
"Aku dengar kau habis tidur dengan Andini?"
Kenzo mendongak. "Tidak."
"Masih ingat dengan perkataanku?" Juna menaik turunkan alisnya.
"Tentu saja aku ingat." Kenzo tertawa.
"Begini. Jika kau memang banyak masalah, selesaikan satu-satu. Masalah tidak bisa di tuntaskan semuanya dalam sekejap. Harus ada prosesnya." Tutur Juna.
Kenzo diam. "Aku tahu hal itu. Tapi, masalah ini terlalu banyak. Mulai dari Andini yang masih mengusikku. Anak angkat mertuaku yang hilang. Vanessa yang hamil dan butuh perhatian khusus, bukan masalah jika Vanessa seperti itu. Lalu, aku yang di sibukkan dengan proyek baru dan sekarang Erika yang kembali."
Juna memegang pundak Kenzo. "Kehidupan memang tidak selalu harmonis, Ken. Contohnya aku. Aku hampir setiap hari bertengkar dengan Selena. Aku sempat memintanya untuk bercerai denganku, tapi jika aku melihat Ketie, aku tak tega. Ketie lah yang membuatku mempertahankan hubungan ini, Ken."
"Bagaimana rasanya menjadi Ayah?" Tanya Kenzo yang tertarik membahas ke arah situ.
Juna tersenyum. "Saat kau di panggil oleh anakmu, rasa senang itu muncul. Melihatnya tumbuh dan berkembang adalah hal yang paling di sukai oleh orang tua."
"Aku jadi tidak sabar menunggu Vanessa melahirkan." Ucap Kenzo.
"Sabar. Yang terpenting saat ini, buat Vanessa selalu bahagia karena itu berdampak juga kepada calon anakmu."
"Ya."
***
"Kamu sudah bangun, sayang?" Kenzo membuka pintu kamar rawat Vanes. Nampak Vanessa sedang melamun di kamar sendiri.
Vanes tergelak. "Kak?"
"Dimana Mama?" Tanya Kenzo.
"Pergi. Katanya mau bersih-bersih dulu. Nanti dia kesini sama Papa." Jawab Vanes.
Kenzo mengiyakan. Dia duduk di sebelah Vanes. Tangannya saling bertaut dengan tangan Vanes kemudian dia menunduk. Kenzo menangis.
"Kamu kenapa, Kak?" Vanes membelai lembut rambut Kenzo menggunakan tangan kirinya.
Kenzo semakin menggenggam erat tangan Vanes. "Aku tidak bisa menjagamu hingga kamu masuk ke rumah sakit. Ini salahku karena tidak memberimu perhatian yang lebih, Vanessa. Aku benci diriku yang tidak bisa menjagamu."
"Kak Kenzo..Kamu selalu menjagaku dan calon anak kita ini." Vanes mengarahkan tangan Kenzo ke perutnya. "Aku dan dia kuat, Kak. Kami berdua hanya butuh doa."
Kenzo malah semakin menangis. Dia tidak bisa mengatasi masalah sebanyak itu. Melihat istrinya terbaring di rumah sakit malah semakin membuat perasaan bersalah menjadi besar.
"Aku terlalu banyak menyakiti hatimu, Vanes."
"Kak..Jangan seperti ini. Kamu salah apa ke aku? Sebenarnya kamu kenapa?"
"Aku tidak kenapa-kenapa. Jangan khawatir."
Suasana kemudian hening. Kenzo masih setia menunduk di hadapan perut Vanes. Vanes tertegun. Baru kali ini dia melihat Kenzo menangis seperti itu. Selama ini, Kenzo selalu bersikap biasa. Penuh cinta. Penuh kesabaran.
__ADS_1
Walaupun waktu itu Kenzo pernah mengkhianatinya. Tapi Vanes percaya dengan Kenzo. Suaminya itu tidak seperti itu.
"Kamu memang suami yang langkah, Kak. Aku beruntung sekali bisa menjadi istrimu. Namun, ada hal yang masih membekas di hati. Ketika kamu mengkhianatiku itu adalah luka yang tidak bisa di obati dengan apapun." Vanes menghela nafas dalam.
"Maafkan aku. Tolong percayalah kepadaku. Aku tidak melakukan hal itu lagi. Aku mencintaimu. Mencintai calon anak kita."
"Iya. Aku percaya dengan hal itu, Kak."
***
Erika masuk ke dalam rumah Juna tanpa permisi. Selena yang duduk di ruang santai terkejut dengan kedatangan perempuan yang tak di kenalnya.
"Hei! Siapa kau?" Cegat Selena.
Erika menatap Selena dari atas hingga ke bawah. "Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Siapa kau? Kenapa kau di rumah kakak sepupuku!"
"Aku ini pemilik rumah ini. Mungkin kau salah masuk rumah." Balas Selena yang mulai nyolot.
"Salah rumah?" Erika menyilangkan tangannya di depan dada. "Aku tidak mungkin salah rumah. Mungkin kau."
"Aku sudah lama tinggal disini!" Bentak Selena.
"Kau ini siapa sih? Ini rumah Kak Juna kan? Arjuna Rakatya Pradita?"
"Iya." Selena mengiyakan. "Dan aku adalah istri dari Arjuna Rakatya Pradita."
"Oh." Jawab Erika. Kemudian dengan seenaknya dia duduk di sofa sambil menyilangkan kaki. "Bagaimana bisa kakak sepupu ku itu menikah dengan perempuan ular sepertimu."
"Kau yang ular!"
"Aku disini Erika. Dari tadi aku melihat interaksi kalian berdua." Juna menuruni tangga. Menghampiri Istrinya dan adik sepupunya itu. "Percuma kau bersekolah tinggi hingga ke Mexico jika kau tidak punya atitude, Erika."
Erika mendengus kesal. "Kak Juna jangan ngomel-ngomel deh kayak istrimu."
"HEI! JAGA BICARAMU YA PEREMPUAN BURUNG GAGAK." Selena kelewat emosi hingga mau menjambak rambut Erika.
Juna mencegahnya. Erika menghindar dari amukan Selena.
"Euh. Jauhkan tangan kotormu dariku, perempuan ular. Aku nggak sudi ya kalau tanganmu itu menyentuhku. Aku ini model!"
"Aku tidak peduli dengan pekerjaanmu, burung Gagak. Aku juga tidak sudi jika rumahku di huni oleh salah sati spesies burung."
"Ih dasar perempuan ular. Emang ini rumahmu?"
"ERIKA! SELENA! SUDAH!" Bentak Juna akhirnya.
"Kak. Aku akan menginap disini."
"Enggak!" Tolak Selena cepat. "Aku tidak mau menerima seekor burung di rumah ku. Tidak! Tidak! Mending kau cari saja apartemen. Jangan di rumah ini."
"Hei! Aku tidak bicara denganmu. Aku bicara dengan kakakku. Jangan ikut campur deh. Dasar perempuan ular mulut berbisa!"
__ADS_1
"Dasar kau burung gagak banyak ngoceh. Pergi kau dari rumahku! Jangan disini."
"Aku nggak akan pergi dari sini. Aku akan tinggal disini untuk beberapa bulan ke depan!"
"HEI! KALIAN INI BISA DIAM NGGAK SIH!" Juna memijat pelipisnya.
Wow Kenzo seandainya kau berada di posisiku, pasti kau akan pusing melihat istriku dan Erika berdebat. Batin Juna.
***
Kepulangan Vanes dari rumah sakit bersamaan dengan kedatangan Hana ke rumahnya. Kenzo buru-buru mengelus punggung Vanes sebelum istrinya itu marah kepadanya. Nyatanya, walaupun Kenzo ini keren dan tampan, dia masih punya rasa takut jika Vanes marah.
"Selamat datang kembali, Vanessa." Sambut Dylan, Tasya, Hana dan beberapa para pelayan di rumah Kenzo.
Vanessa tertawa haru. Pulang dari rumah sakit di sambut oleh orang tuanya. Namun, tawanya hilang ketika melihat Hana.
"Heh! Kamu udah ketemu ya? Ngerepotin aja." Sentak Vanes.
Kenzo langsung merangkul bahu Vanes. "Sayang, kamu ini baru pulang dari rumah sakit, jangan marah-marah ya."
"Iya, Nak. Betul yang di ucapkan suamimu itu. Ibu hamil itu nggak boleh marah-marah." Sahut Tasya.
"Nanti cucu Papa jadi sering marah loh." Imbuh Dylan. "Selain itu, nanti kamu juga jadi cepet tua." Dylan tertawa.
Vanes memukul pelan tangan Dylan sambil cemberut. "PAPA!"
Semuanya disana tertawa. Kecuali Hana yang menatap mereka berempat dengan tatapan kagum sekaligus iri. Namun, Hana langsung membuang perasaan iri tersebut.
Mereka berempat duduk di sofa ruang tamu. Hana memutuskan untuk pergi ke lobby. Duduk disana dengan menikmati indahnya rumah Kenzo.
"Udah berapa bulan?" Tanya Dylan.
"Mau masuk bulan keempat." Jawab Vanes.
"Aduh makin berat aja. Pasti nanti kamu makin gendut." Ledek Tasya.
Kenzo mengangguk setuju. "Iya, Ma. Makin berat."
"Wih. Kasihan tuh Kenzo kalau kamu makin berat, Nak." Imbuh Dylan.
"Kalian bertiga ya! Kita musuhan! Kak Kenzo tidur di luar saja." Rajuk Vanes.
Seketika Kenzo menghentikan tawanya. "Jangan dong, sayang. Jahat banget sih sama suami."
Dylan dan Tasya tak henti-hentinya menertawakan anak beserta menantunya yang beradu kecil di hadapan mereka. Terlihat lucu memang. Yang perempuan tetap dengan pendiriannya. Yang lelaki sampai harus memohon.
Dylan dan Tasya merindukan momen ini. Momen kebahagian bersama keluarganya secara utuh. Bukan dengan Hana. Melihat Vanes yang hidup bahagia membuat Dylan dan Tasya tenang.
Bagi Vanes, walaupun dia yang jadi bahan ejekan kecil yang mengundang tawa tidak apa. Ini adalah kebahagian yang utuh bersama keluarga.
Kenzo yang melihat Vanes berkumpul dengan kedua orang tuanya bersyukur kepada Tuhan. Setidaknya, rasa rindu Vanes yang di pendamnya sudah kesampaian.
__ADS_1
Hana melihat dari lobby. Perasaannya membuncah. Sakit rasanya melihat kedua orang tua angkatnya di dalam. Tidak mempedulikannya.
"Mungkin perasaan ini yang di rasakan oleh Vanessa sehingga dia sangat membenciku."