
Grrttt grrttt...
Kebetulan sekali, ponselnya langsung berdering ketika Azalea baru saja hendak mencarinya.
"Hallo Ma."
"Apa kau sedang sibuk, Lea?"
"Tidak, ada apa Ma?"
"Mama ingin meminta pendapat kalian, bagaimana jika ulang tahun Mama kali ini kita rayakan. Sekalian kita buat syukuran atas kehamilan mu."
"Hemm, tapi sekarang Zico nya lagi gak ada dirumah Ma. Kalau menurut Lea sih, bisa-bisa aja. Tapi nanti coba Lea tanya dulu sama Zico. Nanti Lea kabari Mama yaa."
"Baik sayang, Mama tunggu kabarnya. Secepatnya!" Diiringi kekehannya.
"Baik, Ma."
Tante Ema langsung mematikan panggilan itu.
*
*
__ADS_1
Setelah mengantar Queen, Biandra langsung bergegas menuju perusahaan. Dia masih disibukkan dengan pekerjaannya yang menumpuk.
"Bram, atur pertemuan dengan klien baru kita."
"Baik, pak!" Bram kembali duduk dibalik meja kerjanya. Setelah sempat berdiri sebentar menyambut kedatangan atasannya itu.
Perlahan, saham perusahaan kembali naik. Tentu saja tidak luput dari bantuan Zico.
Biandra kembali menyibukkan diri dibalik meja kerjanya. Fokusnya kini hanya untuk pekerjaan.
"Pak, kita mulai rapat 5 menit lagi." Bram mengingatkan Biandra untuk tidak lupa dengan jadwal rapat nya.
Biandra hanya mengangguk, tanpa menoleh ke arah Bram.
Biandra memandu rapat itu hingga lupa waktu. Dia melupakan Queen, yang sedang menunggunya.
Kedua Bodyguard nya di buat kewalahan. Ketika Queen tidak mau pulang, jika bukan Biandra yang menjemputnya. Ponsel Biandra yang tertinggal didalam ruangannya tak henti-hentinya berdering. Sampai kedua Bodyguard itu menyerah, mereka memilih untuk menunggu sambil terus mengawasi Queen. Berdiri di sebelah kiri dan kanan Queen yang sedang berjongkok tepat di depan gerbang sekolah yang sudah di gembok.
Semua orang sudah pulang. Hanya tinggal Queen dan kedua Bodyguardnya disana. Cukup lama dia menunggu, hingga hari sudah hampir gelap. Queen hanya memandang ke arah tanah dengan tatapan kosong. Sambil memeluk kedua kakinya.
*
Setelah selesai dengan rapatnya, dan kembali keruang kerjanya. Biandra dikagetkan dengan panggilan tak terjawab dari Bodyguard Queen. Dia tersentak, dan dengan cepat langsung meraih kunci mobil. Lalu bergegas sambil kembali menghubungi Bodyguard Queen.
__ADS_1
"Apa Queen sudah pulang kerumah?"
"Dia bersikeras tidak akan pulang, jika bukan Anda yang menjemputnya, Pak."
Biandra langsung mematikan panggilan itu, dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Setelah sampai, melihat Queen yang sedang berjongkok disana padahal hari sudah mulai gelap membuat Biandra merasa bersalah. Namun, karena rasa lelahnya dia justru bertindak di luar kendalinya. Dia memberi aba-aba kepada kedua Bodyguard itu untuk pergi.
"Queen!" Sentaknya membuat Queen kaget dan langsung mendongakkan wajahnya.
"Queen tahu Papa sibukkan!" Biandra menyeimbangi Queen yang sedang berjongkok. "Kalau Papa tidak datang untuk menjemput Queen, seharusnya Queen ikut saja dengan Paman itu. Mereka akan mengantarkan Queen ke kantor." Mungkin karena nada bicara Biandra yang sedikit tinggi, membuat Queen takut dan menangis. Atau memang Queen sudah ingin menangis sejak tadi. Sejak dia merasa ingin cepat-cepat pulang, namun takut kepada kedua orang asing itu. Diapit oleh kedua lelaki dengan tubuh kekar dan wajah yang cukup sangar.
Queen hanya ingin dijemput oleh Biandra, apa itu salah? Bagi Biandra yang begitu sibuk, itu salah. Seharusnya Queen menurut saja. Tanpa harus banyak tingkah. Namun, anak seusia Queen tahu apa! Mereka hanya akan mengikuti kemauan mereka saja.
.
.
.
.
.
__ADS_1
NEXT>>>