
Sebelum baca, bismillah dulu.
Area bukan buat anak dibawah 17 tahun ya wkwkw.
Rameinnnnnnnnnn.
Aku cuma up disini. Kalo ada cerita yg sama banget alurnya, bisik bisik sini. Soalnya dia lg plagiatin cerita aku.
.
.
.
Happy reading♡
Sebenarnya masih ada yang mengganjal di pikiran Ashel sebab ia belum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya pada Nando beberapa jam yang lalu.
Sayangnya saat Nando akan menjawabnya tiba tiba muncul bawahan Kavin yang memintanya untuk segera ikut. Mau tak mau Ashel harus menurut saja dari pada akan muncul masalah baru. Suaminya sangat sensitif terhadap pria lain yang berusaha mendekatinya.
Sesampainya di kantor suaminya, Ashel diikuti Jonathan untuk sampai ke depan pintu ruangan suaminya.
Namun saat sampai, ia dikejutkan dengan suara gaduh yang berasal dari dalam ruangan suaminya ditambah lagi sekretaris suaminya yang pingsan entah karena apa.
Ashel berusaha tetap berpikiran positif meskipun pendengarannya mendengar suara suara aneh apalagi suara suaminya yang menggeram cukup keras. Bukannya ruangannya ini kedap suara?
Bodoh!
Tentu saja tidak kedap suara karena pintunya tidak tertutup rapat. Ada sedikit celah yang terbuka.
Sebelum masuk ke dalam ruangan suaminya, Ashel lebih dulu meminta Jo untuk membawa Alin ke ruangan lain untuk diperiksa dokter.
Setelah urusan Alin selesai, Ashel pun membuka pintu ruang kerja suaminya. Alangkah terkejutnya ia saat melihat ada wanita lain yang duduk di pangkuan suaminya. Ditambah suaminya hanya diam entah karena apa.
Ashel tidak mengenal siapa wanita itu. Namun saat mendengar ucapan wanita itu Ashel sudah paham dengan apa yang terjadi. Apalagi saat melihat suaminya dengan penampilan yang acak acakan.
Tanpa ba bi bu lagi, Ashel langsung menjambak rambut Nadine agar tidak duduk diatas pangkuan suaminya. Itu hanya tempat miliknya.
Terjadilah adu jotos antara Ashel dan Nadine. Ashel bahkan menampar dan membogem wajah Nadine.
Ashel sempat akan memarahi suaminya karena menariknya begitu saja, namun saat suaminya menciumnya dengan agresif Ashel menjadi kewalahan dan tidak sempat berbicara.
__ADS_1
Terlihat Nadine ditarik oleh Josh keluar dari ruangan suaminya. Pintu pun tertutup rapat dan akan menjadi kedap suara karena sudah terdengar bunyi klik.
Ashel berulang kali mencoba melepaskan ciuman suaminya namun gagal. Bahkan kini dirinya sudah terlentang diatas meja kerja suaminya.
Semua barang barang yang ada diatas meja disapu bersih oleh Kavin dalam satu kali sapuan. Kini ruangan Kavin sudah seperti kapal pecah saja.
"Kamu kenapa mas?!" Tanya Ashel saat Kavin melepaskan ciumannya. Kini ciuman suaminya beralih pada leher jenjangnya.
Ashel mencoba mengimbangi permainan suaminya yang sangat agresif dibandingkan biasanya. Ashel sangat kewalahan sekali dibuatnya.
"Mas, kamu kenapa?" Tanya Ashel namun Kavin tetap menghiraukannya. Ia lebih fokus pada akitivitasnya di tubuh istrinya.
Ashel berusaha menahan desah*nnya saat suaminya memainkan miliknya. Dengan sengaja Kavin memasukan satu jarinya pada milik istrinya. Ashel sempat mengaduh kesakitan karena sebelumnya suaminya tidak pernah melakukan hal seperti ini.
Ashel mengeluarkan air matanya saat Kavin menambah jarinya disana. Rasanya sangat sakit sekali.
Terdengar bunyi robekan dan suara resleting yang dibuka. Ashel tak sempat menahan suaminya karena Kavin tidak memberikan jeda. Ia bahkan tidak melakukannya pelan pelan dan langsung menerobosnya begitu saja membuat Ashel menjerit kesakitan.
Kuku kuku jarinya bahkan mencakar bahu suaminya untuk menyalurkan rasa sakitnya. Ashel merasa yang sekarang sedang bersamanya seperti bukan suaminya.
Suaminya akan selalu bersikap lembut ketika mereka akan melakukan hal itu.
Tangisan Ashel kini berubah menjadi desah*n. Ia sudah tidak tahan lagi dengan permainan suaminya. Bahkan ia sudah dua kali keluar namun suaminya masih aktif menggarapnya dan tidak berhenti juga.
Kavin menulikan pendengarannya. Saat akan mencapai puncaknya, Kavin menyembunyikan kepalanya di leher istrinya. Ia menggigit kuat leher istrinya saat mencapai puncaknya.
Ashel hanya bisa memejamkan matanya menahan rasa sakit akibat gigitan suaminya. Rahimnya terasa sangat hangat saat ini.
"Maaf, aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri sayang," gumam Kavin. Nafasnya naik turun dan tubuhnya masih menimpa tubuh istrinya.
"Udah ya? Sakit mas," ucap Ashel.
"Maaf. Aku gak bisa berhenti, pengaruh obatnya terlalu kuat," ucap Kavin. Ia pun menaikan badannya dan menarik tubuh istrinya agar ikut bangun.
Perlahan Kavin menurunkan istrinya untuk berdiri. Tanpa di duga Kavin memutarkan tubuh istrinya sehingga posisi Ashel kini membelakangi suaminya.
"Kamu mau apa?" Tanya Ashel lemah. Tenaganya terkuras habis akibat perlakuan suaminya.
Kavin tidak menjawab ucapan istrinya. Ia justru menekan tubuh atas istrinya sehingga kini posisi istrinya menjadi menungging.
Tanpa menunggu lama lagi, Kavin kembali memasukan miliknya ke dalam milik istrinya. Lagi dan lagi Kavin bertindak tidak seperti biasanya.
__ADS_1
"Shiiittt, sem-phittt," umpat Kavin. Ashel meremas map yang ada di meja suaminya. Rupa map itu kini sudah tidak terbentuk lagi.
Sumpah demi apapun baru kali ini Ashel melakukan hal seperti ini dengan posisi berdiri seperti ini. Bahkan Kavin menambah tempo gerakannya. Meja yang menjadu tumpuan Ashel pun sedikit demi sedikit bergeser saking kuatnya Kavin mendorong miliknya masuk ke dalam milik istrinya.
Entah sudah berapa kali mereka mencapai puncak kenikmatan dari permainan itu. Berkali kali juga Kavin mengeluarkan benih miliknya di dalam rahim sang istri. Sedangkan Ashel hanya pasrah dibawah kuasa suaminya yang sudah terpengaruh obat itu.
Lima jam berlalu, semua penghuni kantor sudah pulang karena sudah jamnya untuk pulang.
Sedangkan Kavin baru selesai menggagahi istrinya dengan berbagai gaya yang ia inginkan. Beruntung istrinya menurut dan tidak banyak protes.
Saat ini Kavin sedang duduk diatas sofa panjang yang ada di ruangannya. Sedangkan Ashel duduk diatas pangkuan suaminya.
Baju yang semula dikenakan Ashel sudah tak berbentuk karena di robek oleh suaminya. Ashel masih mengatur nafasnya. Ia sangat lelah sekali karena tidak diberi jeda untuk istirahat.
"Cape yang?" Tanya Kavin pelan sedangkan Ashel hanya diam. Ia sudah tidak memiliki energi hanya untuk menjawab pertanyaan suaminya saja.
"Jangan tidur dulu, kita pulang sekarang. Aku ambil dulu baju buat kamu pake pulang," ucap Kavin. Ia pun melepaskan istrinya dari pangkuannya, otomatis miliknya juga keluar dari dalam milik istrinya.
Ashel meringis pelan saat Kavin menarik miliknya keluar dari dalam sana. Rasanya sangat perih sekali.
Kavin mencium kening istrinya cukup lama. Ia juga menarik jas miliknya untuk menutupi tubuh istrinya yang tidak terbalut sehelai benang pun.
"Maaf."
Hanya itu yang keluar dari mulut suaminya. Kavin akui ia cukup brutal sekali. Bahkan ia melakukan beberapa aktifitas yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya.
Mau bagaimana lagi, Kavin tidak bisa mengontrol dirinya yang sudah dipengaruhi obat sial*n itu. Sepertinya dosisnya sangat tinggi.
Kavin membantu istrinya memakai dress yang sengaja ia beli untuk istrinya. Beruntung saja dress itu ada, Kavin tidak menduganya jika dress itu akan berguna disaat seperti ini.
...Kasian Ashel...
Tbc.
Ommooooo
😭😭😭😭🙏 maap ya sel laki mu emang gitu.
Semoga dapet fellnya. Maapin kalo melenceng, aku gak paham soal ginian😔🤙 semoga suka ya.
__ADS_1
Vote komen dong, aku udah pusing bngt bikin part ginian🤕
Kalo ada typ maapin ya geysss.