My Little Wife

My Little Wife
Bab 190 : Baju Haromah


__ADS_3

AKU UDAH CRAZY UP. RAMEIN POKOKNYA GAK MAU TAHUUUU


VOTE KOMENNYA KENCENGIN DULU😘🤳


.


.


.


Happy reading♡


"Mas mah, boleh dong mas. Kan bobonya sama cewek," ucap Ashel. Ia terus berusaha membujuk suaminya agar dia mengijinkannya tidur bersama Ayu.


"Enggak mau yang," ucap Kavin kekeuh.


"Ah gak asik kamu mah," ucap Ashel merajuk.


Kavin menghela nafasnya. Istrinya ini memang sangat menggemaskan. Karena terlalu gemas sampai sampai ia ingin sekali menenggelamkannya ke rawa rawa. Tapi jika itu terjadi, ia akan menjadi duda. Padahal pernihakan mereka baru berlalu dua hari yang lalu.


"Udah ayok bobo sama aku. Jangan aneh aneh. Fello kembali ke kamar kamu," ucap Kavin. Ia pun menarik tangan istrinya untuk ikut dengannya.


"Aaaa gak mau mas. Aku maunya samd Ayu," ucap Ashel merengek.


"Sumpah yang, jangan pake nada gitu kamu tahu sendiri kalo aku suka gak tahan. Udah jangan rengek rengek kayak gitu lagi, besok masih ketemu sama temen mu itu. Nurut sama suami," ucap Kavin. Ia menggunakan kata kata ampuh itu. Karena sejauh ini Ashel selalu menurut padanya saat ia mengatakan kata kata keramat itu. 'Nurut sama suami.'


Dengan berat hati Ashel pun bangun dari duduknya. Ia merentangkan tangannya untuk memeluk Ayu.


"Nanti besok kita lapor Didi. Dia pasti udah tahu hal ini. Tenang aja, lo aman disini," ucap Ashel.


"Iya, thanks ya. Sama suami dan keluarganya," ucap Ayu.


"Udah yang ah, lama deh," ucap Kavin tak sabaran menarik tangan Ashel sehingga pelukannya terlepas.


Dengan berat hati Ashel pun mengikuti langkah suaminya. Tangan Ashel digandeng oleh Kavin. Jaga jaga takutnya anak itu kabur lagi ke kamar Ayu.


"Mau ngapain sih mas ngajak aku tidur berdua. Kita kan gak bakalan ngapa ngapain juga," ucap Ashel.


"Salah yang. Yakali ada barang enak di depan aku gak aku garap," ucap Kavin.


"Mesum mulu, heran."

__ADS_1


"Gak papa mesum yang penting kamu juga keenakan kan?" Tanya Kavin.


"Gak usah dibahas deh. Malu aku," ucap Ashel.


Kavin tertawa mendengar ucapan istri kecilnya ini. Sesampainya mereka di kamar, Kavin langsung menarik Ashel ke tempat tidur dan mendaratkan ciumannya tepat di bibir Ashel.


Ashel yang belum berganti baju pun mendorong Kavin agar dia melepaskannya.


"Kenapa lagi astaga," ucap Kavin.


"Nafsuan kamu. Aku belum ganti baju mas," ucap Ashel.


"Yaudah sana ganti baju dulu. Pake lingerie ya," pinta Kavin.


"Idih, gak dulu deh mas," ucap Ashel. Ia pun pergi meninggalkan Kavin menuju ke walk in closet yang ada dikamar Kavin.


Ashel mencuci muka dan kakinya kemudian gosok gigi. Setelah selesai ia pun mengganti bajunya. Namun saat memilih baju tidur, tiba tiba ia teringat ucapan Kavin yang menyuruhnya memakai pakaian haromah.


"Ini beneran gue make baju haromah? Kalo diterkam gimana?" Gumam Ashel.


"Tapi kan yang nerkam suami gue bukan cowok lain. Kalo gak nurut kan dosa," ucap Ashel.


Setelah selesai Ashel pun keluar dari dalam walk in closet dan berjalan ke meja rias. Sekilas ia melirik Kavin dengan ekor matanya yang tengah menatapnya. Tentu saja senyum devil tercetak di wajahnya namun Ashel berusaha tidak peduli.


Ia mengambil sisir kemudian menyisir rambutnya. Ia tetap berusaha tenang meskipun jantungnya sudah berjedak jeduk ria saat melihat Kavin yang berjalan ke arahnya.


Tiba tiba pria itu memeluknya dari arah belakang. Jantung Ashel nyaris copot karena tingkah laku suaminya ini.


Meskipun sering berprilaku romantis sebelum mereka menikah, namun tetap saja Ashel selalu tegang saat Kavin menyentuhnya.


"Tegang banget tubuh kamu yang, kayak yang gak pernah aku sentuh aja," gumam Kavin. Suaranya terendam karena ia menenggelamkan wajahnya pada bahu Ashel.


"Biasa aja tuh. Kamu ganti baju sana. Baju tidur kamu banyak tapi kalo mau tidur gak pernah pake baju. Heran banget," ucap Ashel. Ia berusaha tenang dan bersikap biasa saja meskipun aslinya tidak seperti itu.


"Enakan gak pake baju yang, harusnya kamu juga kayak gitu. Biar kalo aku pengen gak usah repot buka buka baju," ucap Kavin.


"Gak usah ngawur, udah malem. Tidur," ucap Ashel.


"Kenapa pake kemeja aku?" Tanya Kavin.


"Ya gak papa. Pengen aja," alibi Ashel.

__ADS_1


"Yakin? Apa karena kamu gak mau aku liat isinya?" Tanya Kavin. Lagi lagi senyum devil muncul di bibirnya.


"Enggak yang. Udah ih lepas, aku ngantuk," ucap Ashel.


"Jangan ngantuk dulu dong. Kan aku belum main main sama mereka berdua," ucap Kavin. Satu tangannya merembat naik ke atas sampai ke depan dada Ashel. Tanpa segan ia langsung merem*snya.


Ashel yang terkejut pun memegang tangan Kavin yang berada di dadanya.


"Rileks sayang, tubuh kamu tegang banget," bisik Kavin.


Rasanya Ashel ingin sekali menimpuk kepala Kavin. Dengan seenak jidatnya dia berkata seperti itu. Ashel bukan wanita gampangan, jelas saja ia pasti akan tegang dan sedikit melakukan penolakan.


Jual mahal dikit gak papa lah, sama suami sendiri.


Dengan sekali sentakan, Kavin memutar posisi Ashel. Kini istrinya itu sudah berhadapan dengannya. Bukan hanya itu, Kavin juga mendudukan Ashel diatas meja rias.


"Youre so beautiful," ucap Kavin. Ia membelai lembut pipi Ashel.


Ashel tidak mampu menjawab perkataan Kavin. Ia terhipnotis begitu saja melihat mata teduh Kavin yang menatapnya penuh damba.


Karena terlalu larut dengan mata indah Kavin, Ashel sampai tidak sadar jika suaminya itu kembali menyerangnya. Bibir Ashel sudah tidak terelakan lagi. Sasaran utama Kavin memang bibir Ashel.


Ashel mengikuti alunan permainan suaminya. Ia tidak bisa menolak. Bagaimana pun ini adalah tugasnya sebagai istri.


Tangan Kavin tidak tinggal diam. Perlahan lahan ia melepaskan kancing kemeja yang dipakai Ashel. Gerakannya sangat pelan sampai Ashel tidak sadar jika tubuh bagian atasnya sudah terekspos.


Mata Kavin menggelap melihat pemandangan di depannya. Sempat ia melirik ke arah Ashel. Seolah berkata jika ia meminta persetujuan. Ashel hanya menganggukan kepalanya saja.


"Aku sudah meminum obatnya sayang. Jangan takut, aku hanya akan bermain main dengan mereka," bisik Kavin.


"Jika pun kamu memang ingin melakukannya, aku siap. Ini hak mu bukan?" Tanya Ashel.


Kavin tersenyum mendengar ucapan istri kecilnya ini. "Ini memang hak ku. Tapi aku tidak ingin melakukannya saat kamu belum siap sepenuhnya. Aku masih bisa bersabar sayang. Terimakasih."


Kavin pun kembali mencium bibir Ashel. Ia melakukannya dengan intens. Lambat laun permainan Kavin di bibir Ashel menjadi menuntut. Lagi dan lagi Ashel selalu kewalahan dengan suaminya ini.


"Mereka sangat indah," ucap Kavin saat melihat bagian favoritnya di tubuh Ashel.


Tbc.


Ramein🤙👆

__ADS_1


__ADS_2