
Kenzo tertawa di ruang tamu keluarga Dylan. Vanes tak henti-hentinya cemberut ketika Kenzo mengatakan ekspresi wajahnya ketika melihat Kenzo mengajar.
"Lucu banget tadi!" Kemudian Kenzo tertawa.
"Apasih Kak!" Tukas Vanes.
"Hahaha. Lucu. Sebegitu kagetnya kamu? Apalagi teman kamu itu." Kata Kenzo di sela tawanya.
"Ihh nakal!" Vanes melemparkan bantal sofa ke arah Kenzo. Namun, Kenzo berhasil menangkapnya sambil menjulurkan lidahnya.
Vanes berdiri kemudian menghentak-hentakkan kakinya karena kesal. Kenzo menarik pelan rambut Vanes kemudian segera berlari. Vanes yang tak terima pun mengejar Kenzo. Jadilah aksi kejar-kejaran antara Kenzo dan Vanes.
Tasya dan Dylan hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka berdua. Tak ada salahnya jika Kenzo selalu ada disini.
"Berarti aku tidak salah kan, mengajak Vanes ke rumah Kenzo waktu itu?" Dylan menatap istrinya.
Tasya tersenyum sambil mengangguk. "Benar. Rumah kita jadi ramai oleh tawa Vanessa. Aku bersyukur karena ada Kenzo yang bisa membuat tawa Vanessa lepas."
"Kamu benar, sayang. Tak salah juga kalau kita menganggap Kenzo sebagai anak sendiri."
***
"Kak Kenzo.."
Kenzo menoleh ke arah Vanes kemudian kembali lagi dengan laptopnyanya. "Ada apa, Vanessa?"
"Kakak menginap disini?" Tanya Vanes sambil menyandarkan kepalanya di bahu Kenzo.
"Iya. Kamu besok sekolah berangkat sama aku." Jawab Kenzo.
"Di rumah Kak Kenzo sepi dong?"
"Tidak juga. Kan ada para pembantu." Jawab Kenzo. Tangannya masih sibuk mengetik dokumen yang ada di sebelahnya.
Vanes mengerecutkan bibirnya. "Kak...Vanes pengen jalan-jalan."
Karena gemas, Kenzo mencium pipi Vanes. Dia menaruh laptopnya di sebelah tempat duduknya. Kini perhatiannya sepenuhnya ke arah Vanes. "Putri Sekolah mau jalan-jalan kemana?"
"Terserah. Asal sama Kak Kenzo." Vanes sumringah.
"Jalan-jalan keliling rumah ini aja." Kata Kenzo sambil tertawa.
"Ihh Kak Kenzo. Jangan bercanda ah!"
Kenzo berdiri sambil melipat laptop. Tangannya meraih tangan Vanes agar berdiri dari tempat duduk taman belakang. "Mending kamu tidur ya? Besok sekolah."
***
"VANESSA!"
Vanes menoleh ke belakang. Nesya berlari ke arahnya sambil membawa majalah. Entah itu majalah apa. Vanes menaikan satu alisnya. "Apa?"
"Ini liat! Ada foto kamu sama Edgar di majalah sekolah!" Pekik Nesya girang.
"Hah? Foto aku sama Edgar?"
"Iya!" Jawab Nesya. "Lihat! Ini foto kalian berdua pas pensi itu kan?" Nesya menyodorkan majalah yang di dapatkan dari rak di lobby.
Vanes menghela nafas. Disana memang ada fotonya dengan Edgar saat mereka berdua berdiri di lapangan basket. Nesya tampak berantusias. Aneh. Yang ada di foto Vanes yang berantusias Nesya. Padahal Vanes menunjukkan sikap biasa saja.
"Ayo ke kelas! Aku bakal taruh foto ini di pojok baca!"
Nesya dan Vanes masuk ke dalam kelas. Di dalam kelas, Nesya langsung menggunting foto yang ada di majalah. Setelah itu, dia mengobrak-abrik tas nya. Mencari lem.
"Kamu ngapain, Nes?" Tanya Calen.
"Ini ada fotonya Vanes sama Edgar. Aku mau taruh di pojok baca. Putri Sekolah harus selalu naik namanya!" Jawab Nesya. Kemudian dia berlari ke pojok baca. Menempelkan foto tersebut ke papan tulis berwarna hitam. Sangat terlihat jelas. Bahkan dari meja guru terlihat.
"Bikin malu aja kamu, Nes!" Kesal Vanes.
__ADS_1
"Nggak pa-pa."
***
"Saya Arjuna Rakatya Pradita. Saya yang akan mengajar fisika mulai sekarang!"
Vanes panas dingin di tempatnya. Ternyata kekhawatirannya selama ini benar. Juna menjadi guru di kelasnya. Dia jadi takut jika sudah seperti ini.
"Yaialah, Pak! Kita semua udah tahu kalau bapak bakal ngajar fisika. Ini kan jam pelajaran fisika!" Cetus Dani yang duduk di belakang. Bersama...Jihan. Ya! Lebih tepatnya Jihan terpaksa.
Kelas menjadi riuh karena gelak tawa dari beberapa murid yang menganggap omongan Dani sebuah lelucon. Dari tempat duduknya, Vanes dapat melihat wajah Juna yang memerah.
"Diam! Dimana etika kalian terhadap guru, hah? Ini sekolah favorit. Yang saya tahu disini itu semua muridnya beretika!" Bentak Juna.
Semua murid langsung diam karena ketakutan dengan bentakan Juna. Guru fisika baru mereka. Vanes juga ikut diam. Dia baru saja melihat Juna marah.
"Buka buku paket kalian. Buka halaman 174. Kerjakan. Saya butuh sekretaris untuk ikut ke ruangan saya."
*Deg!
Sekretaris*.
***
"Bisakah kamu tidak menganggu aku di saat sekolah? Ini sekolah." Vanes menatap Juna datar.
Juna hanya tersenyum tipis. "Aku tidak peduli. Ternyata sekretaris kelas yang ku ajar adalah Putri Sekolah."
"Apa yang kamu inginkan, Jun?"
"Menjadi kekasihmu!" Jawab Juna tegas. "Aku tidak peduli kamu jadi pacar Edgar. Aku juga tidak peduli dengan foto kamu dan Edgar yang di pajang di pojok baca."
Vanes menatap Juna tajam. "Kamu bagaimana bisa disini sih? Kita sudah tidak ada hubungan lagi. Hubungan kita cuma sebatas guru dan murid."
Juna berdiri dari kursi kebanggaanya. "Vanessa Angelica. Kamu sudah pernah menjadi milikku. Jika milikku lepas dari genggamanku, maka aku akan berusaha menggapainya dan menjadikannya milikku lagi. Dan aku harap, kamu paham dengan maksudku."
"Mau kemana, sayang?" Tanya Juna.
"Lepas! Aku mau keluar."
"Keluar kemana?" Juna mengeratkan cengkraman tangannya hingga membuat Vanes meringis kesakitan.
"Aku akan teriak jika kamu masih memaksa." Ancam Vanes. Juna langsung melepaskan cengkraman tangannya. Vanes langsung keluar dari ruangan Juna dengan berlari.
Tak disangka, Vanes menabrak Edgar yang sedang berjalan dengan Kenzo.
"Vanessa?" Panggil Kenzo.
"Vanes, tangan kamu kenapa?" Tanya Edgar khawatir saat melihat tangan Vanes yang memerah.
Vanes menggeleng sambil menyembunyikan tangannya di belakang punggung. Kenzo menghampiri Vanes sambil menyahut tangan Vanes. Memerah.
"Ini kenapa, Vanes? Siapa yang membuat tanganmu lecet seperti ini, hah?" Kenzo mulai tersulut emosi.
Vanes gelagapan. Bingung mencari alasan yang pantas. Apalagi Kenzo terlihat tersulut emosi. Edgar menghampirinya dengan wajah penuh tanda tanya.
"Vanes? Kamu kenapa?"
"Aku nggak kenapa-kenapa kok. Kamu sama Pak Kenzo nggak usah khawatir." Ucap Vanes sambil tersenyum kecut.
"Nggak kenapa-kenapa gimana? Ini sampai lecet loh." Kenzo masih memegang tangan Vanes.
"Iya, Van. Pak Kenzo aja sampai khawatir loh." Edgar melihat tangan Vanes yang di pegang oleh Kenzo.
Kenzo ikut gelagapan. Perlahan dia melepaskan tangan Vanes yang lecet itu. Vanes pun sadar, dia menyembunyikan tangannya di belakang punggung.
"Aku nggak kenapa-kenapa, Pak, Ed."
Pintu ruangan Juna terbuka. Juna keluar dari ruangannya. Menyadari ada Edgar, Kenzo dan Vanes, Juna menghampiri ketiganya.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Juna ke arah Kenzo.
"Ini, ada murid yang tangannya lecet." Lapor Kenzo.
"Oh. Coba sini saya lihat." Juna hendak meraih tangan Vanes
Edgar yang menyadari Vanes dari ruangan Juna, dan keluar dengan tangan lecet. Menangkap hal sesuatu. Segera dia menepis tangan Juna.
"Saya yang akan mengobati Vanes. Saya permisi, Pak Kenzo, Pak Juna. Ayo, Van."
***
"Kamu habis ngapain di ruangan Pak Juna?" Tanya Edgar sambil mengoleskan salep ke tangan Vanes.
"Tadi aku di panggil sama dia." Jawab Vanes. Matanya terus menatap Edgar yang masih setia mengobati luka lecetnya.
Edgar membalas. "Aku kok kurang suka ya sama dia. Mulai dari awal kita bertemu dengan dia itu. Apalagi kalau lihat ke kamu itu agak beda gitu."
Edgar! Andaikan kamu tahu yang sebenarnya. Aku takut, Gar. Aku butuh pelindung. Walaupun disini sudah ada Kak Kenzo, tapi aku masih takut. Aku ingin cerita denganmu, tapi ini belum waktunya.
"Nggak boleh seperti itu." Vanes mengingatkan.
Edgar berdiri saat sudah selesai membalut luka Vanes dengan perban. "Sudah selesai. Rutin mengganti perban ya? Ganti sampai udah sembuh."
Vanes tersenyum. "Gayamu itu layaknya dokter saja."
"Bisa aja. Ayo ke kantin. Udah deket nih sama jam istirahat." Ajak Edgar.
Vanes mengangguk. Dia berdiri kemudian keluar dari UKS dengan Edgar. Mereka berdua berjalan beriringan. Canda tawa menghiasi mereka.
Vanes seakan lupa dengan ucapan Juna. Diam-diam, ternyata Juna mengikuti mereka berdua. Karena tanpa sengaja, Juna melihat mereka berdua berjalan bersama. Dan akhirnya dia memutuskan untuk mengikutinya hingga sampai halaman kantin karena dikira tak ada hal yang mencurigakan.
Setelah memesan bakso dan jus favorit mereka masing-masing, mereka berdua duduk di meja pojok.
"Tadi ngapain sama Ka--eh-- Pak Kenzo?" Tanya Vanes sambil menyantap bakso yang telah di potong kecil.
"Cuma bantu angkat buku aja sih, terus kebetulan lewat ruangannya Pak Juna itu." Jawab Edgar.
"Oh."
"Sebenarnya, kamu ada hubungan ya sama Pak Juna?" Tanya Juna tiba-tiba.
Vanes tersedak. Dia segera meminum jus yang di pesannya. Edgar mengelus punggung Vanes.
"Van? Santai aja dong. Jangan bapee gitu. Jangan-jangan benar ya kamu ada hubungan sama guru itu? Guru itu kan juga masih muda!"
"Edgar! Kamu ngomong apa sih? Kok ngelantur banget."
"Ya gini ya. Aku jadi ungkapin kalau gini. Sejak awal ketemu dia itu ya, aku perhatiin tuh, matanya terus natap kamu. Nggak lepas sedetik pun. Terus juga nyapa ke kamu juga sok arogan gitu. Terus juga ngapain panggil-panggil kamu ke ruangannya?"
Vanes diam. Dia tidak ingin rahasianya terbongkar. Sebenarnya diamnya itu ada hal lagi. Dia baru kali ini melihat Edgar yang disukai oleh para kaum siswi ini sedang nyerocos. Padahal gosip yang di dengarnya itu, Edgar adalah sosok yang dingin.
"Vanes! Kok diem aja sih!"
Vanes mengerjap. Buyar sudah lamunannya. "Kamu jangan lebay deh. Cuma gitu aja loh."
"Kamu masih nggak percaya? Apa perlu kita tanya ke dia?"
"Ngapain sih, Gar. Kan Pak Juna tahunya kita tuh pacaran" Jawab Vanes.
"Oh iya ya."
Tiba-tiba..
"VANES! KAMU KEMANA AJA SIH? TADI DI CARI SAMA PAK JUNA! EH TERNYATA ADA DISINI SAMA SI EDGAR. KALIAN PACARAN BENERAN YA? APA GIMANA NIH?"
Shit.
Suara Nesya mengundang perhatian siswa-siswi yang ada di kantin.
__ADS_1