My Little Wife

My Little Wife
Bab 168 : Kisah Lama


__ADS_3

Aku udah crazy up. Ramein vote komennya👌


.


.


.


Happy reading♡


Rafello terus terusan berbicara. Ia masih tidak terima jika Ashel hilang ingatan. Ia sudah berteriak teriak di dalam ruang rawat Ashel memanggil manggil dokter.


Beruntung Kavin cepat datang dan menghentikan teriakannya.


"Diem lo. Kasian Riana baru bangun," ucap Kavin. Ia menatap tajam ke arah Rafello. Kavin kira Rafello menjaga Ashel dengan baik namun ternyata anak itu berteriak sejak ia berada di luar ruang rawat Ashel.


"Bang, dia hilang ingatan bang. Masa gak inget gue sih? Mahluk tampan ini dilupain gitu aja," cerocos Rafello yang masih tidak terima.


"Ya gak harus teriak teriak juga kali. Ini rumah sakit bukan pasar," ucap Kavin.


"Ya abisnya kok dia lupa sama gue bang. Apa jangan jangan sama lo juga dia udah lupa?" Tanya Rafello.


Tubuh Kavin menegang mendengar ucapan adiknya ini. Jika ini benar, maka...


"Peluk," ucap Ashel pada Kavin. Ia sudah lelah mendengar perdebatan adik kakak itu sejak tadi.


"H-ha?" Otak Kavin mendengar ucapan Ashel. Apa tadi? Peluk?


Ashel melihat Kavin. Sepertinya pria itu syok karena tiba tiba dirinya meminta dipeluk. Karena tidak ada pergerakan dari Kavin, ia pun bangun perlahan dari tidurnya.


Membutuhkan cukup tenaga untuk bisa duduk seperti ini. Namun Ashel masih bisa melakukannya sendiri.


"Peluk Apin. Aku kangen sama kamu," ucap Ashel. Ia merentangkan tangannya pada Kavin.


Kavin sebenarnya masih bingung. Ucapan adiknya tadi bilang jika Ashel hilang ingatan. Tapi ini, Ashel bahkan mengingat nama panggilan Kavin khusus dibuat olehnya.


"Fello bilang kamu hilang ingatan? Bener?" Tanya Kavin namun Ashel tidak menjawabnya. Ia masih memeluk Kavin. Menghirup aroma maskulin yang sangat ia rindukan.


Kavin mengurai pelukannya karena Ashel tak kunjung berbicara. Ia menatap dalam ke arah mata Ashel.


"Aku siapa?" Tanya Kavin.


"Apin," jawab Ashel.

__ADS_1


"Kamu siapa?".


"Riana."


"Aku siapanya kamu?"


"Suami tapi masih calon," ucap Ashel.


"Jadi kamu gak hilang ingatan?" Tanya Kavin.


Ashel menggelengkan kepalanya sedangkan Kavin bernafas lega.


Rafello sendiri sudah berkacak pinggang. Bisa bisanya ia dikerjai oleh Ashel.


"Heh Siti! Ngapa lo pura pura lupa sama gue hah? Kalo lupa beneran gimana?" Tanya Rafello kesal.


"Emangnya kamu siapa? Masa iya kamu adik suami aku. Kok kayak gembel gini?"


"Astagfirullah. Mentang mentang gue baru bangun ngebo udah dikatain gembel aja. Gak ada orang yang baru bangun ngebo itu udah cakep sama rapi. Gak mungkin, mustahil," ucap Rafello.


"Usir dia. Dia berisik dari tadi. Aku keganggu sama dia," adu Ashel pada Kavin seperti seorang bocah.


Kavin tersenyum. Ia pun menyuruh Rafello pulang karena mama dan papanya sudah menunggu. Seharusnya mereka berempat sarapan bersama pagi ini. Namun Kavin sudah tidak tahan untuk segera datang ke rumah sakit.


Rafello dengan lapang dada pun keluar dari ruang rawat Ashel dengan perasaan gondok. Bagaimana tidak, baik Ashel ataupun abangnya sama sama membuatnya kesal. Padahal ini masih pagi.


"Bener bener itu calon pasutri gaje. Untung aja gue ganteng jadi gue sabar ngadepin mereka," ucap Rafello. Ia berjalan keluar dari rumah sakit menuju ke apartement baru yang dibeli oleh mamanya.


***


Kavin senang bukan kepalang saat Ashel sudah siuman. Ia tidak meninggalkan Ashel sejak pagi. Dan kini sudah siang hari, Ashel baru selesai makan siang dan minum obat.


Keluarga mereka sudah diberi kabar jika Ashel sudah sadar. Sarah dan Faraz datang lebih dulu pagi tadi namun mereka tidak lama karena Faraz harus pergi bekerja sedangkan Sarah harus mengurus keperluan suaminya.


"Sumpah yang aku seneng banget akhirnya kamu buka mata kamu juga. Aku hampir putus asa karena selama satu minggu lebih beberapa hari kamu gak buka mata kamu. Asik banget ya tidurnya?" Tanya Kavin. Saat ini ia sedang berdua bersama Ashel. Kavin ikut rebahan di brankar Ashel yang cukup lebar.


Jelas saja karena Kavin menyewa ruang vvip. Jadi semua peralatannya yang besar besar dan mewah.


"Ya gimana aku gak tidur lama, selama di sekap aku kan di siksa sama Dona," ucap Ashel. Ia bersandar nyaman di tangan Kavin yang ia jadikan bantalan.


"Kenapa sih kok kamu bisa kenal sama wanita psikopat kayak dia?" Tanya Kavin.


"Jadi dulu, aku itu sempet satu sekolah sama Dona waktu SMP. Kita temen tapi gak deket. Waktu SMP aku punya dua orang temen deket, namanya Ayu sama Liam. Liam cowok. Nah Dona ini suka sama Liam. Dan dikemudian hari Liam nembak aku Apin. Dia bilang suka sama aku dengan posisi ada Dona disana," jelas Ashel. Ia mulai menceritakan kisah lamanya pada Kavin.

__ADS_1


"Terus?"


"Ya Dona patah hati lah. Orang dia udah suka lama sama Liam," ucap Ashel.


"Jadi dia sekap kamu karena si Liam Liam ini?"


"Yang lebih spesifiknya karena Dona anggap kematian Liam gara gara aku. Padahal waktu itu aku berusaha selametin Liam dari tabrak lari. Tapi aku kalah cepat sama mobil yang nabrak Liam," ucap Ashel.


"Lalu, kenapa Dona punya asumsi kalo kamu yang bunuh dia?"


"Karena yang nabrak Liam itu papanya Dona. Aku masih ingat jelas plat nomor mobil yang nabrak Liam. Ternyata itu mobil papanya Dona. Dan papanya ini yang jadiin aku kambing hitam supaya dia gak disalahin Dona karena kematian Liam," ucap Ashel.


"Kenapa papanya Dona mau bunuh Liam?"


"Karena papanya Dona gak mau Dona jadian sama Liam. Soalnya menurut info yang aku dapet, papanya Liam sama Dona itu musuh bisnis gitu," ucap Ashel.


"Jadi yang bunuh Liam itu papanya Dona. Dan kamu yang disalahinnya karena kamu ada disana pas kejadian? Papa Dona putar balik fakta, gitu?"


Ashel menganggukan kepalanya.


"Gila sih, kamu disiksa karena kesalahan orang lain. Aku gak bakalan bebasin mereka gitu aja. Aku bakalan cari juga tentang keluarga Dona," ucap Kavin.


"Jangan. Itu udah jadi masa lalu juga Apin. Biarin aja berlalu. Toh sekarang aku gak papa kan? Masih hidup," ucap Ashel.


"Gak bisa lah. Enak aja. Pasti silet silet yang celakain kamu juga waktu itu gara gara dia kan?" Tebak Kavin. Ashel kembali mengangguk.


Ia sama sekali tidak dendam dengan Dona hanya saja ia sangat menyayangkan sikap Dona yang gegabah seperti ini.


Kematian Liam jelas bukan karena Ashel tapi karena direncakan papanya Dona.


Jika saja Liam masih hidup, mungkin Ashel tidak akan mengalami hal mengerikan seperti kemarin. Namun semuanya kembali lagi pada takdir tuhan. Mau seperti apapun Ashel harus menjalaninya bukan?


Tbc.


Jadi paham kan kenapa Dona mau nyelakain Ashel? Karena Liam. Liam teman Ashel waktu dia Smp dan Liam juga disukai Dona tapi ternyata Liam malah menyukai Ashel.


Liam mati karena ditabrak papa Dona yang tidak mau dona dekat dengan liam karena papa dona dan liam tidak akur karena masalah bisnis.


Gitu.


Paham yaaa.


See you. Ramein.

__ADS_1


__ADS_2