
Happy reading♡
Ayu menghela nafasnya berat. Sudah berjam jam berlalu ia rebahan diatas kasurnya. Hari minggunya sangat suram.
Di sosial media miliknya, ia melihat teman temannya yang sedang bermain dengan pacar mereka. Apalagi melihat story instagram milik Ajeng. Semakin hari hubungannya dengan Didi semakin membaik walau terkadang Ajeng selalu menulis caption absurd. Namun hubungan mereka berdua langgeng.
Ayu hanya bisa menatap langit langit kamarnya. Sebenarnya ia bisa saja keluar main namum rasanya malas sekali. Apalagi disini ia tidak memiliki kendaraan karena memang orang tuanya belum mengurusnya.
Meskipun begitu, Ayu tetap merasa bersyukur sebab ia masih bisa nebeng dengan sahabatnya yaitu Ashel.
Tadinya, ia berniat untuk mengajak Ashel keluar sekedar untuk jajan di Mcd namun ternyata Ashel pergi bersama suaminya. Untungnya ia belum bilang jika ingin mengajaknya keluar.
Ayu tahu dari media yang muncul di internet. Ternyata sepopuler itu suami sahabatnya.
"Nasib jomblo gini amat ya anjir. Ngenes banget," ucapnya. Ia pun turun dari atas tempat tidur dan berjalan menuju ke dapur.
Ia membuka kulkasnya, ternyata kosong. Tidak ada jajanan satu pun disana. Ayu hampir lupa ia belum belanja lagi.
"Kepaksa gue ke minimarket daripada busung lapar," ucapnya.
Ia pun mengambil jaket miliknya yang ada du sofa depan ruang tv. Ia tidak membawa dompet sebab semua uangnya ada di dalam atm. Dan Ayu hanya membawa ponselnya saja, ia akan menggunakan mbanking untuk membayar belanjaannya nanti.
Ayu membuka pintu kamarnya, namun ia terlonjak kaget saat melihat seseorang tengah berdiri di depan pintu apartementnya.
"Baru mau ngetuk udah dibuka aja. Jodoh emang gak kemana yah," ucap Rafello. Ya, yang datang ke unitnya adalah Rafello.
"Gak nyambung oneng," ucap Ayu. Ia pun mendorong tubuh Rafello agar sedikit mundur sebab ia akan keluar dari dalam apart miliknya.
"Mau kemane lo? Gue baru datang juga," ucap Rafello.
"Minimarket, buat nyambung hidup," ucap Ayu.
Otak Rafello ngebug. Maksudnya?
"Jangan bilang lo mau kerja di minimarket?" Tanya Rafello.
"Hah? Kok jadi kerja sih," ucap Ayu.
"Ya kan lo bilang mau nyambung hidup. Artinya lo mau kerja buat hidupin kebutuhan lo," ucap Rafello dengan polosnya.
Pletakkk
Ayu menyentil tangan Rafello cukup keras. Sehingga membuatnya mengaduh kesakitan.
"Ya gak gitu juga oneng. Maksud gue nyambung hidup itu mau beli makanan," ucap Ayu. Ia pun berjalan meninggalkan Rafello sendirian.
Namun dengan cepat Rafello menarik kupluk jaket yang dipakai Ayu.
__ADS_1
"Kan bisa bareng sekalian keluar. Mending sekalian ke supermarket aja biar banyak pilihannya. Gue anter," ucap Rafello.
"Gak sekalian lo bayar?" Tanya Ayu.
"Boleh. Itung itung belajar nafkahin lo," ucap Rafello.
Uhukk... uhukk..
***
Ashel dan Kavin sudah naik ke atas wahana roller coaster. Kavin duduk di belakang istrinya. Sebenarnya jantungnya sudah dag dig dug ser saat ini, namun demi kebahagiaan istrinya ia rela melakukannya.
Sangat bucin bukan?
Sebentar lagi roller coaster akan melaju. Kavin segera memeluk tubuh istrinya yang berada di depannya.
Beruntung sekali karena Ashel memilih roller coaster yang sedikit lebih pendek dibandingkan dengan roller coaster yang satunya lagi.
Ashel berteriak kencang saat roller coaster melaju. Sedangkan Kavin mengeratkan pelukannya dan menutup matanya.
Hembusan angin kencang menerpa wajah keduanya. Rambut Ashel sampai berterbangan akibat tertiup angin.
Raut bahagia terpancar di wajah Ashel. Ia sampai merentangkan kedua tangannya sedangkan suaminya menyipitkan matanya.
"MAS, JANGAN TUTUP MATA. ADA AKU JANGAN TAKUT," ucap Ashel sedikit teriak sebab suara roller coaster sangat bising.
Dan lagi lagi jatah.
Ashel hanya tertawa mendengarnya. Ia sudah menduga hal ini. Memang bisa saja ia menolak untuk naik wahana ini karena syarat yang diajukan Kavin pasti tidak jauh jauh dari ranjang.
Namun apa boleh buat, ia sangat ingin menaiki wahana ini.
Cukup lama wahana yang mereka naiki melaju kencang sampai sampai Kavin juga ikut berteriak saking senangnya. Ia sudah melupakan ketakutannya berkat istrinya.
"Yah, udahan," ucap Ashel.
"Kamu mau naik lagi?" Tanya Kavin. Saat ini roller coaster yang mereka naiki sudah berhenti.
"Gak mau mas. Mau makan aja," ucap Ashel.
"Oke."
Kavin membantu Ashel turun dari atas wahana itu. Kedua pasutri itu berjalan bergandengan menuju ke salah satu restoran yang tersedia disana.
Raut bahagia nampak sekali di wajah keduanya. Tak henti hentinya Ashel menyunggingkan senyumnya. Ia sangat bahagia sekali.
__ADS_1
"Mau makan apa yang?" Tanya Kavin. Mereka berdua sudah duduk di meja yang berada di bagian luar restoran.
"Makan kamu, boleh?" Tanya Ashel. Tangannya berada dibawah dagunya dan tatapannya menatap ke arah Kavin.
Kavin berdehem saat melihat tatapan istrinya yang agak lain dari biasanya. "Boleh, habis ini kita cek in di hotel. Sekarang kita makan dulu aja."
Ashel tertawa melihat raut gugup di wajah suaminya.
"Becanda sayang. Aku mau makan katsu aja sama spaghetti yang. Minumnya greentea ice," ucap Ashel.
"Oke," ucap Kavin.
Ia memanggil waiter untuk memesan makannya. Ia sengaja menyamakan pesanannya dengan istrinya hanya saja untuk minumnya Kavin meminta american coffe.
Sembari menunggu makanan datang, pandangan Ashel menangkap potret satu keluarga yang sedang berliburan disana.
Mereka memiliki dua anak kembar cowok. Sangat tampan sekali. Wajah anak anak itu sangat bule sekali sama seperti ayah mereka.
Kavin yang baru menyimpan ponselnya menatap ke arah istrinya. Istrinya itu tersenyum entah karena apa. Karena penasaran, Kavin pun mengikuti arah pandang istrinya.
Ternyata ia tengah memperhatikan dua anak kembar cowok yang sedang bermain bola di taman yang jaraknya tak jauh dari tempat mereka duduk.
"Ganteng ganteng ya anaknya? Mau punya?" Tanya Kavin.
"Mau, tapi pengen kembar cowok cewek," ucap Ashel.
"Yakin? Bukannya mau ditunda dulu?" Tanya Kavin.
"Yang mau nunda punya anak itu kamu ya, bukan aku," bela Ashel. Ia kembali fokus pada kedua anak kembar itu.
"Oh ya? Bukannya kita sama sama setuju ya?" Tanya Kavin.
Ashel tak sempat menjawab pertanyaan suaminya sebab makanan yang mereka pesan sudah datang.
Seperti biasa Kavin memotong motong daging steak miliknya kemudian memberikannya pada istrinya.
"Makasih suami," ucap Ashel. Ia pun mulai memakan steak yang ada di depannya.
"Sama sama istri," ucap Kavin.
Sebelum memakan steak miliknya, Kavin lebih dulu menyeruput coffe yang ia pesan.
Sejak tadi ia memperhatikan istrinya yang tidak mengalihkan pandangannya dari kedua anak kembar itu.
"Cepat habiskan makanannya. Aku udah booking hotel buat kita," ucap Kavin membuat Ashel tersedak makanannya.
Tbc.
__ADS_1
Kalo ada typ maap ya semoga ttp enjoy baca ceritanya.
Vote komen