
Happy reading♡
Kavin menyalakan lampu yang berada di dalam mobil setelah ia selesai dengan kegiatannya. Ia juga membantu istrinya membersihkan cairan cairan yang menyiprat ke wajahnya. Saat Kavin akan melakukan hal yang sama pada Ashel, Ashel menolaknya. Miliknya memang bereaksi, namun ia tidak ingin dipuaskan dengan cara seperti itu.
Jika Ashel mau, ia pasti sudah merengek meminta suaminya pulang. Namun tidak. Ia memang sedang tidak mood melakukan itu.
Ashel juga menyemprotkan parfume ke sekitaran mobil dan tubuhnya juga tubuh suaminya. Jaga jaga.
"Puas?" Tanya Ashel.
"Mami emang hebat. Mau dibeliin apa? Sebut aja, dalam hitungan jam kamu dapetin apa yang kamu mau," ucap Kavin.
"Gak mau apa apa. Maunya cuma keliling Jakarta aja. Aku pengen beli semua jajanan kaki lima mas," ucap Ashel.
"Yang, resto aja ya? Jajanan kaki lima kurang higienis," ucap Kavin.
"Ya udah pulang aja," ucap Ashel ketus. Ia pun melipat tangannya dan menoleh ke arah lain. Tidak mau melihat suaminya.
"Astaga, iya sayang iya. Ayo kita cari," ucap Kavin.
"Gak mau. Pulang aja," ucap Ashel.
Mood seorang ibu hamil memang naik turun. Kadang bikin senang kadang bikin tegang.
Seperti sekarang, Kavin sungguh menyesal karena ia melarang istrinya. Sudah tahu istrinya ini sangat sensitif sekali apalagi saat hamil seperti ini. Sangat susah membuat moodnya kembali bagus.
"Yang, kamu marah?" Tanya Kavin. Ia pun mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Ashel, namun Ashel langsung menarik tangannya agar tidak dipegang suaminya.
__ADS_1
"Maafin aku, aku cuma takut kamu kenapa napa sayang. Kamu tahu sendiri kan keadaan jualan mereka kayak gimana," ucap Kavin.
"Justru aku pengen bantu mereka dengan beli jualan mereka. Kalo aku kasih mereka uang cuma cuma, kebanyakan dari mereka gak akan mau nerima mas. Aku cuma kasihan aja sama mereka, finansial mereka gak sebaik kita. Apalagi kalo yang jualannya anak anak atau lansia. Kamu ngerti gak sih?!" Tanya Ashel. Air matanya sudah terkumpul di pelupuk matanya namun Ashel menahanya. Ia tidak mau menangis, namun kenapa rasanya sangat melow seperti ini.
Membayangkan para penjual itu. Ashel sering melihat mereka saat masih di Bandung. Apalagi saat melihat lansia, ia jadi teringat kakek dan neneknya. Entah mengapa rasanya sangat sakit sekali.
"Sayang, jangan nangis." Kavin pun menarik istrinya ke dalam pelukannya. Seketika istrinya ini menangis.
"Udah ya? Kasihan si kembar. Kalo kamu mau bantu mereka, kita booking makanan buat kita bagi bagi ke mereka gimana? Jangan nangis ya?" Ucap Kavin. Ia sungguh menyesal. Ternyata perasaan istrinya ini setipis kulit lumpia. Terlebih ia sangat peduli sekali dengan orang di sekitarnya. Kavin bersyukur sekali.
"Beneran? Aku mau ke panti yang ada di Bandung mas. Dulu aku sering main kesana, gak tahu sekarang keadaan mereka seperti apa. Udah lama aku gak kesana," ucap Ashel.
"Boleh. Nanti kita kesana. Tapi setelah acara tunangan Fello sama Ayu ya? Tunangan mereka udah deket yang, kita gak bisa ninggalin mereka loh. Meskipun acara mereka udah ada yang handel," ucap Kavin.
"Aku cengeng ya? Gitu aja nangis. Padahal kamu mikirin anak anak kamu," ucap Ashel. Ia melepas pelukannya dan menyandarkan kepalanya ke kursi mobil.
"Tahu. Pulang aja," ucap Ashel. Ia menatap keluar mobil.
Kavin sendiri hanya menghela nafasnya. Mulut sialannya ini memang tidak bisa di rem. Padahal ia harus berpikiran dulu sebelum berkata pada istrinya ini. Sudah tahu hormon ibu hamil cukup mengerikan baginya.
"Jangan marah," ucap Kavin. Ia masih berusaha membujuk istrinya.
"Aku gak marah mas. Wajar aja kan kalo kamu khawatirin anak anak ini? Mereka yang akan jadi penerus kamu suatu saat ini. Seharusnya aku gak egois. Hanya memikirkan apa mau ku. Aku bukan mami yang baik ya?" Tanya Ashel. Ia menertawakan dirinya sendiri. Sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu tapi sifatnya masih kekanakan.
Kavin sudah tidak tahan melihat istrinya yang menahan tangisnya saat ini. Jika saja ia bisa menghancurkan hormon seperti ini, sudah pasti ia akan melakukan itu. Kavin memaksa Ashel untuk duduk diatas pangkuannya. Meskipun Ashel sempat menolak, namun setelah mendapatkan tatapan tajam dari Kavin, nyali Ashel pun menciut.
Pelukan.
__ADS_1
Yap, Kavin hanya bisa melakukan hal itu agar istrinya lebih tenang. Supaya istrinya juga bisa menangis agar bisa meluapkan semua emosinya.
"Nangis aja sayang. Gak papa," ucap Kavin. Ia pun menarik istrinya ke dalam pelukannya. Kavin juga sama sesaknya melihat istrinya seperti ini.
Selama mengenal Ashel, Kavin tidak pernah melihat dia seperti ini. Bahkan sebelum mereka menikah. Menurut Kavin, Ashel gadis yang hebat. Setahu ia, dulu Ashel harus tinggal bersama kakek dan neneknya. Sementara itu, neneknya selalu melontarkan kata kata yang menurutnya cukup menyakitkan bagi seorang wanita. Entah maksudnya apa. Entah sengaja atau memang terlalu khawatir pada Ashel.
Ashel menangis sesenggukan di pelukan suaminya. Ia tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Yang jelas ia sangat sedih dan hatinya terasa sakit sekali sampai sampai dadanya terasa sesak.
Kesakitan yang ia alami sejak dulu menguap begitu saja. Ashel tipekal orang yang jarang berbicara tentang apa yang ia rasakan. Ia lebih banyak mendengar orang orang sekitarnya yang berbicara padanya. Tanpa mereka tahu, otak dan batin Ashel riuh akan ketakutan, kecemasan, kegagalan dan mungkin trauma.
Ashel memang suka memendam sendiri apa yang ia rasakan. Ia memang jarang mengungkapkan apa yang ia rasakan pada orang lain. Karena selama ini, ia tidak pernah mendapatkan feed back yang baik. Bahkan Ayu yang menjadi sahabatnya pun tidak pernah tahu apa yang sedang Ashel alami.
Wanita ini memang sangat pandai menyembunyikan rasa sedihnya dengan tawa lepas yang selalu ia keluarkan.
Padahal jelas jelas, orang yang tertawanya kencang sudah pasti orang yang sangat kesepian dan selalu merasa sendiri.
"Udah ya? Matanya merah. Nanti bengkak," ucap Kavin. Hatinya sangat sakit mendengar tangisan istrinya yang sangat pilu seperti ini. Ternyata selama ini ia tidak pernah bisa mengerti apa yang di rasakan istrinya.
"Minum dulu ya?" Tanya Kavin. Tangis Ashel sudah mereda, namun masih sesenggukan.
"Pulang. Mau peluk kamu di rumah," ucap Ashel.
"Iya sayang. Kita pulang, nanti kamu cerita semua sama mas apa yang kamu rasakan selama ini. Keluarkan semua beban yang selama ini kamu pendam. Ada aku, aku akan selalu menjadi pendengar terbaik buat kamu," ucap Kavin.
Tbc.
__ADS_1
Info cowok kayak kapin dong kak😔🙏