
Sebuah pelukan melingkar dipinggang Azalea. Pun, dengan kecupan yang mendarat ditengkuk Azalea. Senyuman langsung merekah di bibir manis wanita itu, ia membalikkan badannya menghadap ke arah suaminya yang begitu sibuk akhir-akhir ini. Lalu membalas pelukannya, seakan sama-sama sedang dilanda rindu. Padahal hanya berpisah selama 10 jam saja.
"Kenapa tidak istirahat saja, biarkan Mbak Ati yang masak." Imbuh Zico sambil menatap lekat bola mata indah itu.
"Aku bosan jika hanya rebahan saja, Zic."
"Tapi kau tidak boleh terlalu lelah."
"Aku hanya memasak, mana mungkin lelah. Lagi pula juga di bantu sama Mbak Ati." Melirik ke arah Mbak Ati yang sedang mencuci piring. Mbak Ati sama sekali tidak menghiraukan kedua majikannya yang sedang bermesraan tak jauh dari tempat ia berada.
"Mana Queen? Bukankah dia kesini tadi."
"Baru saja pulang. Apa kau sangat sibuk, bahkan tidak sempat menjemput Queen dan mengantarkannya kesini."
"Empp, aku mau mastiin acara besok sudah siap 100% dan tidak ada kendala."
"Dan semuanya sudah beres?" Azalea memastikan.
"Tentu, kau hanya perlu, datang dan menikmati acaranya besok." Sambil mengecup gemas pipi Azalea.
"Masakannya akan hangus jika Tuan tidak beranjak dari situ." Imbuh Mbak Ati, tanpa menoleh. Ia lalu meninggalkan wastafel setelah mempertingati Tuan dan Nyonya nya itu untuk tidak melupakan masakan yang sedang dimasak Azalea.
Zico dan Azalea terkekeh, ketika melihat Mbak Ati yang berlalu pergi dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Benar kata Mbak Ati, sebaiknya kau mandi dan bersiap untuk makan malam." Azalea mengecup pelan bib*r Zico. Lalu langsung kembali membalikkan badannya kembali ke arah kitchen set.
"Kau tidak berniat menemaniku mandi?" Rengek Zico, jelas saja itu hanya bercanda. Kini tangannya sudah kembali melingkar lembut di pinggang Azalea dan berdagu di bahu Azalea dengan manja.
"Ziiccooo!!!"
"Haha baiklah... baiklah..." Zico melepaskan pelukan itu, lalu bergegas meninggalkan dapur. Menuju ke kamar dan mengikuti perkataan Azalea. Mandi dan bersiap!
*
*
"Papa.." Panggil Queen disaat ia dan Biandra sedang menikmati makan malam mereka.
"Apa Aunty akan punya bayi?"
Mendengar pertanyaan itu, membuat Biandra tersedak.
"Tadi sewaktu dirumah Aunty, Queen lihat ada kamar bayi disana." Lanjut Queen.
"Emm... Mungkin." Imbuh Biandra sedikit ragu-ragu.
"Aku juga ingin." Ucap Queen dengan senyuman lebarnya.
__ADS_1
"Queen mau punya bayi?" Tanya Biandra dengan mata terbelalak.
"Empp.. Seperti Shalil, dia selalu bermain dengan adiknya sewaktu pulang sekolah."
"Shalil? "
"Temanku disekolah, dia cerita. Adiknya sangat lucu." Queen menjelaskan dengan semangat.
*'Oh jadi maksudnya punya adik.' *
Biandra menghela nafas.
"Nanti kan bayi nya Aunty, bisa jadi adiknya Queen."
"Boleh kah?" Dengan mata berbinar dan membulat sempurna.
"Emm.. Nanti kita tanya dulu sama Aunty Lea ya." Keberanian Biandra untuk memastikan kalimatnya, kembali menciut, melihat Queen yang begitu semangat menginginkan Adik. "Yaudah habisin dulu makannya." Lanjut Biandra.
Queen mengangguk, lalu kembali melahap makan malamnya dengan semangat. Ia sudah tidak sabar, ingin cepat-cepat memiliki adik seperti temannya Shalil. Tentu, itu bukan hal yang dapat diberikan oleh Biandra padanya.
Apalagi, setelah Biandra berniat untuk tidak menikah lagi. Ia ingin fokus membesarkan Queen dan menjadi sosok Ayah yang baik. Ia tidak mau, memiliki ibu tiri hanya akan membuat Queen menderita nantinya. Jika ternyata, wanita yang dinikahinya tidak dapat menjadi ibu yang sesuai dengan keinginan Queen.
^TO BE CONTINUED^
__ADS_1