
Kenzo pulang dengan Vanes. Dengan senyum yang mengembang, Vanes turun dari mobil Kenzo. Kenzo juga ikut tersenyum. Namun, saat melihat tangan Vanes, dia jadi bertanya-tanya.
"Vanessa? Ada apa dengan tanganmu? Kenapa sebenarnya?" Tanya Kenzo.
Vanes menoleh ke arah Kenzo. "Kenapa, Kak?"
"Tangan kamu sebenarnya kenapa?" Tanya Kenzo lagi.
"Oh." Vanes diam sejenak. "Ini tuh tadi kena tali. Soalnya tadi aku habis main tali. Terus ikat-ikatan sampek lecet gini."
Kenzo terdiam sambil menatap fokus ke arah tangan Vanes yang di balut perban. Alasan yang di berikan oleh Vanes tentu tidak masuk akal. Dan, Kenzo tidak percaya begitu saja. Dia harus menelusuri sendiri kebenarannya.
Vanes menahan nafas sesaat. Dia takut jika Kenzo tahu kebenarannya. Dia harus menyimpan rahasia ini dengan rapat-rapat. Jangan sampai ada yang tahu.
"Ayo masuk!" Ajak Kenzo. Senyum dan wajah tenangnya membuat Vanes lega karena mengira Kenzo percaya dengan ucapannya.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Seperti biasa, mereka berdua di sambut oleh para bodyguard dan Sinta yang sudah berdiri di depan pintu utama.
"Mari Nyonya, saya bawakan tasnya." Sinta mengambil alih tas Vanes kemudian membawanya ke kamar Vanes.
Kenzo berjalan ke arah ruang tamu diikuti dengan bodyguardnya. Vanes dengan manjanya ikut duduk di sebelah Kenzo. Kenzo tersenyum sambil membelai pipi kanan Vanes lembut.
"Vanessa, kamu makan ya? Jangan disini. Ini urusan orang dewasa." Kata Kenzo.
"Aku kan juga orang dewasa, kak."
"Baru juga 14 tahun." Jawab Kenzo.
"15 Kak!" Koreksi Vanes.
"Iya-iya terserah kamu. Kamu makan ya sama Sinta."
Vanes mendengus kesal. Dia berdiri, berjalan meninggalkan Kenzo. Setelah di pastikan jika Vanes sudah tak ada di sekitar ruang tamu, Kenzo langsung menatap keenam bodyguardnya yang berdiri di hadapannya.
"Ada yang perlu kami laporkan, Tuan." Kata Yarga mengawali.
"Apa?"
"Tentang Nona Vanessa." Imbu Yarga.
Kenzo berdiri dari duduknya. Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celananya. "Ada apa dengan Vanessa?"
"Emm. Nona menjalin hubungan dengan seorang lelaki. Kami sudah merentas Handphonenya. Dan setelah saya periksa dan cek, ada satu kontak yang sering menghubungi Nona Vanes." Kata Yarga.
Wajah Kenzo terlihat semakin serius. "Siapa?"
__ADS_1
"Kami masih belum tahu, Tuan. Kontak itu diinisialkan 'JN' oleh Nona. Kami masih tidak tahu." Yarga menundukkan kepalanya.
Kenzo nampak frustasi. Dia harus tahu penyebab Vanes yang tiba-tiba murung karena melihat Handphone. Dan, dia juga harus mencari tahu kontak yang berinisial 'JN' itu.
***
"Nyonya Muda? Ada apa dengan tangan Nyonya?" Sinta meraih tangan Vanes.
"Aku tidak kenapa-kenapa, Sinta. Ayo kita ke ruang makan!" Ajak Vanes sambil mengalihkan suasana.
"Nyonya, ini pasti parah hingga sampai di perban begini." Sinta khawatir. "Apa perlu saya beri tahu Nyonya dan Tuan besar?"
Vanes berdiri dari pinggiran kasur. "Tentu saja tidak! Kamu tidak perlu bilang sama Mama dan Papa. Aku melarangmu keras, Sinta!"
"Maafkan aku, Nyonya!" Kepala Sinta tertunduk.
"Sekarang ayo ke ruang makan. Ngomong-ngomong, aku tidak melihat mama dan papa dari tadi, kemana mereka?" Vanes berjalan mendahului Sinta.
"Tuan dan Nyonya besar sedang keluar. Kemungkinan nanti malam baru pulang." Jawab Sinta.
"Oh." Vanes ber-oh ria sambil duduk di kursi.
Di meja makan, terdapat banyak sajian makanan yang telah di sajikan oleh Bi Gina. Vanes menghela nafas. Selalu saja di tinggal oleh kedua orang tuanya. Untung sekarang ada Kenzo yang selalu menemaninya.
Tak lama kemudian, Kenzo duduk di hadapannya. Vanes sangat suka melihat wajah tenang Kenzo itu. Apalagi senyum kerennya itu. Bagi Vanes, Kenzo itu hanya miliknya. Tak ada seorang pun yang boleh memiliki lelaki sebaik Kenzo selain dirinya.
Kenzo mendongak. "Kenapa?"
"Apa Kak Kenzo sudah punya kekasih?" Tanya Vanes to the point.
Kenzo diam. Kenapa Vanes kecilnya itu tiba-tiba bertanya hal seperti itu?. "Memang kenapa?"
"Aku tidak ingin Kak Kenzo memiliki kekasih."
Tentu saja Kenzo kaget dengan ucapan Vanes. Kenzo segera menetralkan raut wajahnya. "Oh. Bagaimana dengan Edgar, Vanessa?"
"Edgar? Teman biasa." Jawab Vanes. Kemudian dia menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Kenzo dapat melihat keseriusan di wajah Vanes. "Masa sih? Aku lihat dia menyukaimu."
"Oh seperti itu. Biarin lah. Aku maunya Kak Kenzo nggak boleh punya pacar."
"Emangnya kenapa?"
"Karena Kak Kenzo hanya boleh menjadi milikku. Kak Kenzo is mine!"
__ADS_1
***
"Jihan!" Sapa Vanes saat bertemu di depan kelas.
Jihan tersenyum kikuk. Canggung.
"Kamu ngapain sapa dia, Van?" Tanya Andini yang sedang duduk dengan Utari dan Calen. Di belakang mereka ada gerombolan perempuan yang sedang berceloteh ria. Ghibah.
"Sesekali."
"Masa level sih Putri Sekolah sapa cewek kayak dia? Nggak malu apa?" Cetus Deka.
"Nggak sih. Santai saja." Jawab Vanes sambil duduk di bangkunya.
Perasaan was-was tiba-tiba muncul ketika duduk di bangkunya. Apalagi saat melihat tangannya yang masih di perban. Vanes takut jika Juna datang lagi.
Tumben sekali Nesya belum ada di kelas. Biasanya dia akan memberi gosip ria jika dia datang. Kehebohan yang di buatnya di pagi hari mampu membuat Vanes berdecak. Dia melirik Jihan yang duduk di pojok belakang sendiri. Dia rindu dengan kebersamaannya bersama Jihan. Tapi, Vanes gengsi jika harus mengalah. Kadang dia masih terfikir dengan foto yang di berikan Nesya waktu itu.
"Vanes!"
Nah itu datang. Nesya dengan wajah cerianya berlari ke bangkunya.
"Santai aja kali. Ngapain sih? Ada apa?"
"Di panggil om Juna di depan." Bisik Nesya.
Shit. Again.
"Ngapain sih, Nes?" Sewot Vanes.
"Temuin aja." Jawab Nesya sambil berdiri. Vanes juga ikut berdiri. "Katanya dia mau ngomong. Aku mau ketemu sama Gara."
"Eh. Bentar. Kok kamu tahu?"
"Tadi ketemu sama aku. Udah ya, aku mau ketemu sama Gara sebentar. Temuin aja. Berdoa ya, Vanes. Biar aman. Bye!" Kemudian Nesya keluar dari kelas.
Keringat Vanes tiba-tiba keluar. Dia bolak-balik menghela nafas. Bagaimana pun, dia juga harus menemui dan menghadapi Juna. Akhirnya dia keluar dari kelas. Setelah itu, Vanes membawa Juna ke tempat yang sepi agar tidak di lihat oleh murid atau guru.
"Ada apa? Kenapa lagi?" Tukas Vanes kesal.
Keluarlah senyum seringai dari Juna. "Bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu!"
"Kita sudah tak ada hubungan lagi. Tolong. Jangan ganggu aku." Pinta Vanes.
Juna tertawa. "Aku selalu suka melihat wajahmu itu. Aku merindukanmu, sayang. Kamu akan selalu menjadi milikku. Walaupun kamu tidak mau. Aku akan terus mengejarmu."
__ADS_1
"Aku sudah bilang jika jangan pernah ganggu aku lagi!"
"Tidak bisa!" Tegas Juna. "Aku tidak akan melepaskanmu! Kamu itu sudah menjadi milikku. Aku tidak akan melepaskanmu!"