My Little Wife

My Little Wife
Bab 202 : Dingin dan Berubah


__ADS_3

Ramein vote komen y guyss.


.


.


.


Happy reading♡


Setelah kejadian kemarin, sikap Kavin berubah.


Ashel tidak mengerti apa yang terjadi dengan suaminya itu. Kavin memang pernah marah dan kesal padanya namun akan selalu bersikap biasa saja, namun sekarang berbeda.


Kavin mendiamkan Ashel. Ashel tahu kesalahannya kemarin karena pergi tidak meminta ijin pada suaminya. Namun ia pergi pun dengan alasan yang jelas. Untuk mencari temannya.


Semalam setelah mereka pulang dari villa, Ashel sudah menjelaskan semuanya. Tidak ada yang ia tutupi dari Kavin. Namun sikapnya tidak berubah, malah terkesan semakin dingin.


Biasanya Kavin akan selalu mengganggunya atau menggodanya sampai ia kesal. Tapi sekarang berbeda, semuanya terasa hambar.


Kavin memang tetap berbicara pada Ashel namun seperlunya.


Saat ini mereka baru sampai di Boston, lebih tepatnya di penthouse milik Kavin. Akhirnya setelah menempuh perjalanan berbelas belas jam mereka pun bisa kembali memapakan kakinya mereka di tanah.


Mereka diantar semua keluarga sampai bandara. Sekedar perpisahan untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.


Ashel semakin bingung dengan sikap suaminya ini. Saat di dalam pesawat tadi, mereka memang duduk bersebelahan namun Kavin sama sekali tidak berbicara dengannya. Bahkan saat Ashel memegang tangannya, Kavin melepaskannya dengan alasan akan ke toilet.


Ashel cukup sakit hati dengan perlakuan Kavin yang berubah seperti itu. Ia tahu ia salah tapi tidak perlu seperti ini kan caranya.


"Mas, mau kemana?" Tanya Ashel.


"Kantor," jawab Kavin singkat.


"Kita baru aja sampe rumah mas. Emang kamu gak cape?"


"Enggak. Aku pergi dulu," ucapnya. Kavin pergi begitu saja tanpa menoleh ke arah istrinya. Padahal ini sudah petang dan sebentar lagi akan malam namun suaminya malah pergi begitu saja.

__ADS_1


Ashel menghela nafas panjangnya. Mungkin Kavin masih marah padanya.


Tak mau ambil pusing, Ashel pun beranjak ke kamarnya. Ia ingin mandi. Badannya terasa lengket karena keringat. Ia juga perlu menyegarkan kepalanya. Pikirannya terasa runyam sekali saat ini.


Sekitar satu jam berlalu, Ashel sudah selesai mandi. Ia mandi cukup lama karena ia habiskan berendam di air hangat.


Sekarang sudah pukul tujuh malam namun Kavin masih belum menampakan dirinya. Ashel mencoba menghubungi nomor ponselnya namun tidak diangkat. Apa dia sesibuk itu?


Tiba tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. Ashel langsung bergerak untuk melihatnya. Saat ini ia sudah mengenakan pakaian lengkap.


"Nyonya, waktunya makan malam," ucap bi Sati.


"Mas Kavin belum ada di rumah bi?" Tanya Ashel.


"Tuan belum pulang dan tadi tuan Josh menelepon saya jika nyonya harus segera makan malam dan tidak perlu menunggu tuan. Itu pesan dari tuan Kavin," ucap bi Sati.


Kenapa Kavin malah memberi perintah itu lewat Josh? Kenapa tidak langsung menghubunginya saja saat ini?


"Nyonya," panggil bi Sati.


"Nanti aku ke bawah kalo lapar. Makasih ya bi," ucap Ashel. Ia pun tersenyum pada bi Sati kemudian menutup kembali pintu kamarnya.


Wajar saja memang mereka akan sedikit cekcok. Namanya juga rumah tangga, pikirnya.


Bi Sati pun turun dan akan menunggu nyonyanya turun, jika tidak ada turun mungkin ia akan melaporkan hal ini pada tuannya. Bagaimana pun nyonyanya harus makan.


Setelah menutup pintu kamarnya. Ashel berjalan mendekat ke kasur, Ashel hendak merebahkan tubuhnya. Namun ia teringat jika pagi nanti ia akan mulai kuliah dan ia belum menyiapkan apapun.


Dengan terpaksa ia pun berjalan keluar kamar menuju ke ruang kerja suaminya. Karena disana ada space yang disiapkan Kavin untuk menyimpan keperluan kuliah istrinya.


Ashel membuka ponselnya dan mencari jadwal mata kuliah besok. Beruntungnya ia sudah mendapatkan jadwalnya jadi ia tidak perlu repot repot bawa buku banyak.


Ashel sudah menyiapkan semua keperluannya. Buku, dompet, power bank, dan yang lainnya yang ia masukan ke dalam tas miliknya.


Waktu semakin larut namun belum ada tanda tanda Kavin pulang. Sudah berkali kali ia hubungi suaminya ini namun tidak ada balasan.


Lama lama Ashel kesal dengan sikap Kavin. Akhirnya ia pun menangis di ruang kerja suaminya. Ia duduk diatas karpet bulu yang sengaja ia simpan.

__ADS_1


Memeluk dirinya yang sangat menyedihkan ini.


Ashel kembali mengecek ponselnya. Siapa tahu ada notifikasi dari suaminya, namun nihil.


"Kapan kamu pulang mas? Kalo marah sama aku, mending kamu pukul aku dari pada diemin aku kayak gini. Aku gak suka," gumam Ashel. Ia menyandarkan kepalanya pada bantal yang ada disana.


Matanya terus saja mengeluarkan air mata. Entah kenapa Ashel menjadi cengeng seperti ini. Sejak tadi perutnya sudah berbunyi namun Ashel enggan untuk mengisinya.


Lambat laun, matanya tertutup rapat. Hari ini cukup melelahkan apalagi setelah terbang berjam jam lamanya.


***


Sekitar pukul sepuluh malam Kavin baru sampai di kediamannya. Ia harus ke kantor karena ada beberapa berkas yang harus ia urus untuk besok. Jadi mau tak mau ia harus pergi.


Saat sudah menyelesaikan pekerjaannya Kavin mendapat kabar jika istrinya tidak turun sama sekali dari kamarnya. Itu artinta istrinya ini tidak makan sejak mereka sampai di Boston.


"Kenapa bisa istri ku tidak makan Josh? Apa bi Sati tidak memasak?" Tanya Kavin.


"Bi Sati memasak bahkan dia sudah memaksa nyonya untuk turun dan makan namun nyonya tidak mau. Bi Sati juga sudah membawakan nasi ke kamar nyonya namun nyonya tetap tidak mau membuka kamarnya," jelas Josh.


Kavin tidak habis pikir dengan istrinya itu. Kenapa bisa ia memperlakukan dirinya seperti itu. Kalau sakit bagaimana? Kavin juga yang khawatir.


Kavin bergegas masuk ke dalam penthouse miliknya saat mobil yang ia tumpangi sudah sampai di kediamannya. Ia langsung naik ke lantai dua menuju ke kamarnya.


Perlahan ia membuka kamarnya dan tidak terkunci. Diatas kasur, ia tidak melihat istrinya. Ia berusaha tenang dan tidak panik saat tidak menemukan keberadaan istrinya di dalam kamar.


"Tanyakan pada bi Sati apa istri ku keluar? Dia tidak ada di kamar," ucap Kavin pada Josh.


"Maaf tuan," ucap bi Sati yang tiba tiba muncul membawa senampan penuh makanan.


"Nyonya tidak keluar rumah. Bahkan sejak tadi saya mencoba membujuknya untuk keluar kamar namun tidak ada sahutan apapun dari nyonya," ucap bi Sati.


"Dia tidak akan menyahut karena dia tidak ada di kamar," ucap Kavin. Ia pun bergegas mencari keberadaan istrinya begitu juga dengan Josh ia juga ikut mencari di lantai satu.


Kavin membuka pintu ruang kerjanya. Hatinya merasa lega saat melihat istrinya tengah tertidur diatas karpet. Ia pun berjalan mendekat ke arah Ashel untuk melihat kondisinya yang belum makan apa apa.


__ADS_1


Tbc.


Kalo ada typ maap yyy


__ADS_2