
Vanessa Angelica. Sifatnya lebih ke arah pendendam dan juga lebih penyayang. Sudah tidak memakai seragam putih biru lagi. Melainkan putih abu-abu. Dia sudah SMA semester terakhir.
"Vanessa!" Sapa Jihan.
Vanes tersenyum. "Jihan?"
"Cie yang udah nikah sah." Goda Jihan sambil tersenyum jahil.
"Eih? Apa ya?" Vanes tampak malu-malu.
"Kapan nih honeymoon? Bentar lagi kan lulus. Terus kuliah. Kan kuliah bisa nunda setahun." Bisik Jihan sambil terkikik. "Kasihan Pak Kenzo nggak dikasih nafkah batin selama tiga tahun lebih lima bulan."
Vanes bergidik. "Iya juga sih."
"Nah. Kasihan. Nanti di tinggal loh." Kata Jihan.
"Jangan begitu!" Tukas Vanes. "Nesya kemana?"
"Udah masuk kelas. Ya udah masuk kelas ayo."
***
"Papa!"
Juna yang sedang berkutat dengan laptopnya tak mengacuhkan panggilan anak perempuannya.
"Juna! Ketie memanggilmu." Cetus Selena.
Juna mendesah pelan. "Tidak kah kalian berdua lihat jika aku sedang sibuk, huh?"
"Luangkan waktumu untuk Ketie, Jun."
Juna menatap Ketie yang sedang berdiri di belakang Selena. Wajah Ketie lebih ke Selena. Sedangkan sifatnya sama persis seperti Juna.
"Urusi saja Ketie. Aku sibuk." Jawab Juna sekenanya.
Selena nampak tak terima. "Juna. Dia adalah anakmu."
"Terserah! Jangan buat aku tidak betah di rumah, Selena." Tegas Juna dengan suara yang meninggi.
"Apa ini semua karena gadis itu?"
Juna mengertakan giginya. "Jangan bawa-bawa Vanessa di pertengkaran kita!"
"Tapi nyatanya itu kan? Kamu masih tidak bisa lupa dengan masa lalumu!" Sembur Selena. "Kamu punya anak, Jun!"
"Ketie hanya sebuah kesalahan!"
"JUNA!" Bentak Selena. "Jangan bilang begitu di hadapan Ketie."
Ketie yang melihat kedua orang tuanya bersitegang mulai menangis. Juna langsung membanting laptopnya kemudian pergi dari rumah.
***
Bagi Kenzo, kantor adalah rumah keduanya. Rumah yang selalu membuatnya sibuk, stres, bingung dan problem lainnya.
Tiga minggu yang lalu, dia baru saja melaksanakan pernikahan besar-besaran yang menyatakan dia dan Vanes sah. Sudah dua tahun ini, hidupnya dengan Vanes berjalan damai, mesra dan harmonis. Tidak ada gonjang-ganjing. Kenzo bersyukur dengan itu.
"Permisi, Pak Kenzo, ada istrinya di lobby." Dania sekretaris barunya masuk ke dalam ruangannya.
"Suruh masuk ke ruangan saya." Jawab Kenzo.
__ADS_1
"Baik, Pak."
Beberapa menit kemudian, Vanes masuk ke dalam ruangan Kenzo dengan senyum cerianya. Vanes sudah berbeda.Untuk sifat manjanya sih masih ada. Lebih tinggi dari sebelumnya. Dan lebih membentuk hingga membuat Kenzo panas dingin.
"Kak Kenzo!" Panggil Vanes. Hanya itu yang tidak berubah.
"Kenapa? Ada apa, Sayang?"
"Aku ingin minta sesuatu? Boleh?" Vanes duduk di pangkuan Kenzo.
Kenzo melingkarkan tangannya di pinggang Vanes mesra. Kemudian dia mencium bibir Vanes. "Apa? Katakan!"
"Aku ingin honeymoon."
Mata Kenzo membesar. Apa tadi? Honeymoon?. Kenzo saja tak pernah memikirkan hal ini. Tapi, ternyata istrinya sendiri yang memintanya.
"Kamu bercanda ya?"
Vanes cemberut. "Ihh. Enggak! Ini beneran!"
"Kamu sudah siap?" Tanya Kenzo lagi. Memastikan.
"Sudah. Kalau nantinya aku hamil, Aku kan bisa tunda kuliahnya." Jawab Vanes.
Kenzo tersenyum. "Kamu maunya kemana?"
"Terserah. Asalkan romantis dan sama Kak Kenzo."
Kenzo mencium pipi Vanes. "Aku tidak akan memberi tahumu. Ini akan menjadi kejutan."
***
Dylan dan Tasya nampak bahagia dengan hadirnya Hana. Mereka berdua seperti merasakan kehadiran Vanes. Hana juga tak kalah bahagianya di angkat menjadi anak oleh Dylan dan Tasya.
"Hana? Bagaimana rasanya mendapat teman baru di kampus?"
Hana tersenyum sumringah. "Sangat menyenangkan. Banyak teman dari berbagai daerah. Ini semua berkat Papa dan Mama."
"Kewajiban itu." Jawab Dylan.
"Ei. Sebentar lagi kan liburan, Gimana kalau kita liburan bertiga?" Usul Tasya. "Sudah lama kan kita nggak liburan."
"Liburan? Iya, sayang. Kita sudah lama nggak liburan. Nah, liburan kali ini kita liburan ya? Ke Luar negeri!" Kata Dylan yang terlampau bahagia.
Hana hampir tersedak. "Luar Negeri?"
"Iya. Kami berdua akan bawa kamu liburan ke luar negeri!" Sumringah Tasya.
"Kemana, Ma?" Tanya Hana.
"Gimana kalau kita ke Paris?" Usul Dylan.
"Mau Pa. Mau banget kalau ke Paris! Selama ini aku cuma lihat di Handphone aja, Pa."
"Oke. Liburan ini kita ke Paris!"
***
Vanes memilih merebahkan diri di kamar. Kamar adalah tempat favoritnya. Setelah selesai mandi dan mengerjakan tugas, dia menonton TV di dampingi dengan segelas sirup lengkap dengan kripik singkong dan Kenzo yang sedang membuat proposal di sebelahnya. Entah proposal apa.
"Kamu ini setiap hari kok liat kartun kotak ini sih?" Tanya Kenzo tanpa mengalihkan tatapanya dari laptop.
__ADS_1
Vanes mendongak. Kemudian dia menyuapkan satu kripik ke mulut Kenzo. "Lucu sih. Kak Kenzo coba liat."
"Nggak deh. Nanti otakku jadi kotak." Jawab Kenzo ngawur.
Vanes tertawa. "Nggak ada hubungannya, Kak." Kemudian dengan isengnya, dia mencium leher Kenzo.
"Jangan menggodaku, Vanessa." Kata Kenzo serak.
"Ih. Siapa juga yang menggoda kakak?!" Tukas Vanes.
Kenzo menaruh laptopnya di nakas. Seringainya menghias di wajah tampannya. Dengam sekejap, Vanes sudah di bawah Kenzo dan Kenzo di atas Vanes.
Vanes menelan ludahnya. Jika sudah begini, dia tidak bisa menghindar. Dia menyesal karena telah melawan Kenzo.
"Karena besok kamu libur, akan aku buat kami bangun siang, Vanessayang!"
"Kak Kenzo besok kan harus kerja." Kata Vanes takut.
"Apa kamu lupa, sayang, jika aku ini bos mereka?" Kenzo mengendus harum Vanilla khas tubuh Vanes.
Vanes menggeliat geli. "Kakkhhh.."
"Malam ini jadilah istri yang menurut, sayang."
***
Mata Vanes terbuka. Gorden masih tertutup. Sementara Kenzo masih tidur dengan tangan yang melingkar di perutnya.
Jam sudah menunjukan pukul delapan pagi. Vanes segera memakai kembali pakaiannya. Selama ini mereka berdua belum pernah melakukan hubungan sampai ke inti. Mereka bermain dengan batas wajar.
"Kak Kenzo. Bangun, Kak. Ini sudah pagi."
"Iya.."
Vanes turun ke bawah. Ke dapur lebih tepatnya. Ternyata, semua masakan sudah selesai di buat. Tinggal di tata saja.
"Sari? Tolong buatkan saya teh hangat ya?" Pinta Vanes.
"Iya Nyonya."
Vanes duduk di ruang makan. Sambil menunggu Kenzo turun, dia membaca majalah yang tersedia di bawah meja makan.
Beberapa menit kemudian, Sari dan Kenzo datang bersamaan. Sari membawa teh yang di minta oleh Vanes. Sementara Kenzo datang lengkap dengan setelan jas kantor. Seperti biasanya.
"Pagi sayang!" Sapa Kenzo sambil mencium puncak kepala Vanes
"Pagi juga, My Husband. Cepet sarapan ya? Nanti telat."
Vanes memberikan roti lapis dan kopi susu ke arah Kenzo. Setelah itu, Vanes di sibukkan dengan menyiapkan bekal untuk Kenzo. Karena ini sudah jam delapan lebih, Vanes takut jika Kenzo telat. Walaupun Kenzo adalah bos, tetap saja harus disiplin.
"Kamu nggak sarapan?" Tanya Kenzo.
"Habis ini." Kemudian Vanes menutup kotak bekal Kenzo. "Ini. Makan di kantor. Lucu deh. Kayak anak kecil aja."
"Enak aja." Protes Kenzo sambil memasukkan kotak bekal ke dalam tasnya.
"Udah Udah. Kakak berangkat kerja ya. Ntar telat. Buruan!"
"Iya sayang. Aku berangkat. Dahh."
Vanes melambaikan tangannya. Senyumnya tercetak. Dia berharap akan selalu seperti ini dengan Kenzo.
__ADS_1
Semoga.