
Happy reading♡
Minggu pagi yang cerah ini Ashel manfaatkan untuk tidur dan rebahan seharian di rumahnya. Suaminya sendiri harus pergi meninjau proyek pembangunan hotel terbaru milik Kavin. Entah sudah berapa banyak hotel yang suaminya bangun di America. Ashel tidak tahu.
Semalam ia bertengkar kecil dengan suaminya karena ia mempermasalahkan tiket yang sudah dipesannya untuk ke Swiss demi menghindari Kavin dan istri kedua pura puranya itu. Kavin bahkan sanggup mengganti harga tiket yang dibeli istrinya itu berkali kali lipat. Dan benar saja, tak berselang lama masuk dana sepuluh juta ke rekeningnya untuk mengganti harga tiket miliknya.
Ashel bangun agak lambat hari ini. Ia memang tidak memiliki agenda apapun hari ini jadi ia hanya bermalas malasan diatas kasur.
Tadi pagi dirinya kembali muntah muntah tidak jelas. Entah apa sebabnya padahal jika ia keracunan makanan semalam yang ia makan, mungkin efeknya tak akan selama itu.
"Apa mungkin gue hamil?!" Gumamnya.
Ia pun melihat tanggal di ponselnya. Setiap ia haid pasti akan ia tandai di setiap tanggalnya.
"Anjir, udah telat dua bulan?! Kok gue gak ngerasa sih," ucapnya.
"Kalo hamil gimana?"
"Bego. Ya pastilah anjir, hampir tiap hari mas Kavin minta jatah ditambah ini gue udah telat haid. Tapi masa iya sih?" Ucapnya masih tidak percaya.
Ashel pun bangun dan hendak memakai sweater miliknya namun saat melewati cermin ia berhenti. Ia memperhatikan perubahan di dalam dirinya. Tidak ada yang berubah. Tapi..
Ashel mengelus perutnya yang rata. Ia merasakan sesuatu disini. Apa mungkin ini yang disebut naluri seorang ibu?
"Dari pada mati penasaran mending gue beli tespack aja deh ke apotek."
Ia pun bergegas turun dan meminta supir mengantarkannya ke apotek terdekat. Sekitar dua puluh menit perjalanan menuju ke apotek dari rumahnya, ia pun sampai. Sebelum masuk ke apotek, Ashel lebih dulu memakai masker dan menggunakan kupluk sweater miliknya.
"Permisi kak, saya mau beli tespack," ucap Ashel.
"Baik kak, mau merk apa?" Tanyanya.
Ashel tidak tahu merk tespack apa saja. Apa tespack memiliki banyak merk?
"Yang paling akurat aja mbak. Saya perlu tiga," ucap Ashel.
"Baik kak, ditunggu sebentar ya."
__ADS_1
Ashel pun mengangguk dan menunggu pelayan apotek itu. Tak berselang lama, pelayan itu membawa tespack yang ia mau dan Ashel segera membayarnya. Ashel buru buru pergi ke mobilnya. Sebenarnya ia malu, beruntung saja pelayan apotek itu tidak banyak bertanya.
"Kita kemana lagi nyonya bos?" Tanya pak supir.
"Pulang aja pak."
Supir mengangguk patuh dan melajukan mobilnya menuju ke rumahnya lagi. Ia tidak sabar untuk mengeceknya. Jika pun ia dia hamil, mungkin ini sudah saatnya ia memberikan keturunan pada suaminya dan cucu untuk kedua orang tuanya.
Saat sampai di mansion miliknya, Ashel pun langsung menuju ke kamarnya. Ia melepas sweater miliknya dan mengambil ketiga tespack itu.
"Ini gimana cara pakainya?" Gumam Ashel. Ia pun membuka internet untuk bertanya bagaimana cara menggunakannya.
Setelah mendapatkan caranya, Ashel pun langsung masuk ke kamar mandi. Internet bilang, cara tes yang ampuh itu di pagi hari dan sekarang baru jam delapan pagi. Ini masih tergolong pagi bukan.
Ashel menyimpan ketiga tespack itu ke dalam gelas yang berisi air kencingnya. Ia pun menunggu beberapa saat untuk mendapatkan hasilnya. Ashel bahkan berjalan mondar mandir di dalam kamar mandi. Ia harus menunggu selama lima menit.
"Ya allah kok deg degan ya? Kayak mau ujian aja," ucap Ashel. Ia memegang dadanya menggunakan telapak tangannya. Terasa sekali jantungnya berdisko ria.
"Oke sabar, beberapa detik lagi."
Akhirnya waktu berlalu lima menit lebih. Ashel mengambil tespack pertama. Sebenarnya ia sangat takut dengan hasilnya. Takutnya itu hanya perasaanya saja dan ia tidak hamil.
Ia pun mengambil tespack sisanya dan semuanya sama. Garis dua.
"Ini artinya apa? Kok cuma garis? Kan kalo gue beneran hamil pasti tespacknya gambar kepala bayi," ucap Ashel. Ia kebingungan, ia tidak pernah melihat hal seperti ini sebelumnya dan ia juga tidak memiliki pengalaman.
Ia pun kembali bertanya pada google. Dua garis itu artinya apa. Dan saat ia membaca isi google, matanya membulat sempurna.
Dua garis merah berari positif hamil.
Kaki Ashel terasa seperti jelly. Ia tidak kuat menopang berat tubuhnya sampai ia jatuh ke atas lantai. Matanya tiba tiba mengeluarkan air mata.
"G-gue h-ham-il?" Gumamnya. Telapak tangannya mengusap perutnya yang masih rata.
"Udah dari kapan kamu ada di perut mami sayang? Kenapa kamu gak munculin tanda tanda kalo kamu udah ada disini. Maafin mami ya karena gak menyadari kehadiran kamu."
Ashel tidak mampu menahan tangisnya. Rasa bahagia bercampur haru.
__ADS_1
"Tapi gue harus cek dulu ke dokter. Takutnya tespack ini gak akurat," ucap Ashel. Ia pun segera bersiap siap untuk ke rumah sakit.
***
Sedangkan di lapangan, Kavin sedang memperhatikan beberapa pekerja yang sedang sibuk dengan urusan mereka masing masing. Cuaca saat ini cukup terik. Pantas saja karena ini sudah pukul dua belas siang.
"Udah dari lama lo disini?" Tanya Ardian yang baru sampai ke proyek.
"Lumayan. Lo kenapa telat?" Tanya Kavin.
"Biasalah."
Proyek hotel ini adalah proyek milik Kavin dan Ardian. Beberapa bulan yang lalu mereka sepakat untuk bekerja sama membangun satu hotel di daerah sini.
"Bay the way, orang itu kayaknya udah mulai bergerak. Lo harus mulai jaga jaga," ucap Ardian.
"I now. Makanya gue pengen cepet cepet bangun hotel ini. Supaya dia berpikiran kalo gue sibuk dan gak memperhatikan dia. Seru juga bertingkah laku kayak gini," ucap Kavin.
"Ide lo emang gak pernah gagal Vin. Gue harap ini semua berhasil supaya hidup lo sama istri lo adem ayem terus," ucap Ardian.
"Mau gue sih gitu. Tapi ya udah, gue cuma ikutin alur yang dia buat aja. Dia yang mulai biar gue yang mengakhiri nanti."
"Oh iya, rincian pendapatan cafe milik adek udah gue email ke lo. Kemarin Josh minta sama Sergio tapi rinciannya udah sama gue, jadi gue yang kirim," ucap Ardian.
"Thanks udah bantuin istri gue buat kelola cafe dia. Gue ada rencana pulang ke Indo setelah istri gue libur semester," ucap Kavin.
"Oke. Biar gue urus sisanya disini," ucap Ardian. Kavin mengangguk.
Kavin dan Ardian memang sudah lama saling kenal karena mereka sudah berteman sejak kuliah.
"Soal Dona dan Nadine, kita urus nanti," ucap Kavin. Ardian hanya mengangguk sekilas.
Tbc.
Kalo typ maapin. Ramein wehh.
__ADS_1
Asel otw jadi emak kapin jadi bapak🤣🫷