
Happy reading♡
"Yang, jangan marah," ucap Kavin.
Ashel tidak tahu harus bertindak seperti apa sekarang. Perilaku Kavin cukup membuatnya kesal dan mungkin marah. Ia bahkan mengabaikan ucapan suaminya
"Kalian bisa ambilkan perlengkapan baby's di kamarnya? Tolong bawa kesini," ucap Ashel.
"Baik nyonya," ucap mereka.
Sepeninggal pengasuh tadi, Kavin naik ke atas tempat tidur. Ia meraih tangan istrinya untuk ia genggam namun Ashel menepisnya.
"Keluar," ucap Ashel.
"Yang jangan marah, aku cuma main main tadi," ucap Kavin.
"Cuma main main kamu bilang? Kamu waras gak sih? Otak kamu udah ilang? Gak lucu kalo main mainnya kayak tadi, kamu pikir perasaan aku kayak gimana pas tahu anak anak gak ada di sebelah aku? Kamu mikir gak sakitnya selangk*ngan aku gara kamu dan aku harus lari lari kayak tadi? Mikir gak sih peningnya kepala aku yang tiba tiba bangun dan langsung jalan? Mikir gak? Enggak kan?" Ucap Ashel panjang lebar.
"Kamu keluar atau aku bakalan pergi dari sini," ancam Ashel.
"Yang, serius aku cuma main main. Maafin aku," ucap Kavin.
"AKU BILANG KELUAR YA KELUAR," teriak Ashel mengejutkan Briella. Anak itu menangis. Ashel mengeluarkan asinya dan untungnya Briella cepat diam.
"Iya aku keluar, tapi jangan marah yang. Aku tahu aku kelewatan, aku salah. Jadi maafin aku," ucap Kavin. Ashel tidak menjawabnya. Ia membelakangi suaminya dan kembali fokus memberikan asi pada anak anaknya.
Kavin yang menyesal pun keluar dari dalam kamar itu, bersamaan itu para pengasuh tadi masuk dan membawakan barang yang diminta Ashel.
"Nyonya maaf, ponsel anda berdering sejak tadi. Jadi saya membawanya," ucap pengasuh itu.
__ADS_1
"Letakan saja disana, terimakasih. Kalian keluar dan tolong tutup pintunya," ucap Ashel. Mereka mengangguk patuh tanpa bantahan lagi.
Kavin duduk di dekat kamar tamu yang ditempati istri dan anak anaknya. Sekarang ia menyesal melakukan hal itu. Seharusnya ia tidak melalukannya, lihat kan sekarang kejadiannya seperti apa.
Sementara di dalam kamar, Ashel mengecupi wajah Briella. Anak itu sudah tertidur bersama dengan Kai. Kini Ling yang sedang diberi asi.
"Maafin bunda ya? Bunda tidurnya kenyenyakan jadi gak ngurusin kalian," ucap Ashel. Air matanya terus keluar sejak tadi. Hatinya terasa sakit sekali dengan perlakuan suaminya. Seharusnya Kavin tidak seperti itu padanya.
"Mami sayang sama kalian, mami bahkan rela kehilangan nyawa mami buat lindungin kalian, kalian harus janji kalo kalian gak akan pernah ninggalin mami," ucap Ashel. Ia menidurkan Ling. Bayi itu tetap membuka matanya. Ashel tidur di sebelahnya.
Anehnya tangan mungil Ling bergerak gerak ke dekat pipi maminya seolah menghapus jejak air mata sang mami yang disebabkan oleh papinya.
"Makasih Ling sayang, mami sayang banget sama kamu. Sama Kai dan Briella juga," gumam Ashel.
Rasa pening di kepalanya dan nyeri di area intimnya masih terasa namun Ashel seolah tidak memperdulikannya. Ia memejamkan matanya menikmati rasa sakit di sekujur tubuhnya. Lambat laun, ia dan Ling pun tertidur menyusul Kai dan Briella.
Sekitar pukul dua belas siang, Ashel masih belum keluar kamar. Kavin jadi takut istrinya akan sakit. Sejak pagi belum ada asupan apapun yang masuk ke dalam perutnya. Kavin sudah mengetuk bahkan menerobos masuk, namun Ashel malah mendiaminya. Sial, seharusnya dia tidak sebodoh itu.
Ashel sendiri sudah memesan makanan yang ia inginkan. Makanan itu tiba tak lama dari itu. Pelayan rumah menyajikannya pada Ashel. Ashel makan di kamar bersama dengan bayi bayinya.
"Yang, masih marah? Udahan dong marahnya," ucap Kavin yang muncul di balik pintu.
"Nanti tolong buatkan jus seperti biasa ya, tolong diantar kesini," ucap Ashel pada pelayan di mansionnya. Ia bahkan mengabaikan ucapan suaminya. Biarlah, salah sendiri. Kenapa harus setega itu.
"Aku bakalan tetep disini yang, gak peduli mau pegel juga yang penting kamu maafin aku," ucap Kavin.
Lagi lagi Ashel menghiraukan ucapan Kavin. Biasanya ia akan kasihan dengan suaminya itu. Namun saat ini jangankan rasa kasihan, rasa lain pun tidak ada. Ashel diam karena sedang menahan amarahnya. Jika meledak sudah tahu endingnya seperti apa.
Bahkan Ashel takut terkena sindrom baby blues. Semenjak melahirkan, ia jadi sering menangis karena hal sepele. Suaminya tidak menyadari hal itu, sudah pasti ia tidak tahu. Bahkan sakit hatinya sampai saat ini masih terasa karena di bohongi Kavin.
__ADS_1
Pelayan masuk membawakan permintaan Ashel. Jus buah yang di mix dengan sayur beserta cemilan yang ia minta. Tenang saja, cemilan yang diminta Ashel adalah buah buahan. Tadi ia sengaja order makanan karena sangat ingin makan ayam goreng. Memang berminyak, tapi Ashel mengkonsumsinya dalam jumlah sedikit. Sisanya banyak sayur, jadi aman.
Ashel meminum jusnya kemudian mengajak anak anaknya bermain. Ia menghiraukan keberadaan suaminya yang sejak tadi berdiri di ambang pintu.
"Ling, kalo besar nanti mau jadi apa? Jangan pebisnis deh, cari yang lain aja ya. Kai juga sama. Kalo Briella, kamu terusin usaha cafe mami aja ya? Soalnya nanti mami pengen liburan ke luar negeri loh, kalian mau ikut gak?" Tanya Ashel pada anak anaknya. Kavin hanya diam, menyimak obrolan anak anak dan istrinya.
"Mami seneng tahu, sekarang mami punya temen curhat setelah kalian hadir. Ya meskipun kalian gak jawab ucapan mami, ya gak papa. Sebelum ada kalian, mami cuma bisa memendamnya. Makasih ya sayang sayangnya mami," ucap Ashel.
Kai dan Briell terlihat tersenyum saat mendengar ucapan maminya. Berbeda dengan Ling yang sejak tadi diam saja. Bayi itu sudah cuek sejak kecil.
Kavin diam namun otaknya sedang berpikir bagaimana caranya agar istrinya memaafkan sikapnya yang tadi pagi. Apa Kavin paksa dia saja? Kavin tidak tahan ingin segera memeluk istrinya.
Tanpa menunggu lagi, Kavin pun maju ke dekat istrinya dan menarik lengan istrinya untuk berdiri kemudian langsung memeluknya.
"Aku tahu aku keterlaluan, tapi apa kamu gak mau maafin aku yang jahat ini? Aku gak kuat di diemin kamu yang," ucap Kavin.
Ashel hanya diam saja. Tidak membalas pelukan suaminya seperti biasanya.
"Yang, please. Maafin aku, aku tahu aku bodoh karena bikin kamu kesel kayak tadi pagi. Please, maafin aku," ucap Kavin. Suaranya berubah purau. Benar, Kavin memang tidak akan tahan jika di diamkan oleh istrinya. Rasanya sangat sakit sekali.
"Lepas, aku masih marah sama kamu. Keluar sana," usir Ashel.
"Gak mau yang, aku kangen kamu," ucap Kavin.
Tiba tiba bayi Ling menangis. Bayi itu seakan tahu jika maminya masih kesal dengan papinya dan ia mengeluarkan jurus menangisnya agar papinya melepaskan maminya.
Tbc.
__ADS_1