My Little Wife

My Little Wife
Ep. 149 > Next


__ADS_3

"Lea, kau disini?" Mata Zico membulat sempurna, ketika ia melihat Azalea sedang berada didalam ruang rawat Papanya.


Lea yang sedang duduk sambil memainkan ponselnya di dalam ruangan itu langsung mendongakkan wajahnya, ke sumber suara.


"Kau sudah datang, ayo masuk. Kenapa justru termenung disitu?" Ujar Tante Ema pada Zico yang hanya berdiri termangu di ambang pintu. Lalu ia menyerahkan buah yang baru saja diambilnya dari kulkas pada Azalea yang memang sudah menunggunya diruang tamu. Tante Ema ikut duduk bersama Azalea di sana, bercengkrama seperti biasa. Seakan seperti tak terjadi apa-apa di antara mereka.


Zico, masih dalam keadaan bingungnya dengan tatapan yang tak dapat dialihkan dari kedua wanita itu, masuk perlahan dan ikut duduk bersama mereka yang kini sedang begitu sibuk mengobrol.


"Kalian.. Sejak kapan kalian-" Imbuh Zico terputus.


Tante Ema dan Azalea menoleh serempak.


"Kau mau buah?" Tante Ema mangalihkan pembicaraan. Sambil menyodorkan buah kepada Zico.


"Tidak." Jawab Zico sambil menggeleng.


"Kalau begitu, temani saja dulu Papa. Nanti kami menyusul." Lanjut Tante Ema.


*


Biandra, hanya bisa menatap ke layar ponselnya. Dengan perasaan kecewa. Karena masih belum ada kabar dari Azalea atas rencana yang pernah mereka bahas sebelumnya.


"Apa Zico tidak mengizinkannya melakukan itu?" Tebak Biandra.

__ADS_1


Biandra menoleh, ketika terdengar suara pintu ruang kerjanya dibuka. Saat melihat siapa yang datang, ia langsung memasang wajah malasnya.


"Kenapa kau tidak balas pesan Lena, bukankah waktu itu kau sudah setuju untuk menemuinya." Protes Tante Yuanita, sambil menarik kursi yang berada di depan meja kerja Biandra, lalu duduk disana.


"Ma.."


"Queen lagi?" Pungkasnya memastikan.


"Aku pasti akan temui Lena, tapi tidak untuk dalam waktu dekat ini." Tegas Biandra.


"Kapan? Kapan kau akan menemui dia? Sampai akhirnya dia menyerah untuk menunggu dan memilih laki-laki lain?"


"Ma, wanita di dunia ini masih banyak. Bukan cuma Lena!"


Biandra langsung menghela napas sambil mengusap kasar wajahnya.


Tok!Tok!


Setelah mengetuk pintu, sekretaris Biandra masuk kedalam ruang kerjanya.


"Maaf, Pak-"


"Apa meetingnya akan dimulai?" Pungkas Biandra.

__ADS_1


"Hah.." Ujar sekretaris Biandra sambil mengernyitkan keningnya.


"Ma, sepertinya kau harus kembali sekarang. Bian ada meeting." Bohong Biandra, ia pun langsung beranjak dari duduknya. Agar Mamanya cepat meninggalkan ruangan itu.


Sambil menunjukkan muka masamnya, Tante Yuanita ikut bangkit. "Pokoknya Mama nggak mau tahu, kau harus segera menemui Lena. Dan secepatnya menikah dengannya." Kekeh Tante Yuanita, setelah itu berlalu meninggalkan ruang kerja Biandra. Melewati sekretaris Biandra yang masih berdiri di ambang pintu sambil berdengus kesal.


"Pak, maksud saya bukan itu." Imbuh sekretaris Biandra dengan ekspresi bingung.


"Iya satu tahu." Biandra kembali duduk di kursinya.


"Saya hanya ingin menyerahkan berkas ini, dan perlu tandatangan Anda." Sambil menyerahkan sebuah berkas pada Biandra.


Biandra menerima berkas tersebut, membacanya sekilas. Setelah itu menandatanganinya.


"Pak, bagaimana dengan pertemuan dengan klien yang diluar kota. Apa sudah bisa di jadwalkan dalam waktu dekat?" Tanya sekretaris Biandra sambil menerima berkas yang sudah di tandatangani oleh Biandra.


"Nanti saya konfirmasi lagi." Imbuh Biandra.


"Baik, Pak."


Setelah kepergian sekretarisnya, Biandra kembali meraih ponselnya. "Apa aku harus menghubungi Zico?" Gumamnya seorang diri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2