
Azalea bersyukur, kini dia bisa dengan mudah bertemu dengan Queen kapanpun dia inginkan. Dia juga bisa menghubungi Queen sesuka hati. Setelah Biandra mengizinkan nya melakukan itu.
*
"Kau benar Elyn, Tuhan punya rencana yang lebih indah." Kedua wanita itu sedang menghabiskan malam bersama, sebelum besok Azalea akan ikut Zico menetap di London.
Memandang langit yang sama di atas rooftop kondominiumnya.
"Uhhh.. Akhirnya aku akan tinggal sendiri di sini." Elyn menghela nafas dalam. Seakan berat melepaskan kepergian sahabatnya itu, yang sudah 5 tahun, selalu menghabiskan waktu bersama.
"Kau bisa mengunjungi ku kapanpun Elyn, tidak perlu merasa seperti ditinggalkan seperti itu."
Elyn terkekeh. "Akhirnya kau menemukan hidupmu yang sesungguhnya."
"Semuanya berkat kau, kau benar-benar penolong ku. Jika kau tidak memaksaku untuk mencoba memaafkan Zico, mungkin aku tidak akan kembali bersama nya hingga detik ini. Dan jika bukan karena kau, mungkin sekarang aku sudah mengandung Anak Biandra untuk kedua kalinya."
Kedua wanita itu terkekeh bersama. Terkadang hidup selucu itu.
__ADS_1
"Jika semua itu terjadi, mungkin saja saat ini kau sedang meratapi nasibmu sambil mengelus perut buncitmu." Elyn tidak bisa menahan tawanya, ketika membayangkan itu.
"Kau benar, dan hari-hari ku akan di penuhi dengan rasa bersalah setiap hari ketika memandang Zico. Entah seperti apa aku harus menghadapinya."
"Lalu kau akan menelpon ku, menangis sambil sesenggukan dan menyesali semuanya. karena ternyata sumsum tulang ku justru cocok untuk Queen. Dan kehamilan mu hanya percuma."
"Dan kau benar, Pertolongan Tuhan datang disaat dan waktu yang tepat."
Kedua wanita itu kembali menghela nafas lega, ketika tertawa puas. Menertawai jalan hidup yang seakan terkandang diluar nalar mereka.
"Ingat! tangan ini tidak menolong secara gratis." Ucap Elyn, yang tentu saja hanya candaan.
***
Maya, kembali menghambur kan barang-barang yang ada dihadapannya. Dia bahkan sudah seperti orang gila, yang terkadang tertawa dan menangis dalam waktu bersamaan.
Mengurung dirinya sendiri di dalam Apartemen kecil, dia berteriak memaki dan menyumpahi siapapun yang sudah membuat hidup nya hancur seperti itu. Dia lupa, dia sendiri yang membawa dirinya ke jalan kehancuran karena keserakahan sendiri.
__ADS_1
"Queen, Mama akan mendapatkan mu kembali. Bersabarlah sebentar lagi sayang, Mama akan datang menjemput mu!" Imbuhnya seraya tersenyum namun air matanya mengalir.
Ditatapnya dalam foto Queen yang terpampang dihadapannya.
Perusahaan Papanya bangkrut, dan dia melakukan kesalahan besar untuk menolong perusahaan Papanya.
Awalnya dia pikir, menjual data perusahaan tidak akan berpengaruh besar pada perusahaan Biandra. Dan dia tidak akan ketahuan, namun yang terjadi justru di luar dugaannya.
Seakan langit sedang mengutuknya, kebohongan demi kebohongan nya terus dinampakkan Tuhan pada Biandra. Membuka mata Biandra lebar-lebar agar bisa melihat dengan jelas, siapa istrinya yang sebenarnya.
"Biandra lihat saja, aku tidak akan membiarkan mu memperlakukan aku seperti ini. Kau juga akan rasakan, apa yang aku rasakan saat ini. Lihat saja, siapa yang akan memohon dan bertekuk lutut pada akhirnya."
Maya menggenggam serpihan kaca yang berserakan di samping nya. Tidak memperdulikan tangannya yang berdarah karena menggenggam serpihan kaca itu. Seakan, apa yang dirasakan di hatinya lebih sakit dari pada kaca yang membelah telapak tangannya.
*
*
__ADS_1