My Little Wife

My Little Wife
Ep. 134 > Next


__ADS_3

Zico, memandangi istrinya yang sedang terbaring di atas tempat tidur. Wajah pucat Azalea membuat Zico terenyuh. Perasaannya sedang tidak baik-baik saja sekarang. Ada dua hati yang harus ia jaga. Hati Mamanya, dan juga Azalea.


"Kau sudah pulang?" Azalea membuka matanya dan melihat Zico berada tepat dihadapannya.


"Apa aku membangunkan mu?" Zico duduk di pinggir tempat tidur, lalu mengusap pelan kepala Azalea.


"Tidak, aku tidak benar-benar tidur." Sambil memegang punggung tangan Zico yang kini sudah berada di pipinya. "Bagaimana keadaan Papa?" Tanya Azalea kemudian.


"Papa masih harus dirawat beberapa hari lagi." Zico tidak bermaksud membuat Azalea khawatir, namun ia juga tidak dapat menyembunyikan raut wajah sedihnya.


"Maafkan aku." Lirih Azalea menyesal.


"Ini bukan salahmu."


"Seharusnya kita jujur sejak awal."

__ADS_1


"Dan itu akan menimbulkan masalah untuk Biandra, kau ingat? Kau menandatangani kontrak dengan mereka." Zico mencoba meyakinkan istrinya, jika ini bukan kesalahan nya. Dan ia tidak perlu menyalahkan diri sendiri, atas kesalahan yang orang lain perbuat.


Jika ada yang harus disalahkan, maka orang itu adalah Amora.


"Tapi apa yang harus aku lakukan sekarang, Zic? Agar Mama mau memaafkan ku." Air bening itu mulai mengalir dari sudut mata Azalea. Ia ingin menahannya, tapi sia-sia.


"Sabar sebentar lagi, aku juga sedang berusaha membuat Mama memahami kondisimu. Mengapa kau sampai melakukan itu. Tapi waktu dan tempatnya belum tepat. Aku tidak leluasa berbicara dengannya dirumah sakit. Kau tidak perlu risau kan apapun saat ini. Tolong fokus dengan bayi kita saja. Aku mohon." Mata Zico berkaca-kaca, dia tidak tahu harus memohon seperti apa, agar Azalea benar-benar hanya menjaga kondisi saja saat ini.


Melihat Zico yang seperti itu, justru membuat Azalea semakin terenyuh. Dan kini, ia terisak dalam pelukan Zico.


"Ssttt... Jangan bicara seperti itu. Aku paling benci kata-kata itu!" Zico menekankan.


"Maafkan aku Zic, maafkan aku!" Azalea benar-benar merasa sangat bersalah. Kehadirannya kembali dalam hidup Zico akhirnya hanya menimbulkan luka yang berulang. Andai saja ia menahan diri untuk tidak kembali bersama Zico. Mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi, namun semua itu hanya 'Andai' yang tidak mungkin dapat diulang lagi.


Entah mengapa, perasaan Azalea sangat tidak tenang. Ada sesuatu yang benar-benar mengganggunya. Perasaan yang tidak dapat dijelaskan, atau diutarakan oleh Azalea.

__ADS_1


Kini, yang bisa ia lakukan hanya menangis. Agar sesuatu yang lebih menyakitkan itu tidak terjadi. Semoga, semua berakhir dengan baik.


"Sudah, tenangkan dirimu." Zico melepaskan pelukannya. Lalu mengusap lembut air mata Azalea. "Istirahat lah, akan aku buatkan sesuatu."


"Tapi aku sudah makan."


"Hanya makanan ringan, untuk menghilangkan stres." Zico beranjak setelah mengacak pelan puncak kepala Azalea, dan mengecup pipinya. Itu membuat bibir ranum Azalea sedikit tersenyum.


Benar, perlakuan manis adalah obat paling ampuh untuk stres.


Azalea memandangi punggung Zico yang berlalu pergi, dan menghilang di balik pintu kamar saat tertutup.


"Semoga kau tidak akan pernah berubah, Zic. Hanya kau satu-satunya yang aku miliki saat ini."


Azalea menghela nafas dalam. Mencoba menetralkan perasaannya. Mencoba membuang semua pikiran negatif yang bersarang di otaknya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2