My Little Wife

My Little Wife
Bab 162 : Masa lalu (2)


__ADS_3

Happy reading♡


Ashel memejamkan matanya. Badannya sangat sakit karena banyak cambukan dilayangkan oleh Dona. Rasanya ia sudah tidak kuat menopang tubuhnya sendiri. Kakinya sangat lemas seperti jeli.


"Ambilkan es batu dan simpan di dalam wadah cukup besar. Simpan diatas kaki dia," ucap Dona.


Bawahannya pun mengangguk dan melakukan perintahnya. Ia menyimpan sebaskom es batu dan mengangkat kaki Ashel.


"Arghhh," rintih Ashel saat luka di kakinya mendapatkan hawa yang sangat dingin.


Dona tertawa mendengarnya. Apalagi saat melihat banyak luka bekas cambuk di tubuh Ashel, tawanya semakin menggila.


Tubuh Ashel banyak goresan merah merah karena cambukan tadi. Gaun yang kemarin ia gunakan sudah kotor karena darah yang keluar dari tubuhnya.


Dona bukan hanya mencabuknya tapi ia juga memukul mukul tubuh Ashel dengan kepalan tangannya. Ashel sempat pingsan beberapa kali apalagi saat Dona memukul kepalanya dengan tongkat baseball yang sengaja ia buat dari besi.


Darah di pelipis Ashel sudah mengering sejak tadi karena pukulan keras itu.


"Ini akibatnya karena lo udah buat Liam mati," ucap Dona.


Ashel tertawa kecil, "Ternyata tuhan gak tanggung tanggung buat nutup mata lo sampe sampe lo gak tahu faktanya kayak apa. Karena kebencian itu mata lo jadi buta, kenapa gak sekalian buta beneran aja?"


"DIEM LO ANJ*NG! MAU MATI BENERAN LO HAH?" teriak Dona.


"Semua orang bakalan mati tapi yang jelas gue gak bakalan mati di tangan lo tapi atas takdir tuhan," ucap Ashel.


"Hahaha, sayangnya tuhan kasih takdir kematian lo di tangan gue," ucap Dona.


"Jangan terlalu pede. Kalo ekspektasi lo gak sesuai realita," ucap Ashel.

__ADS_1


"Sayangnya semuanya udah sesuai ekspektasi gue. Gue bakalan bunuh lo cepat atau lambat. Dulu lo pernah tolongin gue dari bullyan kakak kelas. Dan sekarang gue bakal nolong lo buat cepet temuin tuhan," ucap Dona.


"Silahkan. Gue gak masalah soal itu. Yang penting gue lebih unggul dari lo. Soalnya lo dendam sama gue bukan karena Liam aja, tapi karena hal lain kan?" Tanya Ashel.


"Ya. Tentu saja. Lo tahu, karena lo yang menang dan bawa piala waktu itu gue jadi di hajar habis habisan sama bokap gue. Bukan hanya itu, lo juga punya segalanya dan gue gak mau lihat lo bahagia. Gue benci sama lo," ucap Dona. Saat ini hanya ada mereka berdua di dalam ruangan itu. Para bawahan yang dibayar Dona sudah diusir keluar.


"Apalagi waktu gue tahu Liam mati karena nolongin lo waktu itu. Harusnya lo yang ketabrak bukan Liam," ucap Dona.


"Asumsi dari mana itu? Kenapa lo nyimpulin itu semua dengan semudah itu?" Tanya Ashel.


"Karena bokap gue ada disana waktu kejadian," ucap Dona.


"Lebih tepatnya bokap lo yang berusaha lenyapin nyawa Liam."


"JAGA MULUT LO ANJ*NG. BOKAP GUE GAK MUNGKIN BUNUH DIA," ucap Dona. Ia kembali berteriak setelah tenang beberapa saat.


"Gue gak tahu lo mau denger apa enggak apa yang sebenarnya terjadi. Yang jelas waktu itu gue gak bunuh Liam," ucap Ashel.


"Maling mana ada yang mau ngaku."


"Waktu itu gue, Ayu sama Liam pulang bertiga. Kita bertiga sering sempetin mampir ke taman kota karena disana ada makanan favorit kita bertiga. Kita bertiga udah pesen dan siap buat makan, tapi Liam pengen beli air minum yang dingin jadi dia mutusin buat ke minimarket yang ada di sebrang jalan," ucap Ashel. Ia melihat ke arah Dona dan dia hanya diam saja. Sepertinya Dona ingin mendengarkan penjelasannya.


"Saat Liam mau nyebrang, tiba tiba ada mobil yang mau nabrak dia. Beruntung gerakan refleks Liam cukup bagus jadi dia hanya terserempet saja. Gue sama Ayu lihat jelas kejadian waktu itu."


"Liam berlari ke arah kita berdua dan kembali duduk kemudian makan bakso dengan lahap. Kita udah tanya ke Liam takutnya dia luka atau apa tapi dia bilang dia baik baik aja. Singkat cerita, kita bertiga pulang. Di ujung gang tiba tiba ada mobil yang melaju cukup kencang. Posisi Liam paling pinggir dan gue di tengah, gue sempet mau tarik Liam tapi gue kalah cepat sama mobil itu karena gue juga kesenggol sampe jatuh sedangkan Liam terpental cukup jauh," jelas Ashel.


"Sampe sekarang gue masih inget nomor polisi mobil itu. B 1701 AD. Itu nomor polisi bokap lo kan? Bahkan sampe sekarang mobil itu masih dipake sama bokap lo," jelas Ashel.


"GAK USAH NGADA NGADA. BOKAP GUE GAK MUNGKIN NABRAK LIAM. DIA TAHU SENDIRI KALO GUE SUKA SAMA LIAM UDAH DARI LAMA," ucap Dona. Ia kembali histeris saat mendengar penjelasan Ashel.

__ADS_1


"B 1701 AD. Lo lahir tanggal tujuh belas bulan satu sedangkan AD adalah singkatan nama lo. Agensya Donita," ucap Ashel tepat sasaran. Ia mengingat kembali kepingan masa lalunya bersama dengan Liam. Masa dimana ia sangat bahagia karena Liam adalah teman baiknya. Namun naasnya Liam harus meninggal.


Dona marah. Ia terus berteriak karena tidak terima dengan apa yang di jelaskan oleh Ashel ia kembali memukuli Ashel dengan tangan kosongnya. Meluapkan semua emosi yang ada dalam dirinya.


Ia juga mengambil baskom berisi es batu yang sudah mencair itu. Kemudian ia siramkan pada tubuh Ashel yang penuh luka itu.


"JANGAN SO PINTER LO! KALO SALAH YA SALAH AJA GAK USAH BAWA BAWA BOKAP GUE. MATI LO AJ*NG," umpat Dona. Ia pun mengeluarkan pisau lipat mililnya dan mengarahkan benda tajam itu ke perut Ashel.


Ashel hanya mampu menutup matanya saat pisau itu menusuknya. Ia sudah tidak memiliki tenaga untuk sekendar menghindar apalagi melawan Dona.


"MATI LO ANJ*NG MATI," umpat Dona. Ia kembali mencabut pisau itu dan melemparnya begitu saja. Kemudian keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang campur aduk.


Ashel hanya bisa berdoa. Semoga saja ia masih bisa bertahan. Darah di perutnya terus mengucur. Ashel tidak yakin ia akan bertahan lama.


***


Kavin dan semua keluarganya sangat cemas. Sudah hampir dua hari mereka mencari keberadaan Ashel namun belum menemukan petunjuk apapun.


Ponsel milik Ashel sudah dilacak namun tidak ada tanda tanda dimana keberadaan Ashel. Karena sepertinya ponselnya mati dan tidak ada koneksi yang bisa tersambung kesana.


Kavin sudah menyewa semua detektif yang ia kenal untuk mencari Ashel ke seluruh bagian Indonesia. Ia yakin jika Ashel masih berada di dalam negeri.



...Ashel sedang berpikir apa ia masih bisa bertahan hidup?...


Tbc.


Ramein ya guys. Maaf kalo ceritanya gak nyambung ataupun prik. Vote komen makasih

__ADS_1


__ADS_2