My Little Wife

My Little Wife
34. Kemarahan Kenzo


__ADS_3

"Ayo ke rumah Mama!" Ajak Vanes.


Kenzo yang sedang menyeduh teh langsung menoleh ke arah Vanes yang duduk di sebelahnya. Mereka berdua sedang di ruang keluarga. Mendengar ajakan istri yang mendadak dan tiba-tiba, tentu saja Kenzo terkejut.


"Ayo. Kamu siap-siap ya? Aku tunggu di depan."


Vanes mengangguk antusias. Dia langsung berdiri, berjalan ke arah kamarnya. Kenzo juga ikut berdiri, dia berjalan ke arah garasi. Mengeluarkan mobil yang akan di pakai untuk pergi ke rumah Dylan.


Tak beberapa lama kemudian, Vanes sudah siap. Senyumnya tersungging. Kenzo berharap, Vanes lupa dengan kejadian beberapa hari yang lalu.


"Selalu cantik." Puji Kenzo.


Vanes tersenyum. "Bisa aja."


"Ayo berangkat!"


***


Kedatangan Kenzo dan Vanes di sambut hangat oleh para pelayan di rumah Dylan. Apalagi Sinta yang sangat berantusias.


"Nyonya muda!"


Tanpa sungkan, Sinta langsung memeluk tubuh Vanes. Vanes juga melakukan hal yang sama. Memeluk Sinta begitu erat.


"Sinta! Aku sangat merindukanmu."


"Saya juga, Nya. Nyonya sekarang agak gendutan ya?" Ucap Sinta sambil tertawa. Kenzo ikut tertawa mendengarnya.


"Vanes sedang berbadan dua, Sinta." Jawab Kenzo.


Mata Sinta berbinar kemudian dia menatap Vanes. Vanes mengangguk sambil tersenyum. Sinta kembali memeluk Vanes.


"Selamat ya, Nya."


"Terima kasih ya, Sinta."


"Sama-sama, Nya."


"Mama sama Papa ada?" Vanes celingak-celinguk.


"Ada di dalam." Jawab Sinta.


Vanes mengangguk. "Aku ke dalam dulu ya?"


"Iya, Nya. Silakan."


Vanes dan Kenzo berjalan masuk ke dalam rumah. Tak ada yang berbeda dari rumah besar nan mewah ini. Masih saja tetap sama. Hanya saja lebih banyak tanaman.


Saat sudah di ruang tamu, Vanes melihat Tasya dan Hana sedang tertawa bahagia. Kenzo langsung mengelus pundak Vanes bermaksud untuk menenangkan Vanes.


"Ma!" Panggil Vanes.


Tasya terlonjak. Namun, menit berikutnya, dia langsung berdiri kemudian memeluk Vanes sambil menangis. Vanes juga ikut menangis.


"Ayo duduk, Nak." Ajak Tasya yang masih terharu. "Hana, suruh Sinta buatkan minum untuk Vanes dan Kenzo ya?"


"Iya, Ma."


Tasya menatap lekat Vanes. Rasa rindu yang teramat dalam akhirnya terobati. Kenzo duduk di seberang mereka.

__ADS_1


"Apa kabar kamu, sayang?"


"Aku baik, Ma. Mama sama Papa kabarnya bagaimana?"


"Mama sama Papa selalu baik, sayang. Begitu juga dengan Hana. Dia sudah semester dua."


Aku tidak menanyakan Hana, Ma!


"Aku tidak menanyakan orang asing itu, Ma. Kenapa Mama bawa-bawa dia?" Nada bicara Vanes mulai meninggi.


Sinta membawa nampan berisi tiga teh hangat kemudian menaruhnya di meja ruang tamu. Kenzo segera memberikan secangkir teh ke Vanes.


"Jangan marah-marah, sayang. Ingat kondisimu." Kata Kenzo lembut.


Vanes mengangguk.


Tasya mengerutkan dahinya. "Apa ada yang kalian sembunyikan dari Mama?"


Kenzo beralih menatap Tasya. "Vanessa sedang hamil, Ma."


Raut kebahagiaan terpancar di wajah Tasya. Tangis harunya kembali merana. Vanes menggenggam erat tangan Tasya. Dylan yang tiba-tiba muncul dan mendengar ucapan mereka langsung memeluk Kenzo.


"Selamat, Kenzo! Kamu akan jadi ayah!" Ucap Dylan.


Kenzo mengangguk. "Terima kasih, pa."


Inilah yang diinginkan oleh Vanes. Kebahagiaan yang utuh. Di kelilingi oleh Kenzo, Tasya dan Dylan itu sudah cukup. Dia merasakan keluarganya kembali.


***


Vanes keluar dari kamarnya setelah memberikan handuk untuk Kenzo. Hana yang kebetulan lewat, menyempatkan menyapa Vanes.


Vanes tak mengindahkan sapaan yang di lontarkan oleh Hana. Yang menjadi tatapan lebih memautkan adalah sebuah kardus kecil yang di bawa oleh Hana. Isinya adalah boneka kecil-kecil miliknya dulu.


"Mau kau bawa kemana barang-barang ku ini, hah?" Tanya Vanes dingin.


"Oh..Ini milikmu ya? Aku mau pindahkan ke gudang."


Vanes menggertakan giginya. "Siapa yang menyuruhmu memindahkannya ke gudang?"


"Aku sendiri." Jawab Hana. "Ini milikmu ya? Maaf. Jika begitu aku akan menyimpannya untukmu."


"Berikan!" Vanes membentak.


Vanes merebut kardus kecil itu. Hana tak mau memberikannya karena ingin menyimpannya sebagai bentuk minta maaf. Vanes tetap keukuh untuk merebutnya.


Hingga..


Hana tanpa sengaja mendorong Vanes hingga jatuh ke tangga dan tergelimpang di bawah tangga dasar dengan keadaan pingsan dan darah mengalir ke paha.


Kenzo keluar dari kamar saat melihat Hana mendorong Vanes. Emosinya membelunjak.


"VANESSA!" Teriak Kenzo. "SIALAN! KENAPA KAU DORONG ISTRIKU, HANA?"


Hana ketakutan. "Maaf."


"Sialan! MAMA! PAPA!" Kenzo berteriak lagi sambil menuruni tangga.


Dylan dan Tasya menghampiri Kenzo yang berteriak dengan panik. Mereka berdua jadi ikut panik.

__ADS_1


"Ada apa, Kenzo?" Tegas Dylan.


"Vanessa! Ada apa dengan Vanessa, Kenzo?" Histeris Tasya.


"Aku harus bawa Vanessa ke rumah sakit. Kalian tidak akan percaya jika aku menceritakannya!"


***


Setelah menunggu selama satu jam, akhirnya dokter keluar dari ruang IGD. Kenzo, Tasya dan Dylan langsung menghampiri dokter tersebut.


"Dokter Mita! Bagaimana keadaan Vanessa sama kandungannya, dok?" Tanya Kenzo. Di belakangnya, Tasya menangis di pelukan sang suami. Dylan. Sementara Hana, duduk dengan raut wajah penuh penyesalan.


Dokter Mita menampakkan raut wajah kesedihan. Kepalanya di gelengkan. "Maaf. Kami tidak bisa menyelamatkan bayinya. Ibu Vanessa keguguran."


Kenzo terduduk lemas di lantai mendengar jawaban dari sang dokter. Pupus sudah harapannya. Bayi yang selama ini di impikan telah meninggal.


"Mohon bersabar ya, Pak. Kami turut berduka. Saya permisi." Kemudian dokter Mita pergi.


Tasya makin histeris menangis. Dylan hanya bisa diam.


"Ma, jangan menangis lagi!"


Mendengar suara Hana, tangan Kenzo terkepal. Dia berdiri, kemudian menghampiri Hana yang berada di belakangnya.


"Ini semua gara-gara kau, Hana!"


"Kenzo!" Bentak Dylan.


"Asal Papa tahu, penyebab Vanes jatuh dari tangga adalah Hana, Pa. Aku melihatnya sendiri! Dia mendorong Vanes hingga jatuh." Kenzo mulai frustasi.


Hana menggeleng. "Aku tak sengaja! Tolong maafkan aku!"


PLAK


Kenzo menampar Hana dengan kuat hingga Hana jatuh terpental. Tasya yang tak tega menghampiri Hana yang menangis.


"Cukup Kenzo! Jangan berbuat kasar!" Kata Tasya sambil memeluk Hana.


Kenzo menggeleng heran. "Sebenarnya siapa disini anakmu, Ma? Vanessa atau Hana?! Hana yang menyebabkan Vanessa keguguran!"


"Kenzo bersabarlah!" Dylan mengelus bahu Kenzo. Rupanya Dylan merasakan hal yang sama.


"Maafkan aku, Ma, Pa. Tapi mungkin aku harus bertindak. Aku mungkin selama ini diam, tapi tidak sekarang. Cukup sampai disini saja penderitaan Vanessa." Kata Kenzo tegas.


"Apa maksudmu, Kenzo?" Tanya Tasya yang masih setia memeluk Hana.


"Sebelumnya maafkan aku jika lancang. Kalian berdua pasti tidak tahu jika selama ini Vanessa sering sedih karena kalian berdua lebih menyayangi Hana. Tapi, aku diam. Aku tidak bilang ke kalian."


Tasya diam merenung.


"Dan, untuk masalah ini, yang menyebabkan Vanessa keguguran, aku akan bertindak tegas. Aku akan melarang Vanessa untuk datang ke rumah kalian. Hana, aku akan menuntutmu. Kita selesaikan masalah ini secara hukum!" Putus Kenzo.


Kenzo berbalik. "Maafkan aku, Pa. Maaf! Tapi aku harus melakukan ini agar Vanessa tidak sedih."


"Aku menghargai keputusanmu, Kenzo."


__________


Jangan lupa vote ya. Like juga di perbolehkan. Apalagi komen dan share cerita ini. Sangat diperbolehkan😂

__ADS_1


Oke. See You di next part.


__ADS_2