
Satu minggu kemudian
Bima kini duduk termenung di depan halaman rumahnya. Dari kejauhan Eliza menghela nafas, sepertinya dia tahu apa yang tengah dipikirkan oleh calon suaminya itu.
"Bima. " panggil Eliza.
Bimapun menoleh dan tersenyum melihat kehadiran Eliza. Eliza langsung datang dan duduk di sebelah Bima, dia menghela nafas kemudian melirik Bima lagi. "Bagaimana kalau kita batalkan saja rencana pernikahan kita
Bim. " ujar Eliza.
Bimapun terkejut mendengarnya. Dia langsung menoleh kearah Eliza dengan raut penuh tanda tanya. "Ya lebih baik batalkan saja, aku tidak mau kamu tersiksa karena kamu menikah dengan gadis yang tidak kau cintai. " ujar Eliza tenang.
Sebenarnya Eliza merasa sakit, mengucapkan apa yang dia katakan barusan. Tapi dia tidak mau terus menerus berharap pada pria yang tidak mencintainya, lebih baik dia mau tidak mau harus melepaskannya, walaupun sakit.
"El aku... " Eliza langsung menaruh jari telunjuknya di bibir Bima. Bima langsung terdiam dan tak melanjutkan ucapannya itu.
"Maafkan aku ya, maaf perjodohan dari orang tua kita membuatmu tertekan ditambah kenyataan gadis yang kau sukai sudah
menikah. " sesal Eliza dengan lirih.
__ADS_1
"Terimakasih atas semuanya Bim, selamat tinggal. " Eliza pun bangkit, berlalu pergi dari sana sambil menahan luka dan air mata.
Bima langsung bangkit dan berlari menyusul kepergian Eliza. Dia mencari Eliza di manapun namun tak menemukan gadis itu, hal itu membuat Bima kian panik dan cemas. Ayah yang melihat Bimapun segera menghampiri puteranya itu. "Ada apa Bima kenapa kamu berlarian seperti itu? " tanya Ayah.
"Yah, apa Ayah melihat Eliza. " cecarnya.
"Oh Eliza, tadi dia pamit sama Ayah, katanya dia akan pulang ke kampung, " Bima berlari melewati Ayahnya menuju ke rumah Eliza. Ayah hanya menggeleng kecil melihat kelakuan putera satu satunya itu.
Brak Bima membuka pintu rumah Eliza kasar. Eliza berjengit kaget, melihat kehadiran Bima yang kini datang dengan nafas memburu. Tanpa ragu da langsung menghampirinya kemudian Bima memeluk erat tubuh Eliza. "Maafkan aku Eliza, maaf. Beri kesempatan padaku Eliza, aku janji akan belajar mencintaimu kamu. "
Eliza hanya diam, dia masih mencerna dengan maksud dari Bima. Bima meraih wajah Eliza, kemudian mengecupnya sekilas, dia abaikan wajah terkejut dari gadisnya itu. "Aku menerima perjodohan itu Eliza, aku mau menikah sama kamu dan kita bangun keluarga kecil kita, aku kamu dan calon anak kita kelak. " jelasnya panjang lebar.
Mata Eliza berkaca kaca, dia langsung mengangguk dan berhambur ke dalam pelukan pria yang di cintainya itu. Bima tersenyum lebar, membalas pelukan dari calon istrinya. "Terimakasih sayang, kamu mau memberiku kesempatan. "
"Paman, Bibi maafin aku yang selalu membuat Eliza selalu sedih, aku selalu menolak kehadirannya selama ini. " sesal Bima.
"Enggak papa Nak! Asalkan kamu bisa memberikan kebahagiaan pada Eliza nantinya serta selalu berada di sisinya. " ujar Paman dengan bijak.
"Iya Paman itu pasti!
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu lusa, kalian akan menikah di gereja bagaimana. " putus Bibi, ibu kandung Eliza.
Semua orang mengangguk setuju. Bima dan Eliza saling melempar senyum satu sama lain. mereka berdua saling bergenggaman tangan satu sama lain, menyalurkan rasa bahagia yang membuncah di hati keduanya saat ini.
"Baiklah kalian di sini Paman, Bibi dan Ayahmu akan menyiapkan segala keperluan pernikahan kalian. "
"Hati hati Paman! Kedua orang tua mereka ke luar dari rumah meninggalkan sepasang kekasih itu.
Bima merengkuh tubuh calon istrinya, kemudian memagut mesra bibir Eliza dengan lembut. Eliza mengalungkan tangannya ke leher Bima, membalas ciuman lembut itu.
Setelah ciuman mereka terlepas, Eliza menundukkan wajahnya yang merona. Dia tak menyangka membalas ciuman dari Bima. Bima tersenyum geli melihat tingkah dari gadisnya itu.
Eliza kembali mengangkat wajahnya, menatap lekat wajah pria yang akan menjadi suaminya kelak. "Apa kamu yakin Bim, menikah dengan aku dan membuka lembaran denganku. " cecar Eliza merasa ragu dengan keputusan Bima.
"Tentu saja sangat yakin sayang, aku tahu kamu ragu dan aku paham akan hal itu. "
Eliza bernafas lega mendengarnya, keyakinan nya sangat kuat untuk menikah dengan Bima, calon suaminya. Bima mengulas senyumnya, mengusap kepala Eliza dengan lembut.
Beruntungnya aku dicintai sama kamu Eliza, mungkin saat ini aku belum cinta sama kamu tapi aku akan berusaha cinta sama kamu.
__ADS_1
"Ya sudah Bim, aku buatin kamu kopi ya. " Eliza bangkit, berlalu pergi ke dapur. Tak lama kemudian dia kembali dan menaruh minuman di atas meja. Setelah itu Eliza duduk kembali di dekat calon suaminya, Bima langsung menyesap kopinya dengan pelan dan juga hati hati.
TBC