
VOTE KOMEN DULU GUYS. RAMEIN JUGA BIAR SEMANGAT UP NYA!!!!
up malem ni rameinnn
.
.
.
Happy reading♡
Di ruangan gelap yang minim cahaya, Dona terikat kuat di sebuah kursi yang senantiasa menyengatkan listrik ke tubuhnya.
Tegangannya memang tidak kuat sehingga sampai saat ini Dona masih hidup.
Disana ada Sergio, bawahan Ardian. Dia membawa sebuah tablet di tangannya dan menunjukannya pada Dona.
Disana ada Ashel yang tengah memakai gaun putih yang juga di dampingi beberapa temannya. Salah satunya Ayu.
"Lo salah pilih lawan. Lihatkan sekarang siapa yang kalah? Kebohongan akan selalu kalah sama kebenaran. Dan kebenarannya Bos cantik gak bunuh cowok yang lo suka. Dia di bunuh bokap lo," ucap Sergio.
"DIEM LO ANJI*G. BOKAP GUE GAK MUNGKIN LAKUIN ITU SAMA GUE. DIA SAYANG SAMA GUE," teriak Dona.
"Sayang? Hahaha. Kasian banget hidup lo penuh dengan kebohongan. Salah satunya kebohongan tentang kasih sayang. Lo percaya kalo bokap lo sayang sama lo?" Tanya Sergio namun Dona terdiam. Ia menatap penuh emosi pada Sergio.
"Gue tebak, lo gak bisa jawab kan? Soalnya selama ini bokap lo gak pernah nunjukin hal seperti itu. Tapi tenang aja, cepat atau lambat lo bakalan tahu kebenarannya," ucap Sergio. Dia pun menyimpan tablet tadi diatas meja agar Dona masih bisa melihatnya.
Dona terdiam namun pandangannya tetap melihat ke arah tablet. Disana Ashel tengah duduk bersama Kavin di pelaminan. Mereka sedang bersalaman dengan para tamu.
Namun tunggu, pria itu? Apa itu Liam?
Dona mengerjapkan matanya berkali kali untuk melihatnya. Tanpa sadar air matanya terjatuh.
***
Setelah membersihkan make up, Ashel langsung bergegas ganti baju. Lagian sudah terlalu malam jika harus mandi lagi toh tadi sebelum pesta dia sudah mandi juga.
Ashel masuk ke walk in closet yang ada di ruangannya. Disana ia melihat koper berwarna kuning miliknya. Ashel menarik koper itu dan membukanya.
Matanya membulat saat melihat isi koper itu.
"DEMI APA? BAJU HAROMAH SEMUA?" Pekiknya.
__ADS_1
Seumur hidup dia tidak pernah membeli baju seperti ini. Lalu dari mana datangnya?
Seketika terlintas di pikirannya satu nama.
"Ya salam, kerjaan bunda gue nih pasti," gumamnya.
"Gawean banget bunda, kenapa harus baju kurang bahan kayak gini sih? Nanti kalo gue masuk angin kan repot. Tapi kok kebuka semua sih," ucap Ashel.
Ia menepuk kepalanya. "Bego! Ya jelas kebuka lah, namanya juga baju haromah."
Dia membayangkan jika memakai baju ini malam ini, sudah pasti Kavin akan menerkamnya.
Ashel menggelengkan kepalanya. "Gak. Gak bisa. Gue cape banget malem ini."
Ia pun kembali mencari baju lain namun tetap saja. Semuanya kurang bahan.
"Yaudah yaudah, pake ini aja lah. Puyeng lama lama mikirin ginian," ucapnya. Ia mengambil hotpants berwarna merah karena hanya ada itu saja. Ia juga mengambil tanktop crop.
Ashel langsung memakainya disana. Ia masih mendengar gemerincik air di dalam toilet, sepertinya Kavin masih mandi.
Setelah selesai memakai baju, Ashel pun mencuci mukanya di wastafel.
"Harus cepet cepet ini, kalo Kavin lihat gue pake baju kayak gini bisa lupa daratan dia," ucapnya. Ia pun dengan cepat membersihkan wajahnya yang penuh dengan busa. Kemudian memakai parfume kesukaannya. Aroma greentea.
Ia belum siap melakukan itu dengan Kavin. Ia masih takut. Jadi ia memilih tidur duluan agar mereka tidak melakukannya.
***
Kavin keluar dari dalam kamar mandi. Tubuhnya sangat segar sekali karena air yang menyentuh tubuhnya.
Kavin mengeringkan tubuhnya dengan anduk kecil kemudian memakai celana bahan berukuran pendek. Kavin memang selalu tidur tanpa atasan. Dia sudah terbiasa sejak SMA dulu.
"Waktunya tempur," ucapnya. Ia sangat bersemangat sekali malam ini. Memang sudah hampir pukul satu dini hari namun ia tidak peduli.
Jam berapapun itu ia akan melakukannya. Toh sekarang dia sudah punya istri.
"Kayaknya gue gak usah konsumsi obat obatan itu lagi. Kan sekarang kalo pengen tinggal gas. Udah ada istri, halal," ucapnya. Ia berjalan dengan semangat menuju ke tempat tidur.
Disana ia melihat jika sudah ada yang meringkuk di kasur. Tidak perlu bertanya siapa lagi, sudah pasti itu istri kecilnya.
Kavin naik ke tempat tidur. Ia menyingkap sedikit selimut yang menutupi tubuh Ashel sampai kepala.
"Sa-," ucap Kavin terpotong saat melihat wajah damai Ashel yang sepertinya sudah tertidur nyenyak.
__ADS_1
Ia tersenyum kecil. Rasanya sangat sulit diungkapkan. Akhirnya ia menikah juga. Bahkan dengan gadis yang ia cintai.
Kavin merebahkan tubuhnya. Ia ikut tidur bersama Ashel.
Tangan Kavin terulur untuk menyingkirkan anak rambut Ashel yang menghalangi pandangannya.
"Cantik banget. Pengen aku makan aja rasanya," ucap Kavin.
Ia ikut bergabung masuk ke dalam selimut yang digunakan Ashel. Sekilas Kavin melihat pakaian yang dipakai Ashel.
"Berani pake baju gitu tapi gak berani hadapin aku. Dasar cemen," ucap Kavin. Ia menyentil dahi Ashel pelan.
Ashel mendesis pelan mendapatkan sentilan itu. Ia bergerak dalam tidurnya. Tadinya ia tidur meringkuk kini jadi terlentang.
"Cepet banget sih yang tidurnya. Kan kita jadi gak bisa itu," ucap Kavin.
Ia menyimpan sebelah tangannya di bawah kepala Ashel dan menarik istri kecilnya itu ke dalam pelukannya.
Tangan Kavin kembali menyusuri wajah Ashel. Mulai dari alis, kelopak mata, bulu mata, hidung, sampai ke bibirnya.
"Kehadiran kamu terlalu sempurna untuk hidup aku yang penuh kekurangan ini sayang. Terimakasih, terimakasih banyak sudah mau menerima aku menjadi suami kamu," gumam Kavin. Ia mendekatkan keningnya dengan kening Ashel karena posisi mereka saat ini sudah berhadapan.
"Apapun yang terjadi nanti di masa depan, aku harap kamu selalu percaya sama aku dan aku akan selalu percaya sama kamu."
Kavin pun mengecup kening Ashel kemudian turun ke bibir Ashel. Kavin cukup lama mendekatkan bibirnya dengan bibir Ashel.
"Pengen banget aku lum*t. Tapi nanti kamu bangun terus uring uringan. Aku inget pesan bunda, kalo tidur kamu keganggu sampe kamu bangun kamu pasti bakalan uring uringan gak jelas. Unik banget," ucap Kavin.
Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dengan tubuh Ashel. Sebelumnya ia juga sudah mematikan lampu.
Tanpa ia ketahui, sebenarnya Ashel belum tertidur. Ia hanya pura pura saja. Ia masih belum siap melayani suaminya.
Ia tersenyum saat tahu ternyata Kavin bisa mengucapkan kata kata romantis tadi. Selama ini Kavin memang sering manja padanya namun jarang sekali ia berbicara seperti itu bahkan tidak pernah.
Ashel menggerakan kepalanya mencari kenyamanan di dada Kavin. Ia juga memeluk pria yang kini sudah resmi menjadi suaminya.
"Aku gak bakalan ninggalin kamu kalo bukan kamu sendiri yang buat aku pergi dari hidup kamu. I love you suami," ucap Ashel dalam hati.
Tbc.
CERITA INI MURNI DARI IMAJINASI AKU. KALO ADA KESAMAANNYA PERSIS BERARTI ADA YG PELAGIAT SAMA CERITA AKU YGY.
__ADS_1