
Happy reading♡
Ashel terdiam melihat isi laptop di depannya. Ternyata suaminya ini bergerak lebih cepat dibandingkan dengan dirinya. Ashel sampai tidak menyangka hal itu.
Saat terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, Ashel buru buru menghapus email itu dan membuka email dari dosennya.
Ia bersikap biasa saja seolah tidak terjadi apa apa. Ia mengambil pulpen dan buku tulisnya untuk mengerjakan soal.
"Makanan belum sampe yang?" Tanya Kavin.
"Belum. Gak ada yang bunyiin bel," ucap Ashel namun matanya tetap fokus pada laptop. Sejenak ia mengesampingkan pikirannya dari isi email tadi dan berusaha fokus.
"Kok lama amat ya? Kamu belum makan soalnya," ucap Kavin. Ia mengambil ponsel yang ada di sebelah istrinya dan menghubungi pihak resort untuk segera mengirimkan makanan.
Kavin sudah berpakaian. Biasanya ia akan menggunakan pakaian casual kantoran, namun hari ini pria itu hanya menggunakan kaos dan celana training saja.
Ia ikut duduk di sebelah istrinya. Sebelumnya ia sudah mengambil segelas air.
"Yang, minum ini dulu," ucap Kavin memberikan segelas air dan obat berwarna putih.
"Hah? Obat apa itu? Kan aku gak sakit," ucap Ashel.
"Ini bukan obat buat sakit. Tapi obat pencegah kehamilan. Tadi malem kita udah melakukan itu dan aku gak pake pengaman," ucap Kavin.
Ashel menatap nanar obat di depannya. "Segitu gak maunya ya kamu punya anak dari rahim aku?"
"Bukan begitu sayang, dengerin dulu," ucap Kavin.
Ashel langsung mengambil obat dari tangan suaminya dan meminumnya dengan cepat sampai ia tersedak.
"Astaga yang, pelan pelan," ucap Kavin namun Ashel tidak mendengarnya.
"Dengerin aku, maksud aku bukan kayak gitu. Kamu sendiri kan yang bilang kalo kamu belum mau punya anak sebelum kamu lulus-"
"Aku tahu gak perlu kamu ungkit. Aku harus belajar dan selesain tugas ini. Tolong jangan ganggu," ucap Ashel. Ia berdiri dari tempat tidur dan berjalan tertatih menuju ke depan kolam renang.
"Yang, kamu salah paham. Dengerin dulu," ucap Kavin. Ia mengejar istrinya itu. Ia takut Ashel kembali kesakitan saat berjalan karena ulahnya tadi malam.
__ADS_1
"Lepas mas. Aku harus belajar," ucap Ashel tanpa melihat ke arah suaminya.
"Ya udah. Belajar dulu, nanti kalo makanannya udah datang kita makan dulu," ucap Kavin.
Ashel tidak menjawab ucapan suaminya ia memilih terus berjalan menuju ke pinggiran kolam renang. Disana ada kursi panjang, Ashel bisa menggunakannya untuk duduk.
Ucapan suaminya tadi terngiang ngiang di telinganya. Sebenarnya ia sudah selesai dengan tugasnya namun ia beralibi pada suaminya untuk menghindarinya.
Ashel ingat dan tidak lupa dengan ucapannya beberapa waktu yang lalu. Ia sendiri yang bilang belum siap memiliki seorang anak.
Justru ia harus berterima kasih pada suaminya karena siap sedia lebih dulu dibandingkan dengannya.
Namun entah mengapa, rasanya sangat sakit.
"Gue yang ngomong tapi gue sendiri yang sakit hati," gumamnya.
"Gue emang belum siap, tapi kenapa pas mas Kavin kasih obat itu rasanya hati gue sakit banget sih. Gue gak boleh baperan."
Ashel kembali fokus pada layar laptopnya. Setelah selesai mengerjakan semua soal, ia langsung mengirimnya kembali pada dosennya melalui email.
Ashel tiba tiba terdiam. Pikiraannya teringat dengan isi email tadi.
Tapi kenapa mereka berdua menutupi hal itu darinya? Bukankah seharusnya Ashel juga tahu. Mengingat ini semua menyangkut tentang dirinya.
"Gak bisa. Gue harus bisa nemuin Liam lebih dulu dibanding mas Kavin. Gue gak mau kecolongan. Gue harus minta bantuan siapa tapi," ucap Ashel.
"Ardian udah gak bisa gue andelin lagi. Pantesan aja dia sering kasih info setengah setengah ke gue. Taunya dia sengaja lakuin hal itu," ucapnya lagi.
"Gue harus nemuin Ayu. Cuma dia yang bisa bantu gue soal ini meskipun gak banyak soalnya dia beban. Tapi setidaknya itu berguna karena dia juga yang tahu semuanya," ucap Ashel.
Ia sudah memutuskan akan mencari tahu hal ini tanpa sepengetahuan suaminya. Padahal ia sudah berusaha untuk tidak menutupi apapun, tapi suaminya malah melakukan hal sebaliknya.
Jadi jangan salahkan Ashel karena suaminya juga sama.
"Yang, kok diem aja dari tadi aku panggil juga," ucap Kavin.
"Maaf, aku terlalu fokus sama soal ini. Kenapa emangnya?" Tanya Ashel. Ia harus berusaha terlihat biasa saja di depan suaminya ini.
__ADS_1
"Makanan udah sampe. Makan dulu yuk," ajak Kavin. Ashel menganggukan kepalanya dan mengikuti suaminya untuk makan.
***
Setelah selesai makan, Ashel menghabiskan waktunya dengan ponselnya. Ia sedang rebahan di kasur sedangkan suaminya sedang bekerja di depan laptop. Kavin duduk tak jauh dari istrinya. Ia sengaja meminta bekerja diluar kantor agar bisa tetap bersama istrinya.
Ashel dan Ayu sedang bertukar pesan. Mereka sama sama membahas soal Liam. Ternyata Ayu mendapatkan informasi lain. Untuk itu Ashel dan Ayu sepakat untuk bertemu dan berbincang setelah kuliah besok.
"Anteng banget kamu yang, lagi chat sama siapa?" Tanya Kavin.
"Sama temen temen aku mas," jawab Ashel.
"Cewek atau cowok?" Tanya Kavin.
"Cewek mas," ucap Ashel tak habis pikir. Suaminya ini sangat sangat posesif sekali.
"Beneran?" Tanya Kavin memastikan.
"Beneran mas, astaga. Gak percayaan amat sih," ucap Ashel kesal.
Kavin yang mendengar nada kesal dari istrinya pum buru buru mendekat ke arahnya dan meninggalkan pekerjaannya.
"Iya iya aku percaya sayang," ucap Kavin. Ia menundukan kepalanya untuk mencium kening istrinya.
Ashel tidak menjawab ucapan suaminya. Entah mengapa ia tiba tiba kesal dengan suami tampannya ini. Ternyata posesifnya tidak dapat disembuhkan. Dan Ashel harus mulai terbiasa dengan hal itu.
"Kamu bosen ya? Mau keluar jalan jalan?" Tanya Kavin. Ia berusaha membujuk istrinya yang sedang memasang wajah kesal.
"Gak mau. Males. Udah sana kamu kerja aja, aku mau tidur. Ngantuk," ucap Ashel. Ia pun bangun dan membenarkan posisinya untuk tidur.
Namun sebelum tidur, ia tidak lupa untuk me-end chat room chatnya dengan Ayu. Ia hanya berjaga jaga saja takutnya Kavin akan memeriksa ponselnya.
"Ya udah kamu tidur lagi aja. Mau aku temenin?" Tanya Kavin. Ia mengusap usap kepala istrinya sayang.
"Gak usah. Kamu kerja aja. Jajan aku banyak, aku phobia miskin," ucap Ashel. Ia pun menyimpan ponselnya setelah menghapus isi chatnya dengan Ayu.
"Aku gak mungkin biarin kamu kayak gitu yang. Nanti di rumah, black card milik kamu udah jadi. Sekalian sama tas yang dirim oma dari Indonesia udah ada di rumah. Nanti tinggal kamu tata ulang letaknya ya," ucap Kavin. Ia mencium kening istrinya lalu melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Tbc.
Ramein vote komen y. Kalo ada typ maapin. Enjoyyy