My Little Wife

My Little Wife
Bab 185 : Pertanyaan sama


__ADS_3

RAMEIN. VOTE KOMEN DULU!!!


.


.


.


Happy reading♡


Kavin menatap datar ke arah Nadine. Setelah istrinya mengatakan jika ada orang lain disini, baru Kavin membuka matanya namun tidak melepaskan pelukannya di perut Ashel.


"Kav, ayolah makan ini. Apa kamu tidak merindukannya? Dan kau lepaskan Kavin," ucap Nadine menunjuk ke arah Ashel.


"Buta atau gak punya mata?! Yang meluk suami gue bukan gue," ucap Ashel. Kini kesabarannya sudah habis.


"Udah yang, kita ke kamar aja yuk. Aku mau dikelonin," ucap Kavin tanpa malu di depan semuanya.


"Hish," ucap Ashel. Ia menyikut perut Kavin.


"Sakit yang, kasar deh," ucap Kavin. Ia pun melepaskan pelukannya. Nadine langsung tersenyum lebar karena Kavin melepaskan pelukannya dari wanita yang tidak ia sukai.


"Ma, oma, Kavin ke kamar dulu. Jangan ganggu, Kavin paling gak suka di ganggu," ucap Kavin. Ia menarik tangan Ashel. Ashel hanya mengikutinya saja.


"Kamu mau kemana? Ini masih sore," tanya Sarah.


"Bikinin mama cucu lah, apalagi," ucap Kavin. Ia pun menarik lembut tangan Ashel dan pergi dari sana. Sebenarnya Ashel sudah dongkol dengan Kavin. Karena sepertinya apa yang dikatakan Kavin padanya tentang pertemanannya dengan Nadine itu bohong.


Entah mana yang harus Ashel percaya. Kepercayaannya kembali di goyahkan oleh ucapan Nadine hari ini.


Kavin membawa Ashel ke dalam kamarnya. Ia sudah menyadari perasaan istrinya ini, jika ia sudah kesal sekali. Jadi lebih baik Kavin membawanya ke kamar mereka.


Ashel masuk ke dalam kamar kemudian merebahkan tubuhnya di kasur sedangkan Kavin pergi ke pintu lagi untuk menguncinya. Jaga jaga siapa tahu ada yang masuk tiba tiba saat dia sedang melakukannya.


Kavin langsung ikut bergabung dengan Ashel di kasur. Bukannya tidur di sebelah Ashel, pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu malah tidur diatas dadanya.

__ADS_1


"IH, SAKIT! MAIN TIDUR DISITU. AWAS," teriak Ashel tak sengaja karena terkejut.


"Gak mau yang, ini empuk banget sumpah," ucap Kavin. Ia bahkan menenggelamkan wajahnya di antara dada Ashel.


"Sakit mas. Kamu mau buat aku mati gara gara sesak?" Tanya Ashel.


"Ih enggak!" Kavin langsung bangun dan berpindah tempat tidur. Ia menjadi tidur di sebelah Ashel dan dengan seenaknya dia menarik tubuh Ashel agar tidur miring. Sehingga kini posisi wajahnya berada tepat di depan dada Ashel.


Dasar mesum!


Kavin memeluk tubuh Ashel. Ia semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Ashel.


"Mas," panggil Ashel.


"Kenapa sayang?" Tanya Kavin lembut. Entah kenapa jantung Ashel tiba tiba berdisko ria saat mendengar ucapan lembut yang keluar dari mulut Kavin.


Tidak, ia tidak boleh luluh begitu saja. Ingat, Kavin masih menyembunyikan sesuatu darinya tentang Nadine.


"Sedekat apa sih kamu sama Nadine? Kayaknya gak cuma sekedar teman aja?" Tanya Ashel.


"Bukan gitu. Dari sikap Nadine hari ini, kayaknya kamu sama dia emang punya something di masa lalu," ucap Ashel.


Kavin menghela nafasnya. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi, mengingat seperti apa Nadine tadi.


"Nadine sial*n! Awas aja lo," umpat Kavin dalam hatinya.


Kavin terpaksa melerai pelukannya dan menaikan kepalanya agar sejajar dengan Ashel.


"Dengerin aku, aku gak pernah bohong tentang itu. Aku sama Nadine cuma teman, dan itu mutlak sampai kapanpun. Aku gak pernah menganggap dia lebih dari itu. Kamu harus percaya sama aku, jangan percaya sama apa yang kamu dengar hari ini dari mulut resenya Nadine," ucap Kavin.


"Ya gimana gak denger, orang dia ngomongnya di depan aku. Kan telinga aku masih berfungsi normal," ucap Ashel.


Ya salam! Maksud Kavin bukan seperti itu.


"Maksudnya, apapun yang kamu dengar hari ini tidak perlu kamu pikirkan. Sekarang aku suami kamu, kamu harus percaya sama aku, sama cinta aku dan cinta kita berdua. Kalo cuma aku yang percaya, apa hubungan ini akan bertahan lama? Tentu tidak sayang. Jadi aku mohon, sejak awal aku sering bilang sama kamu untuk tidak terprovokasi sama omongan orang lain. Aplagi sama omongan orang yang jelas jelas tidak suka dengan pernikahan kita. Paham?" Ucap Kavin panjang lebar.

__ADS_1


Seumur umur, baru kali ini ia bicara sepanjang ini. Bodoh, kenapa ia tidak menghitung berapa kata yang keluar dari mulutnya? Padahal ini adalah suatu kebanggaan untuknya.


"Jangan marah dong mas, aku kan cuma nanya aja," ucap Ashel purau. Air matanya sudah menggenang di kelopak matanya. Dan sebentar lagi pasti akan turun.


"Astaga yang, siapa yang marah sih? Enggak. Aku gak marah. Mana tega aku marahin istri aku," ucap Kavin. Ia pun menarik Ashel ke dalam pelukannya. Kenapa istrinya ini tiba tiba cengeng seperti ini?


***


Rafello terus berjalan mengejar cewek yang sejal tadi ribut dengannya. Sepertinya cewek ini sangat sulit di dekati. Entah jual mahal atau apa Rafello tidak tahu. Yang jelas adrenalinnya terpancing saat mengetahui jika cewek ini jutek dan terang terangan menolaknya.


Sungguh sesuatu untuknya.


Rafello mulai tertarik padanya saat mereka di super market tadi. Sepertinya dia akan mulai mencari tahu siapa dia.


Dia cukup menarik untuk Rafello.


Saat ini Rafello sedang mengambil mobilnya. Karena ia yakin gadis ini tidak membawa kendaraan apapun ke supermarket. Siapa tahu dia mau menumpang di mobilnya. Tentunya dengan paksaan.


Dugaannya tepat, gadis ini sedang berdiri di depan supermarket tadi, sepertinya ia sedang menunggu taksi.


Rafello menghentikan mobilnya di depan Ayu. Ia membuka kaca mobilnya.


"Naik," titah Rafello.


"Gue bukan babu lo. Lo gak bisa seenaknya nyuruh nyuruh," ucap Ayu ketus.


Rafello tersenyum smirk, "Lo punya hutang sama gue. Delapan ratus lebih. Dan setiap menitnya, bunganya nambah. Lo itung aja sendiri."


Sialan. Ternyata dia memiliki niat lain. Bodohnya Ayu tidak sadar hal itu.


"Yaudah gue ganti uang lo yang tadi dipake gue belanja. Minta nomor rekening lo," ucap Ayu. Ia mengeluarkan ponselnya.


Bukannya memberikan nomor rekeningnya, Rafello malah keluar dari dalam mobil. Ia berjalan mendekat ke arah Ayu. Tentu saja Ayu mundur saat Rafellk berada di depannya. Cowok itu bersandar pada mobilnya.


"Yakin bisa ganti? Uang yang gue kasih ke kasir tadi bunganya nambah lima kali lipat. Sejak selesai bayar tadi, kita udah habiskan waktu empat puluh lima menit di kali lima kali lipat. Totalnya pasti bakalan bikin lo syok," ucap Rafello. Ia berbisik di akhir kalimat.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2