My Little Wife

My Little Wife
Bab 183 : Keberuntungan yang Diharapkan


__ADS_3

TETAP MENYERAH DAN JANGAN SEMANGAT😌✋️


canda. Level aku tbtb nurun ges, sedih banget. Tapi yaudah mau gimana lagi.


VOTE KOMEN YYY.


.


.


.


Happy reading♡


Sudah empat hari berlalu Ayu masih berada di Jakarta. Ia enggan kembali ke Bandung apalagi masuk ke universitas yang sama dengan Dimas. Bagaimana pun Ayu merasa sakit hati dengan perlakuan Dimas padanya.


Entah apa yang akan diputuskan Ayu nantinya. Ia belum tahu pasti. Dari bulan lalu orang tuanya sudah berada di Jakarta. Mungkin mereka akan menetap disini dengan waktu yang tidak bisa ditentukan.


"Apa gue daftar kuliah di Jakarta aja ya? Lagian mama sama papa juga bakalan lama tinggal disini kayaknya," ucap Ayu. Ia mendoronh trolinya yang sudah hampir penuh dengan snack dan beberapa barang titipan mamanya.


Saat ini ia sedang berbelanja di salah satu mall yang ada di Jakarta. Ayu hanya belanja sendirian karena mamanya ada kepentingan lain. Sedangkan Ajeng sudah kembali ke Bandung bersama Didi dan juga Dimas.


Kemarin di pernikahan Ashel, Ayu melihat kembali Dimas bersama dengan pacar barunya. Ada sedikit perasaan tidak rela di hatinya saat melihat orang yang dia cintai menjadi pacar wanita lain.


Namun Ayu harus apa? Ia tidak bisa memaksakan kehendaknya bukan?


Tangan Ayu terulur untuk mengambil tissue kering di bagian atas rak. Rak itu cukup tinggi sehingga Ayu cukup kesusahan mencapainya.


"Ini rak ngajak ribut kayaknya. Kenapa harus tinggi banget sih?" Gerutunya.


"Makanya tumbuh tuh ke atas," ucap seseorang dari arah belakangnya.


Ayu otomatis membalikan badannya untuk melihat orang itu. Dia seorang cowok. Perawakannya cukup tinggi dan sedikit, tampan.


"What? Enggak, enggak. Apaan sih lo Yu," ucapnya dalam hati.


Cowok itu memberikan tissuenya pada Ayu. Ayu lantas menerimanya dan kembali mendorong trolinya tanpa mengatakan apapun.


"Dih, bilang makasih kek udah gue tolongin juga," ucapnya. Ia pun kembali mengejar cewek itu.


Sepertinya takdir memang sedang berpihak padanya. Baru tadi pagi ia berharap bertemu dengan cewek ini lagi. Dan ternyata tuhan mendengar ucapannya.


Tidak sia sia Rafello pergi ke mall karena gabut. Ternyata gabutnya ini membuahkan hasil, yaitu bertemu dengan cewek kemarin yang menjadi bridesmaid di pernikahan Ashel dan Kavin.


"Ngomong ngomong, lo cewek yang kemaren jadi bridesmaidnya kakak ipar gue kan?" Tanya Rafello.


Namun Ayu masih diam tak menjawabnya. Ia lebih fokus pada angka timbangan. Karena saat ini dia sedang menimbang berat telur.

__ADS_1


"Dosa loh mengabaikan seseorang itu. Apalagi orangnya itu ganteng kayak gue," ucap Rafello pede.


"Emang lo orang?" Tanya Ayu ketus.


Jleb.


Ucapan Ayu sangat menusuk hati Rafello. Ternyata cewek yang cantiknya sedikit ini sangat memiliki mulut pedas seperti Ashel.


Pantas saja mereka berteman, pikir Rafello.


"Harga cabe lagi mahal loh, kurangin makan pedesnya biar mulutnya juga gak pedes," ucap Rafello.


"What ever," ucap Ayu.


Dengan iseng, Rafello mengambil satu telur yang sedang ditimbang oleh Ayu membuat timbangan itu berkurang lagi. Padahal sudah susah susah Ayu menimbangnya.


"Tolong yah jangan ganggu saya. Saya bisa panggil security kalo kamu ganggu kenyamanan saya belanja," ancam Ayu, ia menatap tajam ke arah Rafello.


Bukannya merasa takut karena ancama Ayu. Rafello malah terfokus pada mata bulat Ayu.


Sangat indah.


"Bukannya pergi malah bengong. Dasar cowok aneh," ucap Ayu. Ia pun pergi dari sana meninggalkan Rafello.


Telur yang tadi sudah ia timbang tidak ia ambil. Ia malas lebih baik tidak membeli telur itu daripada harus berhadapan dengan cowok aneh itu.


Setelah sampai di dekat kasir, Ayu mulai mengeluarkan satu per satu barang yang ia beli untuk di scan barcodenya.


"Totalnya jadi tujuh ratus delapan puluh ribu lima ratus rupiah mbak. Pembayarannya mau cash atau debit?" Tanya kasir.


"Debit mbak." Bukan Ayu yang menjawabnya melainkan Rafello. Ia menyerobot begitu saja dan memberikan black card miliknya.


"Jangan mbak, saya yang bakalan bayar," ucap Ayu. Ia pun mengeluarkan dompetnya untuk mengambil uang cash.


"Sayang, kamu kok gitu sih sama pacar sendiri? Udah mbak pake ini aja. Cepetan," ucap Rafello memaksa.


"Tapi mas, kata mbaknya..,"


"Lo masih mau kerja disini?" Tanya Rafello. Sudah tentu semua orang mengenalnya termasuk kasir ini. Siapa yang tidak tahu anak kedua dari pasangan konglomerat Natapraja.


"B-baik mas," ucapnya. Ia pun mulai melakukan pembayaran dengan kartu debit yang diberikan Rafello.


"Lo apa apan sih? Udah gak kenal juga so soan mau bayarin. Gue juga punya uang kali," ucap Ayu.


"Gak papa. Itung itung latihan buat nanti kalo kita udah nikah," ucap Rafello tersenyum.


***

__ADS_1


Ashel dan Kavin sudah selesai makan di salah satu restoran Jepang. Saat ini mereka sedang menuju ke rumah keluarga Kavin karena tadi Sarah memintanya datang.


"Sayang," panggil Kavin. Mereka saat ini sudah berada di dalam mobil menuju ke rumah orang tua Kavin.


"Kenapa?" Tanya Ashel.


"Kamu mulai masuk kuliah kapan?" Tanyanya.


"Satu minggu lagi mas, Rafello yang kasih tahu kemarin," ucap Ashel.


"Mas?" Tanya Kavin melongo. Seolah tak percaya Ashel memanggilnya dengan sebutan itu.


Ashel mengalihkan atensinya saat Kavin mengulangi ucapannya.


"Kamu manggil aku mas? Serius?" Tanya Kavin.


"Kamu kan gak budeg mas. Masa gak ngerti," ucap Ashel. Ia kembali fokus pada tablet di tangannya. Saat ini ia sedang memeriksa bahan bahan pokok makanan untuk cafenya.


"Ya enggaklah yang. Aku gak budeg, cuma kaget aja kamu manggil aku mas. Tapi aku seneng banget loh kamu mulai manggil aku mas," ucap Kavin.


"Aku cuma biasain aja mas. Gimana pun sekarang kan kamu suami aku," ucap Ashel.


"Makin sayang deh," ucap Kavin. Ia pun menarik Ashel dan mencium kepalanya.


"Tiga hari lagi Sash Cafe bakalan buka mas. Kamu nemenin aku kan?" Tanya Ashel.


"Pastilah yang," ucap Kavin.


"Josh, kosongkan jadwal ku di hari ketiga. Aku ingin menemani istriku," ucap Kavin pada Josh.


"Siap tuan."


Mobil yang mereka tumpangi pun sampai di area perumahan elite yang ada di Jakarta.


Dua orang security membuka gerbang saat mendengar bunyi klakson. Jarak dari gerbang depan ke pintu utama cukup jauh. Orang orang dirumah Kavin sering menggunakan kendaraan khusus untuk mencapai ke gerbang.


Kavin keluar lebih dulu kemudian membukakan pintu mobil untuk istrinya. Ashel pun keluar. Ia menggandeng tangan Kavin kemudian masuk ke dalam rumah.


Saat masuk, mereka sudah disambut oleh Sarah.


"Astaga mantu, apa kabar? Kavin gak main kasar kan sama kamu?" Tanya Sarah.


"Mama apaan sih ma, nanyanya gitu amat. Aku gak mungkin kayak gitu," ucap Kavin.


"Ya siapa tahu aja."


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2