My Little Wife

My Little Wife
Bab 325 : Asi Pertama


__ADS_3

Happy reading♡


Empat hari berlalu, kondisi Ashel sudah membaik begitu juga dengan ketiga bayinya. Mereka sudah berada satu ruangan. Setiap hari, semua keluarganya datang silih berganti untuk melihat bayi bayinya.


Kavin setiap harinya menemani istrinya. Karena Ashel baru selesai operasi jadi apa apa harus bersama dengan Kavin. Entah mengapa setelah melahirkan, perut Ashel selalu terasa mules dan selalu ingin mengeluarkan angin. Itu hanya terjadi saat malam saja.7


Lupita bilang jika itu semua wajar saja. Karena Ashel baru saja selesai operasi caesar. Kavin sendiri tidak masalah jika harus selalu mendengar suara kentut istrinya. Toh itu semua wajar saja kan untuk manusia hidup?


"Bang, nama si cantik siapa?" Tanya Fello. Pria itu lebih sering datang ke rumah sakit untuk melihat bayi bayi kakaknya. Ia sangat senang sekali saat melihat manusia mungil itu bergerak gerak di kasur tidur miliknya.


"Kepo kayak monyetnya dora," ucap Kavin. Ia sedang menyisir rambut istrinya.


"Idih, sensi amat lo. Kan gue nanya biar manggilnya enak," ucap Fello.


"Nanti di rumah gue kasih tahu. Sore ini mereka semua pulang termasuk maminya," ucap Kavin.


"Gimana caranya bawa mereka bertiga bang?" Tanya Fello.


"Udah gue siapin mobil khusus, yang di belakangnya gak ada kursi kemudinya. Soalnya gue simpen kasur busa disana buat duduk istri sama tempat tidur anak anak gue," ucap Kavin.


"Oh, gitu toh," ucap Fello.


Anak Ashel lahir tiga orang. Semuanya selamat tidak ada yang kurang apapun. Anak pertamanya dan keduanya berjenis kelamin laki laki sedangkan si bungsu berjenis kelamin perempuan. Cantik dan tampan. Semua wajah mereka sangat mirip dengan Ashel. Sepertinya anak anaknya mendengarkan ucapannya waktu itu saat ia meminta anak anaknya harus mirip dengannya.


Sudah jauh jauh hari Kavin menyiapkan nama nama untuk anaknya. Jadi Kavin tidak perlu mencarinya lagi. Bahkan nama anak anaknya sudah dipatenkan pada surat surat seperti akta kelahiran.


Tiba tiba si bungsu yang cantik menangis. Fello berjingkrak kaget karena suara bayi itu sangat nyaring. Kavin pun bergegas mengambil anak perempuannya dengan cepat dan memberikannya pada istrinya.


"Keluar lo. Istri gue mau kasih asi," ucap Kavin mendorong tubuh adiknya agar keluar.


"Ya elah, pelit amat lo," ucap Fello. Kavin pun mengunci pintu ruangan Ashel karena takut ada yang masuk.

__ADS_1


Sedangkan Ashel sudah memberikan asi pada anaknya. Ia sangat bersyukur karena asi miliknya keluar dengan lancar. Meskipun tetap harus dibantu oleh susu formula.


Kavin mendekat ke arah anak dan istrinya. Ia menatap si cantik yang sedang semangat menyedot milik istrinya. Sesekali juga anaknya ini kesusahan menghisap asinya karena mungkin ini pertama kalinya untuk mereka.


"Sakit ya yang?" Tanya Kavin saat melihat kerutan di wajah istrinya.


"Lumayan mas. Aku belum terbiasa," ucap Ashel.


"Cantik, pelan pelan minumnya. Kasihan mami loh," ucap Kavin. Dan lagi, terdengar tangisan dari anak pertama mereka. Kavin buru buru mengambilnya dan berusaha menenangkannya.


Ini pertama kalinya untuk Kavin menggendong bayi, namun pria itu sudah luwes. Tidak terlihat takut atau apa saat menggendongnya.


"Mas, siniin dia. Kayaknya dia juga kehausan," ucap Ashel. Ia mengeluarkan satu squishy-nya lagi yang berada di sebelah kanan. Kavin menurut dan memberikan anak pertama mereka pada Ashel.


"Kamu bantu tahan tubuh dia ya? Tolong masukin juga putin* milik aku ke mulut baby," ucap Ashel. Kavin menurut. Ia pun melakukannya. Benar saja, bayi mereka berdua sudah kehausan lagi.


"Gak sakit yang? Disedot dua sekaligus," ucap Kavin.


Tak berselang lama, kedua bayi mereka pun melepaskan asi milik Ashel. Sepertinya mereka sudah kenyang. Kavin dengan telaten kembali memindahkan tubuh tubuh mungil itu pada tempatnya. Ia juga melihat anak keduanya yang sejak tadi tidur lelap. Bahkan dia tidak terganggu sama sekali dengan tangisan adik dan abangnya.


"Mas, bawain si kakak kesini," ucap Ashel.


"Dia anteng banget yang. Gak keganggu sama sekali, padahal tangisan abang sama adiknya kenceng banget," ucap Kavin. Ia memberikan bayi kedua mereka pada istrinya.


Ashel menerima bayi keduanya. Ia melihat wajah anak ini dengan saksama. Membuat Kavin juga melihat anaknya.


"Kamu dengerin ucapan mami ya waktu dalam kandungan? Muka kamu yang paling mirip sama mami. Bahkan gak ada bentuk wajah kamu yang mirip papi," ucap Ashel pada anaknya. Anaknya itu hanya menggerakan bibirnya dan kembali tidur lelap.


"Tahu kamu kak, papi gak kamu anggap ya? Sedih banget. Abang kan mirip hidungnya sedangkan adik matanya yang mirip papi. Kamu mana? Kok gak ada miripnya sama papi," ucap Kavin seolah tidak menerimanya.


"Papi, meskipun kakak gak mirip sama papi, kakak pasti akan jadi kebanggaan papi," ucap Ashel yang menirukan suara anak kecil.

__ADS_1


"Iya sayang iya. Papi cuma bencanda kok, nanti kalo kalian sudah besar, kamu sama abang yang harus handel urusan papi di kantor. Biarin mami sama papi pensiun dan tinggal menikmati waktu berdua kami lagi," ucap Kavin.


"Iya mas. Mereka pasti akan jadi penerus kamu," ycap Ashel. Kavin mengangguk dan membawa istrinya ke dalam pelukannya. Ia memeluk istri dan anak keduanya juga.


"Papi sayang kalian semua. Terimakasih sudah berjuang bersama dan bertemu papi," ucap Kavin.


"Iya papi. Udah nih simpen si kakak lagi ke tempatnya. Dia yang paling kalem dari pada abang sama adiknya," ucap Ashel.


"Iya yang. Tapi kita gak tahu kalo mereka udah gede. Siapa yang beneran kalem," ucap Kavin. Ia perlahan menidurkan anaknya lagi ke kasur khusus bayi. Ia juga menutup mereka dengan kelambu khusus bayi. Takutnya ada lalat yang mengganggu tidur mereka.


"Ayang," panggil Kavin.


"Cuddle," ucap Ashel.


"Manja ya," ucap Kavin.


"Abisnya dari kemarin gak bisa manja manja sama kamu. Banyak mulu orang kesini," ucap Ashel.


"Can i kiss you mrs. Kavinder?" Tanya Kavin.


Ashel tidak menjawabnya. Wanita itu yang lebih dulu menarik tekuk suaminya dan menyatukan bibir mereka berdua. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak berciuman seperti ini. Kavin sangat merindukannya begitu juga Ashel.


Ia harus berpuasa selama empat puluh hari sampai istrinya ini benar benar bersih dari nifas. Tidak apa apa, ia bisa tahan. Paling paling dia akan bermain solo seperti biasa.


Saat sedang asik berciuman, tiba tiba anak kedua mereka menangis.



Gemecccccc


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2