
HALLOOO, RAMEIN GUYS. VOTE KOMEN YYY.
.
.
.
Happy reading♡
Setelah acar grand opening selesai, Ashel dan Kavin langsung pulang ke rumah mereka. Rumah yang dulunya tempat bagi Kavin menculik Ashel.
"Mas makan dulu baru zoom," ucap Ashel.
"Nanti aja yang, aku udah ditunggu sama direksi. Kamu makan duluan aja," ucap Kavin.
"Makan itu perlu mas Kavin. Nanti kamu sakit loh," ucap Ashel.
Saat ini mereka berada di ruang tengah. Mereka duduk sejenak setelah sampai ke rumah ini.
Kavin tersenyum kecil dengan perhatian yang diberikan istrinya ini. Ia menarik Ashel untuk berhadapan dengannya kemudian mencuri ciuman dari bibir istrinya.
Jujur saja Kavin ingin sekali melakukan hal ini sejak tadi, namun ia terpaksa menahannya karena istrinya sibuk dengan acara di cafenya.
Ashel sudah terbiasa dengan serangan mendadak ini. Ia tidak menolak, justru ia menerimanya. Ashel kini sudah membalas ciuman suaminya.
Setelah beberapa saat, Kavin pun terpaksa melepaskan ciumannya karena ia tidak boleh absen pada zoomnya. Zoom dilaksanakan sore hari, sekitar pukul tiga.
"Aku zoom dulu ya," pamit Kavin.
"Iya suami, semangat cari uangnya. Soalnya istri mu ini phobia miskin," ucap Ashel.
"Tentu saja. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi sayang. Meskipun aku tidak bekerja, uang terus mengalir ke rekening ku," ucap Kavin.
"Sombong," ucap Ashel.
"Aku serius. Nanti kamu ke ruang kerja aku ya, ada hal yang mau aku bicarakan," ucap Kavin.
"Iya nanti aku kesana mas," ucap Ashel.
Kavin pun pergi dari ruang tengah menuju ke ruang kerjanya. Sedangkan Ashel masih duduk disana.
"Mas Kavin mau makan apa ya?" Gumamnya.
"Bego deh, kenapa tadi gak tanya dulu sama dia mau makan apa," ucapnya.
Ashel pun berjalan menuju dapur. Sudah lama ia meninggalkan rumah ini. Terlihat dari bahan makanan, hanya ada makanan junkfood saja.
"Yaudah order aja," ucapnya. Ia pun membuka ponselnya dan memesan makanan.
__ADS_1
Selagi menunggu makanan datang, Ashel pun pergi ke kamarnya untuk mandi.
***
Sekitar satu jam lebih berlalu, Kavin baru selesai zoom meeting bersama beberapa direksi di perusahaannya.
Seharusnya memang meeting hari ini dilaksanakan pagi hari di kantor. Namun jadwal Kavin bentrok dengan acara istrinya. Alhasil ia pun mengalah dan menreschedule pekerjaanya.
Beruntung direksi menyetujuinya dan akhirnya Kavin membahas hal itu secara online.
Meskipun begitu, meeting kali ini berjalan lancar seperti biasanya.
"Mas," panggil Ashel.
"Masuk aja yang, gak aku kunci kok," ucap Kavin.
"Aku gak bisa buka pintunya, tolongin," ucap Ashel sedikit keras.
Kavin pun bangun dan berjalan membuka pintu. Ternyata istrinya itu membawa satu nampan penuh berisi makanan.
"Makasih," ucapnya saat Kavin membukakan pintu. Ia pun berjalan duluan masuk ke dalam ruang kerja suaminya.
"Padahal panggil aku aja yang, kamu gak usah repot repot kesini," ucap Kavin. Ia membantu istrinya menyimpan nampan penuh itu.
"Gak papa. Kan katanya ada yang mau kamu omongin sama aku disini," ucap Ashel. Ia pun menarik Kavin untuk duduk di sofa yang tersedia di ruangan Kavin.
"Makan dulu atau bicara dulu?" Tanya Kavin.
"Ini, makan ya," ucap Ashel.
"Kamu masak sendiri? Emang bahannya ada?" Tanya Kavin.
"Order mas. Aku gak sanggup masak, cape banget rasanya," ucap Ashel. Ia mengambil kotak stup roti yang sengaja ia pesan tadi.
"Makan nasi dulu baru itu," ucap Kavin.
"Gak mau mas. Aku eneg makan nasi, maunya ini," ucap Ashel.
"Yaudah."
Mereka berdua pun makan dalam keadaan hening. Baik Kavin ataupun Ashel hanya fokus pada makanan mereka.
Tadi Ashel sempat menyalakan ponselnya untuk menonton drama korea kesukaannya.
Dua puluh menit berlalu, Kavin sudah selesai makan sedangkan Ashel masih memakan stup rotinya. Entah mengapa rasanya ia tidak berselera makan hari ini. Mungkin karena terlalu banyak mencoba makanan di cafenya tadi.
"Kenapa stup rotinya masih banyak? Gak suka? Mau pesen yang lain?" Tanya Kavin saat melihat makanan istrinya masih banyak.
"Jangan mas. Aku masih kenyang kayaknya gara gara tadi banyak makan di cafe," ucap Ashel. Kavin pun mengangguk dan bangun dari sana.
__ADS_1
Ia berjalan menuju ke meja kerjanya. Disana ada tiga tumpukan map. Kavin lantas mengambilnya dan membawanya ke hadapan istrinya.
Ashel menyimpan stup roti miliknya dan mematikan drama yang ada di ponselnya.
"Kamu tanda tangan berkas ini," ucap Kavin menyodorkan tiga berkas pada istrinya.
"Berkas apa?" Tanya Ashel.
"Saham perusahaan yang empat puluh persen yang," ucap Kavin.
Ashel tertegun. Ia baru teringat jika mas kawin yang diberikan Kavin adalah saham perusahaan miliknya.
"Tapi mas."
"Tanda tangan sayang bukan tapi. Bentar lagi Josh kesini ambil berkas ini," ucap Kavin.
Ashel menatap ke arah suaminya, "Apa ini gak berlebihan mas? Saham itu kan milik kamu."
"Apapun yang menjadi milik ku, itu juga milik mu sayang," ucap Kavin.
"Aku gak mau mas. Saham terlalu besar untuk ku," ucap Ashel.
"Tanda tangan ini atau aku minta hak aku ke kamu? Inget sayang, kalo kamu gak tanda tangan ini maka aku akan melakukan hal itu. Dan kamu tahu kan seberapa gilanya aku ketika lawan aku di ranjang itu kamu?" Ucap Kavin. Tersirat nada ancaman dalam ucapannya.
"Gak asik ah, mainnya ancam aku mulu deh," ucap Ashel.
"Aku hitung sampe tiga kalo enggak, aku terkam kamu saat ini juga. Oh iya, aku juga belum makan obat yang sering aku makan," ucap Kavin. Senyum devil tercetak di wajahnya.
Ashel mengerang kesal. Suaminya ini selalu mempunyai seribu satu cara agar dirinya menurut. Ashel memang sudah pernah bilang jila Kavin bisa mengambil haknya hari itu juga.
Namun dipikir pikir ia masih belum siap seratus persen. Ia masih takut dan juga ragu untuk melakukannya.
"Kok melamun? Cepet tanda tangan sayang," ucap Kavin.
Ashel melirik ke arah suaminya. "Aku siap kalo kamu mau ambil hak kamu saat ini juga."
Kavin terdiam mendengar ucapan istrinya. Sebenarnya ia juga sangat ingin melakukan hal itu, namun ia masih melihat raut ketakutan di wajah istrinya.
"Enggak. Udah tanda tangan atau aku kurung kamu di rumah dan kamu kuliah di rumah?"
"Ih, iya iya aku tanda tangan. Serem banget sumpah mas ancaman kamu," ucap Ashel. Kavin tertawa mendengar ucapan istrinya.
Ashel pun menandatangi map yang diberikan Kavin. Ketiga mapnya sudah di tanda tangani Ashel.
"Saham itu udah jadi hak kamu sejak kamu sah jadi istri aku sayang. Kamu gak bisa menolaknya," ucap Kavin. Ia pun mengecup kepala istrinya sayang.
Tbc.
__ADS_1
Kurang baik apa coba gue nikahin elu Shel sama cowok modelan Kavin 😐