. Menyambut kedatangan Azalea.

__ADS_1


Azalea duduk di kursi yang berada disamping ranjang Om Hary. Sebelah tangan Om Hary langsung membelai lembut kepala Azalea.


"Azalea-" Ucapan Azalea langsung di timpali oleh Om Hary.


"Jika kau ingin minta maaf, maka urungkan itu. Kami sudah sejak lama memaafkan mu." Imbuh Om Hary.


"Benar, saat itu Mama sangat emosi. Mama melupakan semua kebaikan mu dan hanya mengingat satu kesalahan mu." Tante Ema ikut berdiri disamping Azalea. Mengusap pelan bahunya.


Sungguh, itu seperti mimpi untuk Azalea. Padahal ia sudah menyiapkan mental untuk menghadapi kemarahan dan murka dari kedua mertuanya itu. Ia sudah menyusun beribu kata maaf, sudah bertekad tidak akan kembali sebelum kedua mertuanya itu memaafkan nya.


Tapi, yang terjadi justru diluar dugaannya.


"Kapan kau akan bawa cucu kami, untuk menemui kami?" Pinta Om Hary.


Azalea langsung menoleh ke arah Tante Ema. Meminta sedikit penjelasan.


"Queen, bukankah dia juga cucu kami. Yang sudah kami sayangi jauh sebelum dia lahir. Terlepas dari kontrak itu dan siapa ayah biologisnya." Imbuh Tante Ema kemudian.


Azalea hanya bisa tersenyum haru, hanya bisa berterima kasih karena mereka masih menganggap Queen sebagai cucu mereka.


*


Tinggal satu misi lagi.


Setelah dari rumah sakit, Azalea kini menuju Resort. Sebelumnya ia sudah memastikan keberadaan Zico dari salah seorang karyawan Resort.


Dan menurut informasi, Zico berada diruangannya.


Azalea mengambil langkah, menuju ruangan Zico.


"Bu Azalea." Sapa salah satu karyawan resort sambil menundukkan sedikit kepalanya saat Azalea berpas-pasan dengannya.


Azalea membalas dengan senyuman terbaiknya, lalu juga ikut menundukkan sedikit kepalanya.


Setelah keluar dari lift, hanya tinggal beberapa langkah lagi hingga ia sampai diruangan Zico.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Azalea dengan ekspresi terkejut. Saat melihat apa yang terjadi didalam ruangan itu.


Matanya membulat sempurna, perasaannya bercampur aduk.


__ADS_2