
"Tolong, lepaskan aku, Van." Pinta Hana dengan wajah memelas.
Vanes hanya menatap datar Hana yang meronta-ronta minta di lepaskan. "Apa jaminan jika aku melepaskanmu?"
"Aku akan pergi dari rumahmu." Jawab Hana mantap.
"Itu saja? Tidak cukup bagiku, Hana."
"Lalu apa?"
Vanes mengeluarkan pisau yang sudah di bawanya dari rumah. Seringai jahat muncul ketika Hana ketakutan sambil menggelengkan kepalanya. Tanda jika jangan berbuat nekat.
Satu langkah kaki Vanes membuat Hana semakin di landa rasa takut yang mendalam. Hana tak ingin mati sekarang. Apalagi mati dengan keadaan di bunuh.
BRAK!
"VANESSA! JANGAN LAKUKAN ITU! INGAT TUHAN,VANES!"
Vanes memutar badannya. Ada Kenzo yang terengah-engah. Dan ada Dani dan Tirta yang meringis kesakitan seperti habis di hajar oleh Kenzo. Tangan Vanes langsung lemas hingga pisau yang tadi di pegangnya jatuh ke tanah.
"Jangan lakukan hal yang berdosa!" Sentak Kenzo.
"Dari mana kakak tahu jika aku ada disini? Bukannya belum pulang dari luar negeri?" Vanes ikut menyentak Kenzo.
Kenzo berjalan menghampiri Vanes. "Aku tahu kamu benci dengan Hana. Tapi, tidak begini juga caranya, Vanessa!. Aku tidak suka kamu melakukan hal-hal tadi."
Kemudian, Kenzo menarik tangan Vanes. Menariknya keluar dari gudang. Sebelum itu, Kenzo mengingatkan Tirta dan Dani untuk membebaskan Hana. Hal itu membuat Vanes kesal.
***
"Apa kamu tidak punya otak melakukan hal bodoh seperti itu?" Kenzo menatap dingin Vanes.
Yang di lakukan Vanes hanya menghela nafas. Dia sadar dengan kondisinya saat ini. Marah-marah terlalu beresiko bagi janinnya. Dan, dia tidak ingin kehilangan janin untuk yang kedua kalinya.
"Kamu dengar apa yang ku bicarakan?"
Vanes mengangguk.
"JIKA DENGAR JAWAB! JANGAN DIAM SAJA! AKU BICARA DENGAN MANUSIA, BUKAN DENGAN BATU!" Bentak Kenzo yang sudah tersulut emosi.
Vanes terenyak. Hari ini, Malam ini, Kenzo kembali membentaknya seperti malam waktu itu. Sama-sama dengan keadaan dia sedang hamil.
__ADS_1
"Terus saja membentak!" Tukas Vanes bersulut-sulut. Dia kemudian berdiri, keluar dari kamar.
Untuk malam ini, Vanes ingin tenang. Dia tidak ingin stres karena pertengkarannya dengan Kenzo.
***
"Hana! Ya Allah, kamu pulang, Nak." Suara Tasya menyambut kedatangan Hana yang kacau.
Hana memeluk Tasya. "Mama..Tolong..Mereka jahat."
"Siapa, Hana? Katakan!" Titah Dylan yang sudah emosi ketika melihat keadaan Hana.
Hana sempat diam. Jika dia mengatakan hal yang sebenarnya, pasti Dylan dan Tasya akan mendatangi Vanes. Dan jika sampai hal itu terjadi, pasti Vanes akan berbuat nekat lagi.
Hana hanya bisa menggeleng. "Enggak, Pa. Hana nggak tahu. Bahkan, Hana juga nggak inget sama mukanya. Hana takut."
Tasya memeluk Hana dengan erat. Selama lima hari ini, Tasya dan Dylan mencari keberadaan Hana. Namun, tidak ada hasilnya. Sekarang, Hana sudah pulang dengan keadaan yang kurang menyenangkan.
***
"Vanessa? Kamu masih marah?" Tanya Kenzo. Dia duduk di pinggiran tempat tidur. Kemarin malam, mereka berdua tidak tidur seranjang. Vanes memilih untuk tidur di kamar tamu.
Vanes hanya diam saja. Setelahnya, dia bangun dan berlari ke arah toilet. Mual-mual pagi. Kenzo yang khawatir mengikuti Vanes di belakang.
"Vanessa? Kamu sakit? Kita ke dokter ya?" Kata Kenzo bertubi-tubi.
Vanes membasuh mulutnya seraya menggeleng. "Masuk angin aja sampai di bawa ke rumah sakit."
"Masuk angin? Nggak biasanya kamu masuk angin. Kita ke rumah sakit aja ya?" Paksa Kenzo sambil memegang tangan Vanes.
Namun, Vanes menghempaskan pegangan tangan Kenzo. "Emang masuk angin."
"Ya udah, aku beliin obat buat kamu ya?"
Vanes menggeleng. "Enggak. Cukup kakak keluar dari kamar itu udah bikin aku enakan."
"Vanessa?" Nada bicaranya memancarkan tidak kepercayaan.
"Keluar! Atau aku yang keluar dari sini?"
"Oke, aku keluar."
__ADS_1
Kenzo keluar dari kamar tamu. Bingung. Itulah yang di rasakannya. Rasa bersalah menancap di hatinya. Dia menyesal karena kemarin malam telah membentak Vanes. Tetapi, dia juga merasa khawatir dengan kondisi Vanes yang tadi pucat.
Sesungguhnya, keadaan Kenzo masih belum stabil sejak tertimpa reruntuhan barang di proyek. Di tambah dengan masalah Vanes, kepalanya menjadi pening di buatnya.
Kenzo heran. Kenapa akhir-akhir ini rumah tangganya selalu ada masalah. Dia ingin rumah tangganya yang dulu. Tak ada pertengkaran. Hanya ada perdebatan kecil yang tak sampai besar.
***
"Ketie, ayo ikut, Mama."
Selena menarik Ketie yang semula berada di gendongan Juna. Ketie masih tidak mau. Anak kecil itu malah memeluk sang ayah dengan erat.
"Jangan kasar dengan anakku, Selena!"
"Ketie juga anakku, Jun!" Suara Selena naik satu oktaf. "Berikan Ketie kepadaku. Aku dan Ketie akan pergi."
"Pergilah jika kamu ingin pergi. Tidak usah bawa Ketie. Biarkan Ketie bersamaku." Balas Juna.
"Yang ada jika Ketie bersamamu adalah Ketie tidak terawat, karena kamu pasti akan selalu sibuk mengawasi Vanessa!" Ucap Selena menggebu-nggebu.
PLAK!
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi kiri Selena hingga membuatnya jatuh tersungkur. Juna menatapnya nyalang seperti ingin menerkam Selena hidup-hidup.
"Aku sudah bilang berapa kali padamu, Selena, Jika dalam pertengkaran kita jangan libatkan Vanes sebagai inti masalahnya!" Bentak Juna. Emosinya sudah sampai di ubun-ubun.
Sambil mengusap pipinya yang terasa panas, Selena membalas. "Tapi memang itu kan kebenarannya? Vanes selalu menjadi masalah di antara rumah tangga kita berdua."
"Cukup, Selena! Diam!"
"Sekarang, jawab yang jujur. Selama kita menikah dan memiliki Ketie, apa kamu masih mencintai Vanessa? Walaupun Vanessa sudah punya suami?"
Juna menganggukan kepalanya. "Ya! Aku tidak bisa melupakannya dari dulu. Aku terlalu mencintai Vanes."
"Juna! Seharusnya kamu sadar jika kita sudah punya anak! Vanes memiliki kehidupan sendiri. Kamu juga punya kehidupan yang harus kamu jalani!" Kata Selena.
"Aku tahu, Selena. Walaupun kamu tidak menasehatiku, aku tahu! Aku hanya belum siap melepaskannya." Balas Juna dengan tampang bersalah.
"Aku tidak peduli."
"Inilah yang aku takutkan."
__ADS_1
Selena mendongak.
"Kita bercerai saja."