
Happy reading♡
Kavin sudah melepaskan Ashel. Ia tersenyum puas melihat kekalahan gadisnya.
"Makanya jangan main main. Kalo kangen bilang, jangan ribet," ucap Kavin. Saat ini ia sedang duduk memperhatikan Ashel yang sedang merapihkan tampilannya.
"Diem deh. Males aku sama kamu. Aku masih punya harga diri Kavin. Jangan seenaknya gituin aku," ucap Ashel.
"Tapi kamu kan menikmatinya," ucap Kavin.
"Jangan kayak gitu lagi! Awas aja aku gak bakalan mau kasih kamu jatah malam pertama kalo kamu kayak gitu terus," ucap Ashel.
"Iya iya maafin aku. Kan kamu tahu aku punya hiper. Maaf ya," ucap Kavin.
"Gatau ah males. Aku masih marah sama kamu," ucap Ashel.
"Jangan dong. Kan tadi udah-,"
"UDAH APA? AKU GAK NGELAKUIN ITU SAMA KAMU," teriak Ashel.
Kavin tertawa mendengar teriakan Ashel. Ia tahu ia salah. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak bisa menahannya. Padahal ia sudah mengkonsumsi obat yang biasa ia makan.
"Iya aku minta maaf. Janji gak gitu lagi," ucap Kavin namun Ashel tidak menjawabnya.
Setelah selesai bersiap, Ashel dan Kavin pun kembali keluar dari dalam kamar tadi.
Ashel sebenarnya merasa sudah tidak punya harga diri di depan Kavin. Anehnya ia tidak bisa menolaknya saat Kavin memberikan sentuhan sentuhan itu. Ia juga tidak mengerti kenapa ia menerima semua sentuhan itu. Padahal sebelumnya dekat dengan pria lain saja ia tidak pernah.
"Kamu kenapa diam aja?" Tanya Kavin.
"Menurut mu, apa aku masih memiliki harga diri?"
"Apa maksud mu? Tentu saja iya," ucap Kavin.
"Apa iya? Tadi aja kamu seenaknya buka dress aku padahal dulu kamu gak pernah berani senekat itu," ucap Ashel.
Kavin menghela nafasnya. Ada sedikit rasa penyesalan juga di benaknya.
"Aku yang salah sayang. Tadi kamu sudah mencoba menghentikan aku tapi aku tidak mendengarnya. Bagaimana pun tenaga kita tidak sebanding, jelas saja tadi kamu kalah atas kuasa ku," ucap Kavin.
"Aku ngerasa udah gak punya harga diri aja. Kita belum nikah tapi kamu udah liat bagian atas tubuh aku," ucap Ashel.
__ADS_1
"Maafin aku. Aku yang salah karena gak bisa nahan diri aku tadi," ucap Kavin.
Ashel menghela nafasnya. Ia juga bersalah disini karena memakai gaun cukup terbuka. Tapi ia tidak bisa menolaknya karena gaun ini adalah gaun yang dipilih langsung oleh mama Kavin.
...(gaun yg dipakai ashel)...
"Sudahlah lupakan. Anggap saja itu tidak pernah terjadi," ucap Ashel. Ia pun berjalan meninggalkan Kavin yang masih berdiri di belakangnya.
"Bodoh gue bener bener bodoh. Arghhh hyper sialan," umpat Kavin.
***
Ashel akhirnya memaafkan Kavin. Karena bagaimana pun ia juga bersalah disini. Apalagi ia ingat jika Kavin memiliki hyper terhadap ***.
Tanda tanda merah di lehernya sudah ia tutupi dengan concelar sehingga sudah tidak terlihat lagi.
Ashel menggandeng tangan Kavin saat masuk ke dalam pesta lagi. Mereka nampak serasi. Banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka. Setahu mereka, Kavin tidak pernah datang dengan wanita ketika menghadiri pesta. Ia juga selalu terlihat sendirian, namun sekarang ada seorang wanita cantik.
Para wanita dari kalangan artis yang kebetulan datang ke acara pesta itu mulai berbisik bisik.
"Itu siapa? Cantik sih tapi kok kayak gatel banget sih. Mana pake gandeng tangan Kavin lagi," ucap seorang wanita.
Ashel sebenarnya mendengar bisikan bisikan itu. Bahkan Kavin juga. Makanya Kavin sengaja mempercepat jalan mereka.
"Jangan dengerin. Mereka gak tahu siapa kamu makanya mereka simpulin gitu aja," ucap Kavin.
"Emang tampilan aku aja yang udik makanya mereka mikir aku gak pantes bersanding sama kamu," ucap Ashel. Tatapannya lurus namun ia tetap tersenyum pada beberapa orang yang menyapanya.
"Gak sayang. Jangan pernah berpikiran kayak gitu. Mereka bicarain hal itu karena mereka insecure sama penampilan kamu yang cantik," ucap Kavin. Yang ia katakan memang benar bukan? Ashel sangat cantik.
"Udah deh, aku lagi males ngapa ngapain. Kamu mending jauh jauh dari aku. Aku males dengerin omongan mereka," ucap Ashel. Ia berjalan duluan meninggalkan Kavin.
"Cewek sensitif banget ternyata," gumam Kavin ia pun mengejar Ashel dan kembali menggandeng tangannya.
Acara sudah dimulai, kakek Kavin naik ke panggung untuk memberikan beberapa sambutan.
Ashel tengah duduk bersama keluarganya dan juga keluarga Kavin. Sejak tadi mereka semua menjadi pusat perhatian karena kedekatan mereka yang tiba tiba terlihat di halayak.
Ashel mengambil minuman berwarna merah maroon. Ia tidak tahu ini minuman apa, ia hanya menduganya jika ini minuman anggur.
__ADS_1
Ashel menyecap rasanya. Rasanya cukup aneh di mulutnya. Ada sedikit pahit namun ada manisnya juga.
"Enak?" Tanya Kavin.
"Aneh," ucap Ashel. Ia pun menyimpan kembali minuman itu dan mengambil cake berukuran kecil. Kavin tersenyum melihatnya. Syukurlah Ashel masih mau makan meskipun moodnya sepertinya tidak baik.
"Terimakasih atas kehadiran para undangan. Selamat menikmati hidangannya," ucap Praja.
"Dan ada satu berita penting, dimana cucu saya Kavinder akan segera menikah dengan gadis pilihannya. Gadis itu adalah cucu dari keluarga Adinata. Untuk Riana, terimakasih nak karena kamu sudah mau menerima cucu opa yang cukup bandel itu," ucap Praja.
Ashel yang merasa namanya disebut hanya tersenyum dan mengangguk.
"Silahkan menikmati hidangannya dan akan dilanjutkan ke acara dansa," ucap Praja.
Riuh tepuk tangan pun menggema di seluruh penjuru hotel. Banyak yang mengucapkan selamat namun tidak sedikit juga yang nyinyir karena berita tersebut.
"Nona Adinata, bersediakah anda berdansa dengan saya?" Tanya Kavin. Ia mengulurkan tangannya.
Ashel sangat ingin menolaknya karena ia memang malas. Moodnya benar benar tidak baik. Mulai dari kenakalan Kavin yang membuat harga dirinya serasa sudah hilang ditambah lagi omongan para wanita tadi.
Namun Anna, bundanya Ashel menarik tangan Ashel dan mengulurkannya pada Kavin.
Mereka berdua pun berjalan ke arah tengah dan mulai berdansa saat musik dimulai.
"Aku tahu mood mu sedang tidak bagus. Maafkan aku, karena aku yang membuat semuanya menjadi seperti ini. Aku tidak bisa mengendalikan nafsu ku," ucap Kavin. Mereka berdua bergerak mengikuti alunan lagu.
Ashel tidak menjawabnya. Ia hanya mengangguk dan tersenyum.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi sudah ada beberapa orang yang mengintainya. Beberapa orang yang kehadirannya tidak terdeteksi.
"Lakukan semuanya dengan benar. Kalian sudah di sumpah, jika tertangkap, minum pil ini," ucap seseorang memberikan sebuah pil hitam.
"Baik tuan. Percayakan pada kami. Kami akan menepati janji kami," ucapnya.
Mereka semua pun mulai bergerak ke beberapa sisi. Setelah mendengar aba aba dari ketuanya. Pada hitungan ketiga, tiba tiba...
Dor...
Sebuah tembakan mengudara. Para tamu undangan yang sedang berdansa pun langsung berlarian keluar hotel.
Tbc.
__ADS_1
Support terus ya guys. Semoga suka sm ceritanya. Makasih✋️👌