My Little Wife

My Little Wife
48. Pergi


__ADS_3

"Kak Juna, aku boleh bertanya satu hal denganmu?"


Juna menatap Erika. "Apa?"


"Ini siapa, Kak?" Tanya Erika sambil mengulurkan ponselnya ke Juna. Menampilkan sebuah foto yang di potretnya waktu itu.


Mata Juna melebar. Dengan cepat dia langsung menyambar ponsel Erika. "Kau masuk ke dalam ruang kerjaku?"


Erika mengangguk. "Iya. Saat itu, aku mencarimu. Tapi kau tidak ada lalu aku menemukan foto tersebut."


Juna meradang. "Keterlaluan kau! Selena saja tidak berani masuk ke dalam ruang kerjaku. Kau malah seenaknya sendiri."


"Jawab saja pertanyaanku!"


"Tidak." Tolak Juna. "Aku tidak akan menjawab pertanyaanmu itu. Tidak penting kau tahu siapa dia."


"Bagaimana jika aku memang bertemu dengan perempuan ini. Berinisial 'VA'. Vanessa?"


"Keluar kau dari ruang kerjaku!"


"Iya kan? Bener kan?"


"KELUAR! AKU SEDANG SIBUK!"


***


"Kalau sedang hamil, kau tidak boleh banyak pikiran." Ucap Selena.


"Iya." Vanes mengangguk. "Tapi Selena, kadang sebuah masalah selalu menimpaku. Bagaimana aku tidak bisa memikirkan?"


"Jangan terlalu di pikirkan. Santai saja, Van. Yang harus kau pikirkan itu adalah menjaga kehamilanmu ini. Akan ada berbagai rintangan nantinya."


"Sekarang saja aku sudah di beri rintangan."


"Kau pasti bisa menghadapi ini." Selena menguatkan. "Akan ada hasil yang indah setelah kita melewati rintangan ini, Vanessa."


"Kau benar."


"Vanessa!"


Vanes dan Selena menoleh ke sumber suara. Kenzo sedang berjalan ke arahnya dengan Ketie yang berada di gendongannya.


"Kak. Ketie!" Seru Vanes.


Kenzo duduk di samping Vanes. "Kalau nantinya calon anak kita perempuan, aku mau rambutnya banyak seperti Ketie."


"Semoga ya?"


"Iya. Amin."


Vanes melihat suaminya yang sibuk bermain dengan Ketie. Anak kecil itu sungguh menggemaskan.


***


Tiga bulan kemudian..


Kenzo lebih ekstra dalam menjaga dan mengawasi istrinya. Perutnya semakin membesar. Usianya sudah tujuh bulan.


Kenzo bersyukur karena selama ini tidak ada masalah yang menghampirinya lagi. Namun, masih ada satu hal yang selalu menghantuinya. Yaitu Erika yang bisa saja berbuat nekat nantinya.

__ADS_1


Hubungannya dengan Juna semakin dekat. Selena juga sering membantunya untuk mengawasi Vanes.


"Sayang, aku harus bilang sesuatu."


Vanes mengalihkan pandangannya dari buku. "Apa?"


"Aku harus ke New York lagi." Kenzo mengelus perut Vanes dengan penuh kasih sayang. "Aku harus pergi selama beberapa bulan."


Vanes diam.


"Ini memang sulit. Aku jadi tidak bisa berada di sisimu. Tapi, proyek ini aku tidak bisa menolaknya." Wajah Kenzo murung.


"Ini adalah kehamilan pertamaku, kak. Aku nggak mau melahirkan sendiri. Aku mau di temani sama kamu." Balas Vanes lirih.


"Aku harus pergi, sayang. Aku nggak bisa menolaknya."


Vanes menyerah. "Baiklah. Pergilah ke New York. Aku akan selalu memberimu kabar nantinya."


"Aku juga akan memberi kabar kepadamu." Kata Kenzo.


"Kapan kamu berangkat?"


"Lusa."


***


"Jadi Kenzo akan pergi ke New York lusa?" Tanya Selena.


Erika yang kebetulan mendengarnya langsung menajamkan indra pendengarannya.


'Iya. Padahal aku ingin selalu di temani, Kak Kenzo.'


'Tidak, Selena. Kau itu kan punya suami dan anak. Jangan repot-repot.'


Selena duduk di sofa. "Aku akan tetap menemanimu sambil membawa Ketie, Van. Juna juga akan pergi."


"Selena, jangan seperti itu. Disini juga bakal ada Mama.'


"Jangan, Van. Kasihan Tante Tasya. Aku saja yang akan menemanimu nantinya. Usia kandunganmu itu sudah tujuh bulan. Harus ada yang menjagamu."


'Baiklah. Terima kasih ya, Selena.'


"Iya, Vanessa."


Mata Erika melebar mendengar akhir pembicaraan Selena. Nama Kenzo di sebut bersamaan dengan nama Vanessa.


Aku harus segera mencari tahu ini. Batin Erika.


"Hei burung gagak! Ngapain disini? Nguping pembicaraan ya?" Tegur Selena saat mengetahui Erika berdiri tak jauh darinya.


Erika tak terima. "Enak aja kalau nuduh."


"Sudahlah! Aku mau pergi! Kau jaga rumah saja." Titah Selena.


"Aku juga mau pergi. Kunci saja pintunya."


***


Erika mengikuti laju mobil Selena yang berhenti di depan rumah yang sangat megah. Seperti mansion. Ketika Selena keluar dari mobil, Erika ikut keluar. Mengintip.

__ADS_1


Erika terkejut ketika Kenzo dan perempuan yang pernah di temuinya di supermarket berjalan beriringan dengan Kenzo. Terlebih lagi ketika tangan Kenzo merangkul bahu Vanes.


"Tidak salah lagi jika perempuan ini namanya Vanessa. Ternyata dia istri Kenzo. Terus bagaimana dengan Kak Juna? Apa sebenarnya hubungan mereka?" Gumam Erika. "Aku tidak akan membiarkan ini."


Erika masuk ke dalam halaman rumah Kenzo. Mereka bertiga yang menyadari kehadiran Erika merasa terganggu.


"Loh? Erika? Kau? Ngapain kesini?" Tanya Selena ketus.


"Kau tidak perlu tahu. Aku kesini hanya ingin mengambil calon suamiku!" Jawab Erika.


Vanes mengeryitkan dahinya. "Calon suami? Siapa calon suamimu?"


"Kenzo." Jawab Erika.


Vanes tercengang. "Kenzo itu adalah suamiku. Jadi, jangan coba-coba kau mengarang cerita ya!"


"Aku tidak mengarang cerita. Tanya saja pada suamimu itu. Dia pernah melamarku. Aku menerimanya. Apa salah aku berucap seperti itu?"


Vanes beralih menatap Kenzo. "Kak?"


"Iya. Aku pernah melamarnya. Dulu. Sekitar delapan tahun yang lalu. Namun, akhirnya dia menolakku. Jadi, yang dikatakan olehnya memang omong kosong." Jawab Kenzo santai.


"Kau dengar! Kenzo sudah memberikan jawabannya. Jadi, kau jangan membuat omongan disini. Pergi dari sini, Erika."


"Vanessa!" Erika mendekati Vanes. "Aku akan memastikan jika hidupmu tidak akan tenang. Lihat saja."


Kenzo menarik lengan Erika kemudian mendorongnya keluar dari halaman rumahnya. Pagar yang menjulang tinggi itu langsung di tutup olehnya.


Vanes diam di tempatnya. Dulu, Andini. Sekarang ada perempuan yang mengaku pernah di lamar oleh suaminya. Bahkan, perempuan itu yang pernah di temuinya di sebuah supermarket.


"Vanessa?" Panggil Selena. "Kau tidak kenapa-kenapa, kan?"


Vanes memegang tangan Selena. "Aku nggak kenapa-kenapa."


"Jangan dipikirkan kelakuan sepupunya Juna. Dia memang seperti itu."


"Sepupu Juna?"


"Iya."


"Vanessa? Kamu jangan pikirkan hal tadi tolong." Pinta Kenzo yang berdiri di dekatnya.


Vanes menetap Kenzo. "Aku nggak tahu harus apa, Kak. Kamu tidak pernah bilang soal hal itu."


"Ma--"


Dering handphone Kenzo membuat Kenzo tidak mengatakan pembicaraan selanjutnya. Dia mengangkat telefon tersebut sambil menjauh.


Lima menit berlalu, Kenzo kembali menghampiri Vanes dan Selena.


"Siapa?" Tanya Vanes.


"Aku harus pergi sekarang. Aku tidak jadi pergi lusa. Selena, aku titip Vanessa kepadamu ya? Bye, sayang." Kenzo mencium dahi Vanes dan langsung menaiki mobilnya.


"Kak Kenzo, kamu tidak mempersiapkan baju-bajumu untuk di New York?" Tanya Vanes setengah berteriak.


"Tidak. Sudah di siapkan disana."


"Kenzo! Kau ini keterlaluan! Pentingkan istrimu dari pada pekerjaanmu!" Teriak Selena.

__ADS_1


Sebisa mungkin Vanes menahan air matanya agar tidak keluar. Hatinya sakit melihat Kenzo pergi begitu saja. Tidak mempedulikannya yang sedang hamil besar dan akan segera melahirkan.


__ADS_2