
Vanes menatap Kenzo yang sedang berkutat dengan laptop dan beberapa berkas. Secangkir kopi menemaninya. Sudah berapa kali Vanes menghela nafas, namun tak di hiraukan oleh Kenzo.
"Kak Kenzo!" Seru Vanes.
Kenzo hanya berdehem.
"Gimana sama Nesya? Besok aku harus pidato klarifikasi." Kata Vanes acuh sambil duduk di kursi meja rias.
Kenzo kini mengalihkan pandangannya dari laptop ke Vanes. Kenzo berdiri, kemudian berjalan menuju tempat Vanes duduk.
"Pidato klarifikasi?" Ulang Kenzo.
"Iya. Kak Kenzo kan tahu kalau aku putri sekolah. Tadi, Regina datang ke kelas, OSIS di tuntut untuk memberikan klarifikasi." Cerita singkat Vanes. "Dan, aku yang di suruh buat pidato besok. Hm." Imbuh Vanes.
Kenzo mencubit kedua pipi Vanes. "Kan kamu itu putri sekolah. Laksanakan tugasmu, sayang."
"Iya. Jadi gimana tadi?"
Kenzo berjongkok di hadapan Vanes yang duduk di kursi rias. Tangannya digunakan untuk memegang tangan Vanes. "Nesya tadi sempat pingsan terus aku gendong kan. Pas udah di periksa sama dokter, Nesya ternyata hamil. Hamil anaknya...Juna."
"Hah? J--Juna?" Vanes tergagap. Dia benar-benar tidak menyangka. Padahal selama ini, Nesya selalu mendukung hubungannya. Eh. Tunggu-tunggu. Dia teringat saat pensi sekolah. Dia benar-benar tidak menyangka. Jadi selama ini yang mengkhianatinya adalah Nesya bukan Jihan.
"Sayang, kamu kenapa murung begitu? Kenapa?" Tanya Kenzo.
"Nggak. Aku nggak kenapa-kenapa. Aku cuma kasihan aja sama Nesya. Gimana nasib Nesya ke depannya?"
Kenzo menghela nafas. "Aku juga nggak tahu. Kasihan."
"Kak Kenzo tidur di luar aja ya?" Kata Vanes tiba-tiba.
Kenzo berdiri dengan raut muka terkejut. "Loh? Kenapa?"
"Soalnya Kak Kenzo udah gendong Nesya tanpa minta izin ke aku."
***
"Om Juna?" Panggil Nesya saat bertemu di sebuah cafe.
"Nesya?" Kaget Juna.
__ADS_1
Nesya menunduk. "A--Aku mau menerima tawaran itu."
Juna menyeringai. "Saya tahu kamu bakal menerima tawaran itu, Nesya! Kamu itu hanya gadis labil dan bodoh yang mau saja saya manfaatkan."
Nesya menangis. "Jahat. Om Jahat."
"Bukannya saya sudah bilang di awal? Kamu yang menyerahkan kehormatanmu kepada saya. Dan, saya juga mengeluarkan banyak uang untuk itu. Seharusnya kesalahan seperti ini kamu nggak datang ke saya. Kan sesuai perjanjian."
Nesya hanya diam.
Juna kemudian menarik Nesya keluar dari cafe. Mengajaknya ke suatu tempat untuk menuntuskan masalahnya.
***
Vanes turun dari mobil Kenzo. Mereka berdua jalan terpisah. Kenzo berjalan ke ruang guru. Dan Vanes berjalan ke arah kelasnya dengan muka cemberut.
"Kenapa, Van?" Tanya Jihan saat Vanes duduk di sebelahnya.
"Males aja tuh sama Kak Kenzo. Aku suruh tidur di luar kamar kemarin malam." Jawab Vanes acuh. "Ya udah, Han, Aku mau ke ruang OSIS. Udah jam setengah tujuh ini. Pidato di mulai jam tujuh."
"Good Luck ya!"
"Ngapain sih?" Bentak Vanes.
"Kamu mau kemana?" Tanya Juna.
"Bukan urusan kamu!" Tukas Vanes sambil berlalu.
Juna kembali menghadangnya. "Aku tahu kamu pasti tahu soal masalah Nesya, Vanes. Dan, aku harap kamu nggak menyebut namaku saat pidato nanti."
"Brengsek! Sialan! Kamu itu lelaki macam apa sih? Ingat, Jun! Ibumu itu perempuan! Jika kamu menginjak-injak harga diri perempuan, maka kamu juga menginjak-injak harga diri ibumu! Ingat, Jun!"
Kemudian Vanes mendorong Juna agar tidak menghadang jalannya.
***
"Gosip yang biasa kalian semua bicarakan merupakan hal benar. Namun, kami berharap kalian tidak menghina ataupun mengucilkan Nesya Tarena Farinda dari kelas 9.D. Kami mohon partisipasinya." Ucap Regina di hadapan semua murid SMP Perdabar.
Disebelahnya ada Vanes. Vanes menghela nafas panjang. "Saya, selaku putri sekolah dan perwakilan dari kelas 9.D, mengucapkan untuk selalu menghargai perempuan. Khususnya untuk laki-laki. Ingatlah ibu kalian jika ingin menyakiti perempuan. Perempuan tidak lemah! Ada saatnya mereka memberontak." Vanes dapat menangkap basah Juna yang sedang menatapnya sambil menyilangkan tangannya di depan dada. "Untuk hal yang dialami oleh Nesya, mohon dilihat sisi positif dari kejadian yang dialami oleh Nesya. Siapa yang mau seperti itu?"
__ADS_1
"Untuk Pak Kepala Sekolah terhormat, Jangan keluarkan Nesya dari sekolah. Ini juga bukan kesalahannya sepenuhnya. Nesya pasti tidak ingin hal ini terjadi padanya. Biarkan Nesya sekolah saat perutnya masih rata, Pak. Maaf jika saya lancang. Sekian yang dapat saya sampaikan. Selamat Pagi."
Setelah itu, Vanes dan Regina turun dari panggung mini yang biasa digunakan untuk upacara. Vanes merasa lega ketika sudah menyampaikan isi hatinya. Begitu juga dengan Regina.
"Rencana, Nesya kapan akan masuk sekolah?" Tanya Regina saat sudah di UKS.
Tidak. Mereka berdua tidak sakit. Memang mereka berdua memang sudah merencanakan ini agar tidak ikut upacara.
"Nggak tahu juga ya. Kayaknya nunggu nggak mual-mual deh biar kuat sekolah." Jawab Vanes.
"Oh. Kasihan. Eh. Aku ke kamar mandi dulu ya?" Regina langsung ngibrit aja.
Kini, tinggal Vanes sendiri yang berada di UKS sendiri karena kamar mandi UKS tidak bisa di gunakan. Vanes menghela nafas. Juna tiba-tiba berdiri di balik tirai warna putih. Membuat Vanes terkejut.
"Ngapain kamu kesini?" Tanya Vanes cuek.
Juna menggeleng. "Berani ya, kamu menyindirku secara terang-terangan? Mentang-mentang suami kamu ada disini."
Vanes berdiri karena tak terima dengan ucapan Juna. "Kamu merasa aku menyindirmu? Aku hanya mengungkapkan sesuatu dengan tidak langsung bukan menyindir. Jika kamu merasa tersindir, kamu memang melakukannya tak bersalah. Masih baik aku tidak bilang jika pelakunya itu kamu, Jun! Dan untuk Kak Kenzo, aku tidak seperti itu. Kalaupun disini nggak ada Kak Kenzo, aku juga akan melakukan hal yang sama."
Juna terkekeh mengejek. "Sudah ku bilang berapa kali, Vanes, Jika Nesya lah yang menjual dirinya padaku."
"Dan kamu mau? Brengsek, Jun! Seharusnya gunakan otakmu itu untuk berfikir. Sebenarnya letak otakmu dimana, hah?" Vanes sudah kelewat emosi.
"Jaga ucapanmu!" Juna mendekat ke arah Vanes. Bermaksud hendak menamparnya. Namun, Kenzo datang dan langsung menyekal tangan Juna.
Vanes terkejut. Dia hampir saja di tampar oleh Juna. Beraninya dia. Orang tua Vanes saja tidak pernah main kasar.
"Jangan sentuh istriku, Jun!" Kata Kenzo dingin. "Kamu tidak punya hak untuk menyentuhnya! Sudah kuingatkan berapa kali, hah?!"
"Oh. Suaminya datang ternyata." Nada Juna setengah mengejek.
Tanpa banyak bicara, Kenzo langsung memukul Juna bertubi-tubi hingga Juna tak sadarkan diri. Kenzo membiarkannya begitu saja. Kemudian dia mengajak Vanes untuk keluar dari UKS.
"Ngapain berdua sama Juna di UKS?"
"Nggak. Tadi kan sama Regina. Regina lagi ke kamar mandi. Eh. Toilet." Jawab Vanes.
Vanes dan Kenzo terkejut karena..
__ADS_1
"Ei? Pak Kenzo ngapain disini berdua sama Vanessa?"