
Happy reading♡
Marta datang ke rumahnya dengan perasaan kesal. Ia kira Kavin mau menerima putrinya tapi ternyata tidak. Ternyata ia sangat setia pada istrinya.
"Papi, gimana? Kavin mau kan nikah sama aku?" Tanya Nadine saat melihat papanya datang.
"Diam kamu. Seharusnya memang aku tidak mengikuti permintaan konyol mu itu. Jika saja kamu tidak mengancam akan bunuh diri, aku tidak akan pernah sudi melakukannya," ucap Marta.
"Apa? Jadi Kavin menolak ku?" Tanya Nadine.
"Lalu apa lagi?"
"Gak bisa papi. Aku harus nikah sama dia," ucap Nadine.
"Hentikan itu Nadine. Jangan buat malu diri sendiri," ucap Marta. Ia kemudian pergi meninggalkan putri semata wayangnya itu.
Marta sangat menyayangi Nadine. Ia rela melakukan apapun agar putrinya bahagia.
Seperti saat ini saja. Tempo hari Nadine mogok makan dan akan melakukan bunuh diri dengan loncat dari loteng rumahnya.
Tentu saja Marta terkejut dan tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Marta mencoba mengajak Nadine berbicara perlahan agar putrinya menurut.
Ternyata Nadine memberikan permintaan padanya untuk meminta Kavin menjadikannya istri kedua. Awalnya Marta menolaknya namun setelah Nadine akan kembali loncat, mau tak mau Marta pun menuruti keinginan putrinya itu.
Dengan menebalkan wajah, ia membuat reservasi untuk menemui Kavin. Ia beralibi jika akan membahas soal bisnis tapi nyatanya bukan.
Marta sudah menduga jika Kavin akan menolaknya. Saat ini Marta harus siap jika akan diserang oleh Kavin. Untuk itu sebelum kejadian ini, ia sudah mempersiapkan semuanya agar perusahaan yang ia rintis dari dulu tidak hancur begitu saja di tangan Kavin.
Pria yang sangat dicintai oleh putrinya.
***
Kavin sangat ingin memarahi para bodyguard yang ia bayar untuk mengikuti istrinya karena tidak becus dalam menjalankan tugas yang ia berikan. Padahal mereka hanya tinggal mengikuti kemana istrinya pergi dan memastikan untuk selamat dan mengabarinya tapi ternyata mereka ketahuan oleh istrinya.
__ADS_1
"Udahlah, lagian adek juga gak mungkin marah sama lo. Gak usah dibawa pusing kayak gitu, adek udah dewasa," ucap Ardian.
"Lo gak tahu aja kalo dia marah ancemannya gak main main. Gak bisa gue kalo gak tidur sama dia," ucap Kavin. Ia mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat ia membuat istrinya marah.
Ashel memang tidak mengatakan apa apa atau marah besar padanya, hanya saja Ashel mendiamkannya dan Kavin sangat tidak suka jika didiamkan oleh istrinya seperti itu.
Kavin juga sudah ketergantungan dengan Ashel. Ia tidak bisa jika tidak tidur bersama dengan istrinya. Pasti tidurnya akan tidak nyenyak.
"Yaelah cemen banget. Tinggal jajan diluar aja, nakal boleh tapi jangan sampe lo ninggalin adek gue," ucap Ardian.
"Gue cukup sama satu cewek dan itu cuma istri gue. Gue bukan lo yang coblos sana sini cuma buat kepuasan pribadi," ucap Kavin sinis.
"Halah, kuno banget idup lo," ucap Ardian.
Kavin pun menghiraukan ucapan Ardian. Ia kembali menekan tombol panggilan untuk menelepon istrinya sudah beberapa kali ia coba namun tidak ada jawaban. Malah Ashel merejectnya.
"Sialan. Awas aja kamu yang," gumam Kavin. Ia pun pergi dari sana tanpa pamit pada Ardian, sedangkan Ardian tidak banyak bicara saat Kavin pergi. Ia sudah tahu kemana tujuan Kavin pergi.
Ardian tidak pernah menyangka jika Kavin akan sebucin ini pada adiknya. Setahu dia, Kavin tidak pernah sebucin ini pada wanita. Namun Ashel mampu menaklukannya.
***
Sejak tadi ponsel Ashel berbunyi namun Ashel merejectnya. Ia bahkan mensilent ponselnya agar suara dering panggilan tidak menggangunya. Bahkan pesan dari suaminya tidak ia balas.
Ia marah pada suaminya.
Bisa bisanya ia menempatkan dua bodyguard untuk mengikutinya. Apa setidak percayanya dia pada Ashel?
"Laki lo nelpon tuh angkat. Lagian Liam juga masih meeting," ucap Ayu saat ia melihat ponsel temannya terus menyala.
"Males."
"Ya elah. Suami lo itu jagain lo lewat mereka nge. Jangan lah lo marah sama dia," ucap Ayu.
__ADS_1
"Gue cuma kesel aja sama dia. Udah itu aja gak lebih," ucap Ashel.
"Yaudah iya terserah lo aja. Tapi gue kasian sama laki lo. Cakep gitu lo keselin mana tajir lagi," ucap Ayu.
Ashel langsung melemparkan tatapan tajam pada Ayu saat itu mendengar sahabatnya berkata seperti itu.
"Peace," ucap Ayu nyengir sembari tangannya terangkat membentuk tanda peace.
"Gue kayak gini karena gue mau mas Kavin juga terbuka sama gue. Gak melulu dia urusin semuanya sendiri, sekarang gue istrinya. Seharusnya tempat dia berbagi gue kan? Gue juga nekat ngelakuin hal ini karena mas Kavin juga ngelakuin semuanya sendiri. Gue tahu ini salah, tapi mau gimana lagi? Gue udah terlanjur bergerak jauh," ucap Ashel tiba tiba membuat Ayu menghentikan atensinya dari ponsel.
Ia menatap ke arah sahabatnya. Sebenarnya ia juga bingung dengam hubungan setelah menikah.
"Gue gak tahu harus ngomong apa Shel. Lo tahu sendiri kan gue ini jones. Gue takut kalo omongan gue salah soalnya gue belum ada pengalaman tentang apapun soal hubungan suami istri," ucap Ayu.
"Santai aja, gue juga udah makasih banget soalnya lo udah jadi pendengar baik buat gue. Segitu juga udah cukup banget. Gue sekarang lagi gak butuh nasehat apapun, gue cuma butuh di dengar aja," ucap Ashel.
Ayu mengangkat tangannya, menepuk nepuk bahu sahabatnya. "Lo masih muda tapi kayaknya kehidupan lo berat banget. Lo harus percaya kalo tuhan itu sayang banget sama lo makanya lo dikasih cobaan terus. Gue yakin lo bakalan bahagia kok. Tuhan kan adil," ucap Ayu.
Ashel menganggukan kepalanya. Apa yang dikatakan oleh Ayu ada benarnya. Mungkin juga ini alasan tuhan memberikannya takdir untuk menikah di usia muda.
Ashel harus lebih banyak bersyukur lagi.
Atensinya teralih pada Liam yang masih sibuk dengan clientnya. Sudah bertahun tahun lamanya ia tidak bertemu dengan Liam. Rasanya sangat aneh dan cukup asing.
Mungkin ini kesempatan terakhirnya untuk bisa menanyakan semuanya pada Liam. Tentang alasan dia pergi tiba tiba dan membuat Dona beralibi jika Liam meninggal dan yang menjadi sasaran kemarahan Dona adalah dirinya.
Bukan, Ashel bukan ingin menghakimi Dona. Hanya saja ia perlu meluruskan ini semua agar hidupnya menjadi tenang kembali seperti dulu.
Rencana Ashel selanjutnya adalah mencari keberadaan Dona dan mungkin ingin mempertemukan keduanya.
Sebenarnya tidak perlu mencari karena Ashel yakin jika Dona berada di tangan Ardian. Semoga saja Dona dalam keadaan baik baik saja. Meskipun Ashel tahu penyiksaan yang dilakukan Dona padanya mungkin tidak akan mendapatkan maaf dari keluarganya terutama suaminya.
Tbc.
__ADS_1
Vote komen ya, makasih