My Little Wife

My Little Wife
Bab 255 : Home Sweet Home


__ADS_3

SALTOOO🤸‍♀️🤸‍♀️🤸‍♀️


ramein weh aku udah crazy up lochhh


.


.


.


Happy reading♡


Setelah menempuh waktu sekitar satu jam, akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Ashel dan Kavin berhenti. Tadi Ashel sempat melihat sebuah pagar mewah yang tadi mereka lewati. Saat ia bertanya ini akan kemana Kavin masih tetap bungkam.


Kini Ashel menatap sebuah rumah yang ada di depannya. Rumah ini sangat besar. Tidak ini bukan rumah, ini lebih terlihat seperti mansion. Ashel terdiam melihat rumah ini. Dari awal ia masuk kesini matanya sudah menatap takjub bangunan yang ada di depannya ini.



Kavin sendiri tersenyum geli melihat mimik wajah istrinya yang melongo melihat bangunan ini. Ia lantas merangkul bahu istrinya dan mengecup keningnya.


Kavin pun membawa istrinya masuk ke dalam rumah besar itu. Pintunya terbuka otomatis saat Kavin dan Ashel berada di depan pintu besar yang ada di hadapan mereka. Pintu itu memiliki sensor yang sudah di setting oleh pemiliknya.


"Mas," panggil Ashel. Kavin menolehkan kepalanya pada istrinya namun istrinya melihat ke arah lain. Lagi lagi Ashel dibuat melongo oleh bangunan ini. Dari luar saja sudah luar biasa bagusnya. Ternyata dalamnya juga sangat mewah.


Ashel melepaskan rangkulan suaminya dan berjalan lebih dalam ke rumah itu. Kakinya terhenti saat berada di ruang tamu. Matanya berbinar melihat ruangan ini. Terkesan sangat mewah dan elegan. Warna yang dipadukan pun sangat indah.


-> RUANG TAMU



Ashel terus berjalan semakin ke dalam rumah. Rumah ini ada dua lantai. Ia mendekat ke arah tangga. Warna bagian tangga juga mach dengan warna ruang tamu.


"Mas lihat, lampunya cantik banget. Pasti itu mahal," ucap Ashel menunjuk ke arah lampu gantung yang terpasang di atasnya.


-> TANGGA KE LANTAI 2



"Astaga mas, lihat. Plafonnya juga dikasih lukisan awan awan gitu. Lucu banget," ucap Ashel. Sedangkan Kavin tersenyum lebar melihat istrinya yang tampak ceria dan sumringah melihat lihat area bangunan ini.



Kaki Ashel tidak mau berhenti rasanya. Ia ingin terus melihat semua ruangan yang ada di bangunan ini. Semuanya nampak mewah dan juga elegan.

__ADS_1


Paduan warna biru langit dan putih tulang, warna emas juga silver sangat terlihat cantik sekali. Mata Ashel terasa segar melihatnya.


Ashel memekik keras sampai menutup mulutnya saat melihat area kolam berenangnya. Sangat indah sekali. Spacenya tidak dilapisi dinding apapun di bagian depannya sehingga ketika berenang mata akan dimanjakan langsung dengan pemadangan alam yang sangat indah.


-> KOLAM BERENANG



Ashel terus saja mengelilingi bangunan ini. Entah siapa yang punya. Mungkin nanti Ashel akan meminta maaf pada pemilik rumah ini karena sembarangan berjalan dan melihat lihat tanpa ijin dari pemilik rumah.


Ashel kembali masuk ke dalam rumah. Sedangkan Kavin sejak tadi ia dengan setia mengikuti langkah istrinya. Kemana Ashel pergi maka kesitu pula Kavin akan datang.


Ashel berhenti di area dapur. Di dekat dapur ada sebuah meja makan yang sangat panjang. Ini sangat cocok untuk makan bersama dengan keluarganya nanti. Pasti tidak akan kekurangan kursi untuk duduk.


-> MEJA MAKAN



Saat Ashel akan kembali berjalan melihat isi ruangan ini. Tangan Kavin lebih dulu mencekalnya. Ia menarik Ashel kemudian memeluk tubuh kecil istrinya ini.


"Mas ini bangunan siapa? Cantik banget asli. Suka banget sama model rumahnya. Mana semua warna yang ada di rumah ini sebagian besar warna kesukaan aku. Putih, biru, silver. Arghhh seneng banget mas," ucap Ashel. Ia terus berbicara saking senangnya hari ini. Ternyata ini tempat yang dimaksud oleh suaminya.


"Kamu suka sama rumahnya?" Tanya Kavin.


"Sekarang ikut mas. Jangan pergi ke sembarang arah, oke?" Ucap Kavin.


"Oke. Tapi emang mau kemana? Aku masih mau disini. Suka banget lihat isi rumah ini, jadi betah," ucap Ashel.


"Udah ikut aja dulu," ucap Kavin. Ia menarik tangan istrinya menuju ke lantai dua.


Di lantai dua ini, ada empat kamar. Semua pintunya bercat putih. Hanya saja ada satu pintu yang ukurannya cukup besar. Berbeda dengan pintu yang lain yang ada di ruangan ini.


Ternyata Kavin membuka pintu yang lebih besar dari yang lainnya.


"Woah!!! Mas," ucap Ashel menggantung. Ia tidak dapat berkata kata lagi. Ini kamar. Kamar utama dari rumah ini.



Isi furniturenya bagus dan warnanya cukup senada dengan bagian rumah lain disini.


Kavin menarik tubuh istrinya sehingga berhadapan dengannya. Sedangkan mata sang istri terus berbinar menatap seisi ruangan ini.


"Sayang, lihat mas," titah Kavin.

__ADS_1


"Ya? Kenapa mas?" Tanya Ashel. Ia pun melihat ke arah Kavin.


"Kamu suka rumah ini?" Tanya Kavin.


Ashel mengangguk tentu saja. Rumah ini sudah seperti rumah idamannya. Sayangnya ia tidak tahu ini rumah milik siapa. Dan kenapa suaminya bertanya seperti ini? Apa mungkin suaminya akan membuatkannya rumah sebesar ini?


"Syukurlah kalo kamu suka. Mas seneng dengernya," ucap Kavin. Ashel menaikan sebelah alisnya. Maksudnya apa?


Kavin tersenyum melihat raut bingung dari wajah istrinya. Ia pun semakin merapatkan tubuh istrinya agar berdempetan dengan tubuhnya.


"Rumah ini baru selesai minggu lalu, mas sengaja buat rumah ini buat kamu. Buat keluarga kita, buat anak anak kita nanti. Sejak mas kenal kamu dulu, mas sudah merancang rumah ini. Mulai dari desain, sampai tanah ini mas beli dengan usaha mas sendiri. Hanya saja baru bisa dibuat beberapa bulan yang lalu soalnya mas harus cari sesuai dengan yang kamu mau. Mas sengaja bikin rumah disini sebab mas mau mulai hidup yang baru sama kamu disini," jelas Kavin.


"J-jadi?" Ashel tidak mampu melanjutkan kata katanya. Ia kira ini rumah orang lain, ternyata ini adalah rumahnya dengan suaminya.


"Iya sayang, ini rumah buat kamu. Sertifikat rumahnya pun atas nama kamu. Besok surat suratnya diantar Josh kesini. Anggaplah ini sebagai kado ulang tahun buat kamu," ucap Kavin.


"Makasih," ucap Ashel.


"Makasih doang nih?" Goda Kavin. Ashel pun tersenyum dan berjinjit untuk mencium suaminya.


Bodoh memang. Karena prank kemarin ia tidak sempat membelikan kado apapun untuk suaminya. Sedangkan suaminya memberikan kado se wah ini.


Ashel melepas ciumannya saat stok udara di tubuhnya mulai menipis.


"Kado buat mas mana?" Tagih Kavin.


Nahkan.


Sial! Ia harus menjawab apa pada suaminya ini.


"Mas gak mau kado apapun. Mas cuma mau kamu, diatas ranjang ini. Malam ini," ucap Kavin tanpa bantahan.


Ia lantas kembali menyatukan bibir keduanya. Ciuman kali ini cukup berbeda dengan ciuman seperti tadi. Kavin lebih dalam melakukan ciumannya dan lebih panas.


Ia menggendong istrinya ke atas kasur king size milik mereka.


"Tidak ada kado yang lebih indah dari pada ini sayang," bisik Kavin.


Tbc.


Hehe, kalo typ maap dehh maap bangettttts.


Ramein🫨🫨🫨🫨🫨

__ADS_1


__ADS_2