My Little Wife

My Little Wife
19. HotNews SMP Perdabar


__ADS_3

Jihan menghampiri Vanes yang sedang duduk di Taman sekolah. Setelah dua hari Vanes tidak masuk pasca menikah dengan Kenzo, sekarang dia bisa melakukan aktivitasnya kembali.


Hubungan Vanes dan Jihan sudah membaik. Vanes tak mau egois. Dia merasa, dirinya sudah jahat jika terlalu mendendam hingga ke akar.


"Vanes! Ngapain kamu?" Tanya Jihan sambil mengambil duduk di sebelah Vanes.


Vanes menoleh kemudian tersenyum. "Ngerjain tugas dari Bu Gita."


"Mau aku bantu?" Tawar Jihan.


"Nggak usah. Ini juga hampir selesai kok."


Lima menit kemudian tugas yang di kerjakan oleh Vanes selesai. Jihan mengajaknya ke kelas karena bel masuk akan segera berbunyi.


"Jihan! Kamu duduk disini aja ya sama aku?"


Jihan mengernyitkan dahinya. "Nesya?"


"Dia duduk di depanku."


Melihat Vanes sudah akur dengan Jihan, sebagaian dari mereka juga ada yang ikut mengakuri Jihan. Tak banyak juga yang lebih memilih memusuhi Jihan. Tapi, untuk memusuhi Vanes, mereka harus berfikir dua kali. Mereka juga tak ingin bernasib sama seperti Jihan waktu itu.


Vanes menghela nafas. Jam pertama adalah pelajaran fisika. Dan itu artinya adalah Juna yang mengajar. Nesya belum menampakkan dirinya. Kemungkinan dia libur.


"Vanessa." Jihan menggenggam tangan Vanes. "Jangan takut."


Vanes tersenyum. "Iya. Aku nggak takut."


Juna masuk ke kelas dengan arogannya. Vanes menghela nafas. Juna menatap. Begitu pula dengan Vanes. Tatapan mereka seolah-olah terkunci.


"Sekretaris, bisa ikut saya ke ruangan saya?" Juna masih menatap Vanes.


Vanes kemudian mengalihkan pandangannya. Utari berdiri sambil berjalan ke arah meja guru. Ya. Sekarang Utari yang menjadi sekretaris. Bukan Vanes lagi.


Wajah Juna tampak kaget sekaligus terkejut. Namun, dia langsung mengubah raut wajahnya sedatar mungkin.


"Sekretaris sudah ganti ya? Saya sudah terbiasa dengan Vanessa."


***


"Kenapa sih, Jun, Kamu itu selalu ganggu aku, hah?" Bentak Vanes.


Juna menghela nafas. "Aku tidak bisa melupakanmu."


"Aku sudah menjadi orang lain, Jun. Orang itu sudah menggenggamku. Dia juga berjanji akan selalu melindungiku." Jawab Vanes.

__ADS_1


Mereka berdua sedang berada di ruangan Juna. Juna tidak mengajak Utari. Melainkan, dia menghampiri meja Vanes kemudian mengajaknya ke ruangannya. Dan disinilah mereka.


"Apa maksudmu itu Kenzo?"


"Ya." Jawab Vanes. "Orang itu Kenzo. Orang yang lebih ku anggap sebagai kakak itu telah menjadikan aku sebagai miliknya dan mengklaim jika aku tidak boleh ada yang menyentuh."


Juna cemburu. Wajahnya memerah. Kedua tangannya terkepal. Dia langsung berdiri dari duduknya sambil menarik nafas. Vanes tak bergeming dari tempat duduknya.


"Aku ingin kamu mau jadi kekasih kecilku lagi!"


Vanes berdiri. "Aku tidak bisa jika itu."


"Edgar?"


"Ada apa dengan Edgar? Edgar tak ada hubungannya dengan ini." Sarkas Vanes.


"Bukankah dia dulu kekasihmu?"


Vanes hanya mengangkat bahunya acuh saja. Tanda tidak peduli. Nyatanya mereka berdua tidak ada hubungan apapun. Hanya sebatas teman dekat.


Juna mendekat ke arah Vanes. "Vanessa. Kumohon. Ayo kita seperti dulu." Tangannya mencoba meraih tangan Vanes.


Vanes menjauh dari Juna. Dia mundur beberapa langkah. "NGGAK! NGGAK BISA, JUN. AKU SUDAH LELAH DENGAN SEMUA INI. JANGAN GANGGU AKU."


"Aku juga nggak bisa. Aku akan mengejarmu hingga aku mendapatkanmu. Jangan salahkan aku jika aku akan berbuat nekad ke depannya."


Setelah mengumpat, Vanes keluar dari ruangan Juna. Dia menangis. Dan siapa yang mengira jika ternyata Kenzo ada di sekitar sana. Kenzo mendekat ke arah Vanes kemudian memeluknya. Kenzo membawanya ke tempat yang sepi.


"Kak Kenzo..Kenapa dia selalu mengangguku? Aku capek seperti ini terus. Apa setiap hari Rabu aku tidak usah masuk, Kak?"


Kenzo mengelus bahu Vanes dengan sabar. Hatinya bergemuruh. Dia tidak terima jika istrinya itu menangis. Apalagi yang membuatnya menangis adalah musuhnya sekarang.


"Jangan mau jika di ajak ke ruangannya lagi, Vanessa." Singkat Kenzo yang suaranya penuh amarah.


"Aku nggak mau pelajaran Fisika di ajar Juna, Kak. Aku nggak sekolah setiap hari Rabu!" Rengek Vanes.


"Aku akan mengaturnya untuk itu. Sekarang ke kelas ya? Itu kebetulan ada Jihan. Aku panggil ya.." Kenzo kemudian memanggil Jihan. "JIHAN! KEMARI."


Jihan yang sedang jalan-jalan terkejut dengan panggilan Kenzo. Dia berjalan ke arah mereka berdua duduk. "Ada apa, Pak?"


"Bawa Vanessa ke kelas ya."


Jihan mengangguk. "Ayo, Van."


Jihan dan Vanes berjalan beriringan. Vanes diam. Jihan juga diam. Jihan memaklumi Vanes. Dia tahu jika Vanes menangis pasti karena Juna. Dan..Kenapa Vanes begitu dekat dengan Kenzo?.

__ADS_1


Apa Vanes menjalin hubungan dengan Kenzo?.


Akhirnya mereka berdua telah sampai di kelas. Kelas sedang gaduh. Mereka tidak tahu jika Putri Sekolah yang mereka dambakan sedang bersedih. Mereka masih sibuk membicarakan sesuatu yang pastinya nanti akan dikonfirimasi kepadanya.


"Juna ngapain lagi?" Tanya Jihan yang geram.


"Kita kan udah lama putus kan..Dia nggak terima. Tadi, dia maksa aku buat jadi kekasihnya lagi. Aku ya nggak mau dong." Jawab Vanes.


"Terus kalau Pak Kenzo?"


"Dia suamiku."


"Hah?" Jihan kaget. "Su--suami?" Bisiknya.


Vanes mengangguk. "Aku sudah menikah. Menikah siri."


Jihan tergelak. Dia tak menyangka. Vanes memesuhinya selama sebulan lebih. Dan saat sudah akur dia menerima kabar jika dia menikah siri dengan guru baru di sekolahnya.


"Kamu nggak bohong kan?" Vanes menggeleng. "Kamu nggak hamil kan?"


Vanes tersenyum. "Ngaco. Tenang. Aku tak sejauh itu dengan Kenzo. Aku dan Kenzo pasangan sehat."


"Bagaimana kalian bisa kenal? Pak Kenzo kan baru disini."


Vanes bercerita tentang awal bertemunya dengan Kenzo. Menjelaskan bagaimana dia bisa dekat. Terus dia juga menceritakan bagaimana Kenzo bisa mengajar disini hingga akhirnya kenapa bisa menikah dengannya.


"Oh jadi begitu. Kamu bakal dilindungi terus dong sama Pak Kenzo. Terus kamu juga nggak putus sekolah kan? Enak. Yang nggak enak tuh Pak Kenzo. Nggak dapat nafkah batin." Setelah berucap seperti itu, Jihan tertawa.


"Eh iya ya. Kasihan. Aku kok kesannya egois gitu ya? Hahaha." Vanea ikut tertawa.


Mendengar suara tawa Vanes yang keras. Seisi kelas langsung diam dan menatap mereka berdua. Vanes yang menyadari itu langsung terdiam.


"Apa liat-liat? Nggak terima? Sini kalau nggak terima!" Bentak Vanes.


"Santai, Vanes. Kita mau beri tahu ke kamu tentang gosip yang beredar." Ucap Tirta sambil berjalan ke arah bangku Vanes dan Jihan. Jihan seperti trauma. Dia tak berani melihat Tirta. Dia menggenggam erat tangan Vanes.


"Gosip apa?" Tanya Vanes.


Semuanya langsung menggerumbul di meja Vanes. Ini masih jam pelajaran Fisika. Tapi Juna masih belum kembali dari ruangannya. Jadi dapat disimpulkan jika saat ini mereka jamkos.


"Gosip tentang Nesya." Jawab Dani.


Jihan berdiri. Vanes juga ikut berdiri. "Kenapa sama Nesya?" Tanya mereka berdua serempak.


"Nesya hamil. Ini gosipnya udah melebar luas."

__ADS_1


Jihan menganga.


Vanes terkejut. "Aku akan mencari tahu masalah ini benar atau tidak."


__ADS_2